Gempa Kemarin

Rabu 12 April 2012

Saat gempa kemarin terjadi saya sedang berada di kantor Pak Wan tempat ayah bekerja, bersama pak Firdaus yang baru menginstall People Roulette di Facebooknya. Saya sedang bermain Angry Birds Facebook sudah di level 23 mighty hoax. Sedang asyik-asyiknya gempa pun terjadi begitu dahsyat sehingga kami berdua harus meninggalkan bangunan ruko tersebut. Di luar kami lihat orang-orang sudah berdiri di depan rukonya masing-masing, para pengguna jalan sudah menghentikan mobilnya dan memarkir ketempat yang aman. Gempa masih terjadi. Pak Firdaus meminta hape saya untuk menelpon istri. Saya bilang hape ketinggalan di dalam ruko. Beliau mencari hape siapa saja demi istrinya. Akhirnya da seorang yang mau meminjamkannya tapi sia-sia, sinyal Telkomsel tidak ada. Sehingga beliau makin panik dan kembali ke ruko mengeluarkan motornya menuju rumah melihat istri.

Saya tidak punya istri, tapi juga harus pulang. Memacu motor berlawanan arah dengan warga yang panik menuju arah Bambi, saya ke arah laut kota Sigli. Di tengah kepanikan masyarakat tetap memberi saya jalan, karena memang jalan kota Sigli 2 jalur. Melihat kepanikan warga malah ada yang menangis, saya jadi teringat ibu. Makin kencang saya balap motor menuju rumah saya yang tidak jauh dari laut kota. Ibu saya tidak ada di rumah, adik saya yang paling kecil si Sableng sudah menangis sejadi-jadinya memanggil Ibu. Saya mencoba menelpon tapi jaringan tidak ada. Sempat saya bertanya kenapa komunikasinya di matikan di saat begini, saya juga sempat bernyanyi “mengapa terjadi perpisahan ini di kala gempaa, melebar sayapnya, mengapa kau pergi, di saat begini.. ohh telkomsel.

Masyarakat disini pun aneh-aneh ada yang bilang gempa gara-gara menang PA, adik saya yang sekolah di pesantren  muncul katanya ‘gempa ini terjadi karena banyak maksiat’  itu baru saya percaya karena ummat umat sebelum kita banyak di azab gara-gara berbuat maksiat kepada Allah. Muncul lagi pernyataan ahli astronomi, katanya kalau gempa di bulan ini. Akan terjadi perang di masa yang akan datang. Saja saja ada orang-orang ini.

Masyarakat kota sekarang ada yang berada di atap rumah, di lapangan volley dan lantai 2 rumah warga kaya (karena warga kaya rumah 2 tingkatnya lebih kuat), gempa terjadi lagi kali ini saya menikmatinya dengan melihat air got yang bergoyang-goyang membuat jentik-jentik nyamuk berhamburan. Kepanikan para ibu membuat saya juga berlari ke rumah tetangga yang besar memiliki 4 lantai. saya bertahan disana (walapun saya bukan pemain bertahan, saya penyerang), saya menunggu ibu yang belum juga nampak diantara warga.

Teriakan ‘air laut naik!’ dari warga yang tidak bertanggung jawab kembali terjadi, warga dari desa lain lari di depan desa kami, warga kembali panik dan mulai bertasbih, saya juga ikut. ‘meudo’a watei saket, meuratep watei gumpa. Ibu terlihat diantara warga dan beliau menuju rumah membungkus barang-barang beharga dan memasukkanya kedalam tas sekolah adik. Saya ikut membantu beliau. Kami sekeluarga memutuskan mengungsi ke tempat nenek di PIneung (kemukimam yang berada di pedalaman antara Bambi-Beureunun) kami pun bergerak 3 motor, melihat di jalan banyak sekali warga yang tumpah ruah menyelamatkan diri, berkumpul di simpang-simpang jalan, berbicara dengan warga lain, ini jarang terjadi di sini selama ini. Warga kalau tidak gempa seperti hidup sendiri-sendiri, sungguh hikmah yang luar biasa gempa ini, mempererat silaturrahmi. Saya juga mulai menggunakan hape saya, menelpon keluarga dimana-mana.

Bagi yang punya keluarga di desa, ini seperti hari raya. Karena silaturrahmi dengan keluarga di desa hanya terjadi di hari yang fitri, hari yang adha, hari pembagian harta dan hari yang perlu saja. Kalau tidak ada ke tiga hari itu meubulei tan leumah u gampong. Saya juga meliaht seorang gadis di desa yang dulu saya suka, dia anak rumahan, gak pernah keluar rumah kecuali sekolah, mengaji dan mengisi pulsa. Kini dia duduk di teras, masih cantik seperti dulu. Tapi sayang dia tidak mengenalku.

 

Penulis bernama Riazul Iqbal

Warga Tim-tim Blang Paseh, Sigli

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here