Diskusi FLP Bandung, Ketika Sastra Difilmkan

DSCN0189

Bandung- Mengingat maraknya film yang mengadopsi ceritanya dari novel, Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung mengadakan kegiatan ‘Dari Sastra ke Film’ di acara Pesta Buku Bandung 2014, Senin (3/3). Dalam diskusi yang dimulai pukul 12.00 wib itu, pemateri menyinggung banyak tentang perbedaan antara sudut pandang pembaca dan penonton. Sebab selama ini, paling sering terdengar adalah kekecewaan pembaca ketika menyaksikan cerita novel dalam bentuk film.

“Pembaca dan penonton itu berada dua karya berbeda. Generasinya beda, serta peminatnya juga pasti tidak sama. Kesan yang akan kita terima juga pasti berbeda, antara membaca dan menonton. Ketika membaca, aura yang muncul adalah ceritanya terjadi di masa lalu, sedangkan menonton kita akan merasakan kesan cerita itu sedang terjadi sekarang,” terang Hendra Purnama, penulis dan juga editor film yang menjadi salah satu pemateri kegiatan di Gedung Landmark, Braga, Bandung siang itu.

Ketika menyingkapi soal kualitas film yang diangkat dari sebuah novel di Indonesia, Hendra menuturkan bahwa dunia perfilman negeri ini masih jauh dari sebuah kesempurnaan. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh kurangnya teks dalam pembuatan film yang diangkat dari sebuah novel. Sutradara akan merasa kewalahan mencari celah untuk mengembangkan cerita dari lembaran kertas yang jumlah hingga ratusan tersebut. Oleh sebabnya, akan lebih baik lagi jika film-film di Indonesia mengadopsi naskahnya dari sebuah cerpen.

“Emak Naik Haji terbilang lebih maksimal, karena dari cerpen akan banyak celah yang bisa dikembang oleh sutradara, tanpa harus memotong bagian dari ceritanya,” singgung editor film yang juga anggota FLP tersebut.

Mengenai latar cerita dalam film Indonesia yang sering mendapat kritik kurang realita, M. Irfan Hidayatullah yang juga pemateri di acara tersebut mengungkapkan, bahwa sebenarnya kritik itu muncul karena kita ada di Indonesia. Dengan kondisi kehidupan yang sudah sangat diketahui oleh masyarakat Indonesia sendiri, maka akan langsung tampak latar cerita yang berbeda dari kenyataannya.

“Alasan mengapa film Hollywood tampak nyata, sebenarnya karena ketidaktahuan penonton dengan kondisi nyata di sana. Ketika pembuat film Hollywood menyorot Bali sebagai latarnya, kita juga melihat banyak keganjalan yang sebenarnya tidak ada di Bali,” jelas seorang dosen sastra dan penulis itu.

Di akhir acara yang ditutup dengan musikalisasi puisi tersebut, kedua pemateri menyampaikan pesan dari inti pembahasan diskusi. Film bukanlah sebuah sastra, melainkan gabung sastra dengan wahana yang lain. Film yang dikembang dari sebuah novel, sebenarnya bertujuan untuk menyampaikan pesan dari karya sastra yang lebih luas. Seorang penulis juga tidak harus berujung menjadi sutradara, sebab film dan novel adalah dua dunia yang berbeda.[]

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here