Benteng Jepang di Sumur Tiga

Setelah petualangan kecil di Iboih selama dua hari, kini saatnya untuk meninggalkan secuil surga di Teupin Layeu. Tujuan selanjutnya adalah Pantai Sumur Tiga, yang terletak di sebelah Timur dari Pulau Weh. Mulailah rombongan kami yang terdiri dari tiga buah mobil bertolak.
Singkat cerita, sampailah kami di Sumur Tiga. Pemandangan pantai biru kehijauan dihiasi dengan nyiur melambai segera saja menyambut kami. Subhanalloh, seperti yang ada di kalender-kalender. Namun ini dalam versi asli, berpuluh-puluh kali lebih indah dari versi kalender. Sejenak aku terpana menyaksikan lukisan karya Sang Maestro ini. Jejeran pohon kelapa di sana-sini semakin meneduhkan suasana.

Tampak undakan-undakan anak tangga menuju ke bawah. Halah. Ternyata untuk mencapai pantai kita harus menuruni anak tangga dulu, karena pantainya ada di bawah. Pantai putih berpasir yang berkilau itu seolah memanggil-manggilku. Namun, aku yang tak rajin berolah raga ini merasa malas. Turun sih tidak masalah, tapi naiknya itu lho. Jadi sementara anggota rombongan yang lain menghambur ke bawah, aku hanya santai-santai mengobrol di atas.

Aku mengobrol dengan papaku dan Bang Evan Boy, guide kami.
Bang Evan Boy menjelaskan bahwa sama seperti Iboih, Sumur Tiga juga menampilkan pesona sunrise yang luar biasa. Sudah kubuktikan di Iboih. Namun aku masih penasaran karena belum melihat sunset di Sabang ini. Aku yang sangat menyukai panorama sunset bertanya,
“Kalo mau liat sunset bagusnya di mana Bang?”
“Ooh, sunset, di Anoi Itam. Bagus sekali pemandangannya dari atas bukit, melihat panorama ke bawah. Di sana pasirnya warna hitam.”
“Oh, anoi itu artinya pasir ya Bang?” aku mengambil kesimpulan. Beliau mengangguk.

Jujur, aku ingin sekali pergi ke Anoi Itam, ingin menyaksikan sunset yang indah dan pasirnya yang hitam. Tapi mendengar kata ‘bukit’, nyaliku ciut kembali. Kayaknya harus meningkatkan stamina dengan rajin berolah raga dulu nih, buat persiapan kalo mau ke sana. I hope someday.“Di Anoi Itam juga ada benteng,” lanjut Bang Evan Boy.
“Benteng, Bang?” tanyaku penasaran.
“Iya, benteng Jepang. Sabang kan terkenal sebagai “Kota Seribu Benteng.”
Masuk akal sih. Sabang kan daerah yang strategis, makanya perlu dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Baik bagi Jepang maupun bagi sekutu, Sabang merupakan daerah yang sangat penting.
“Oooh,” hanya itu yang bisa kukatakan. Aku baru tahu tentang informasi ini, dan tiba-tiba semangatku timbul lagi. Segala sesuatu yang berbau “Jepang” tak pernah gagal untuk menyalakan bara dalam dada.
“Kalo mau ke sana masih sempat gak Bang?” tanyaku antusias.
“Wah, gak sempat lagi, Bu, waktunya udah mepet, kita kan harus ke kota Sabang lagi untuk makan siang dan cari oleh-oleh,” vonis dari Bang Evan Boy meruntuhkan segala harapanku. Sore itu juga, kami berencana untuk pulang ke Banda Aceh. Kalo kami ngotot mau ke Anoi Itam, dikuatirkan kami akan ketinggalan ferry Sabang-Banda Aceh.
Aku tertunduk lesu. Membayangkan harus ada kunjungan berikutnya ke Sabang membuatku loyo. Membayangkan pundi-pundi yang harus disiapkan, juga persiapan tetek-bengek lainnya, sepertinya tak mungkin diwujudkan dalam waktu dekat.
“Tapi di sini juga ada benteng, Bu.” Ucapan Bang Evan Boy membuatku bagaikan menemukan oase di padang pasir yang tandus. Tapi aku masih menyangsikannya.
“Masak sih Bang? Di sini? “
“Iya. Tuh, di situ!” Bang Evan Boy menunjuk sebuah bangunan dari batu.Aku mengernyitkan kening. Kok kayak gini bentuknya. Dalam bayanganku benteng itu sesuatu yang besar, terbuat dari batu yang kokoh, berbentuk melingkar dan ada lubang untuk mengintai musuh. Tapi benteng yang ini kok sederhana banget ya. Seperti rumah dengan atap yang melengkung.
“Isinya apa , Bang?” aku masih penasaran.
“Liat aja sendiri, Bu,” katanya membuatku tambah penasaran.
Ketika aku melongok ke dalam, perasaanku langsung campur aduk. Antara pengen ketawa, kesel, dan kecewa.

Teganya, teganya.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here