Brayeun, Petualangan nan Eksotis

FLP-ers di Brayeun Fotografi: Dara Hersavira
FLP-ers di Brayeun
Fotografi: Dara Hersavira
Rihlah FLP. Acara ini merupakan program kerja dari divisi Kaderisasi yang dilaksanakan setiap tahun. Begitu inginnya aku mengikuti acara itu, namun selalu saja berhalangan. Cuaca yang tidak bersahabat, acara keluarga, kesehatan yang kurang prima, adaa saja alasan yang menghalangiku. So, selama tujuh tahun bergabung dengan FLP Aceh, belum pernah aku mengikuti rihlah sekalipun. Ck ck ck.

Tahun 2013 ini, aku bertekad akan mengikuti acara tahunan ini. Apalagi tujuannya begitu eksotis: Brayeun. Pertama kali membaca kata ini, kupikir tempat ini bukan di Aceh, namun di luar negeri. Apalagi setelah melihat foto-fotonya di akun sesepuh Ferhat.com, aku benar-benar takjub. Pemandangannya menyaingi Jepang, keren banget. Waktu itu beberapa orang anak FLP refreshing ke Brayeun, secara dadakan saja. Bukan acara resmi dan tidak diekspos secara luas. Apalagi pake spanduk. No, no. Dan melihat foto-fotonya, sungguh membuatku iri. Pose narsis anak FLP dilatar belakangi danau hijau berkemilau. Endaaaaaang banget. Maksudnya: indah banget. Persis luar negeri. Tapi begitu melihat “sesuatu” yang menyempil di sudut foto, aku yakin bahwa lokasi ini masih di Indonesia. Apakah “sesuatu” yang membuatku begitu haqqul yaqin? Yaitu adalah bebek-bebekan yang menyembul di sisi kanan foto. Ealaaah.

Dan ternyata letak Brayeun dekat saja. Masih di “Banda Aceh coret” alias sekitaran Banda Aceh. Tepatnya di daerah Leupung, Aceh Besar. Dekat dengan Pantai Lhoknga. Hal ini menimbulkan bilur-bilur harapan yang bersemayam dalam dada. Ceileh. Insya Allah kapan-kapan bisalah ke sana, gak sulit dijangkau kok. Gak harus naik gunung atau nyebrang pulau dulu. Hehe.

Singkat kata, tahun ini, aku menancapkan azzam, aku harus ikut rihlah. Jadi aku mempersiapkan staminaku dengan baik. Makan kacang hijau, minum susu, dan tidak bekerja terlalu berat. Hm, maksudnya “tidak bekerja terlalu berat” itu apa ya? Aku bukan seorang kuli bangunan kan? Ya, aku punya hobi yang agak ekstrem: mencangkul. Sebenarnya, sebagai seorang pemerhati pertanian, hobi ini tidak aneh, malah sangat mendukung bukan. Sebetulnya bukan hanya mencangkul, tapi bahasa kerennya: gardening. Kalau sudah gardening, aku suka lupa waktu. Dan biasanya setelah itu aku akan terkapar kelelahan. Dan ujung-ujungnya pekerjaan lain banyak yang keteteran. Halah.

Jadi, menjelang hari rihlah, aku menahan-nahan diri untuk tidak berkebun. Padahal pohon seledriku sudah harus diberi pupuk; pohon jeruk limau juga harus dipangkas cabang-cabangnya. Tapi semua itu kutunda. Demi rihlah tersayang. Eheum.

Akhirnya pada hari rihlah, semua berjalan dengan semestinya. Kondisiku sehat, sedang tidak ada acara keluarga, dan cuacanya pun baik, walau agak sedikit mendung.
Pukul setengah sembilan, aku dijemput oleh adikku tersayang, Ade Oktiviyari. Sampai di rumcay sudah ramai rupanya. Para FLP-ers sedang mendengarkan petuah dari Liza Fathiariani seputar masalah blog. Dara Tangse berkulit putih ini memang dikenal sebagai “Narablog” alias orang yang eksis di bidang perblogan dan sering menjuarai berbagai kompetisi blog. Dia didampingi sang Pjs FLP Aceh yang bersemangat tinggi: Fitria Larasati.

Tak lama, labi-labi hitam datang, petua Chik eh salah petuah Liza terpaksa disudahi. Lalu kami mengangkut perlengkapan rihlah ke labi-labi. Ada galon Aqua, air mineral “Rencong”, ember, buah-buahan, baskom, pisau dan terpal. Owh, agak menghebohkan memang. Namanya juga mau piknik. Wajar aja kalee. Tapi aku melihat sesuatu yang membuatku berpikir keras: Nenas! Nenas aja kok heboh banget sih. Bukan apa-apa, masalahnya nenasnya ini masih bulat, belum dikupas. Kan repot tuh.

Setelah cewek-cewek masuk ke labi-labi dan duduk manis, barulah kuutarakan keprihatinanku.
“Eh, ngomong-ngomong, itu nenasnya belum dikupas ya. Kalau kupas nenas kan harus pake garam. Gimana, ada yang bisa beliin gak?”
Serentak kami menoleh ke belakang. Ke arah cewek-cewek FLP yang naik sepeda motor.
“Oh, minta tolong Isra aja,” kata Siti.
“Iya, Isra aja,” sambung Nariska.
So, kami berteriak kencang,”ISRAAAAA! GARAAAAAM!”
“APAAAAAA?” Isra balas teriak.
“GARAAAAAAM!” teriak kami lebih kencang lagi.

Kulihat Isra mengangguk-angguk tanda mengerti. Syukurlah, dia orang yang cepat tanggap.
Supir labi-labi pun tidak kalah tanggap. Demi mendengar suara cewek-cewek yang seperti orang histeris, dia pun memberhentikan labi-labi. Sepertinya ada “something wrong” nih, begitu mungkin yang ada di pikirannya. Syukurlah, terjadi kolaborasi yang baik antara supir labi-labi dan penumpangnya. Tanpa kata, hanya bermodalkan telepati.

Lalu kulihat Isra dan beberapa cewek lain turun dari sepeda motor dan masuk ke sebuah toko. Labi-labi pun menunggu Isra membeli garam. Aku takjub dengan rasa setia kawan sang supir labi-labi.
Setelah selesai membeli garam, kami pun melanjutkan perjalanan. Oya, yang menjadi teman seperlabi-labianku adalah: Liza, Nariska, Siti, Amalia Masturah alias Ira dan Junaidah Munawarah. Sedangkan aku tidak melihat siapa yang bertindak sebagai co-pilot alias asisten supir. Apakah Munawar, Reza, Ariel atau Doni? Aku pun lupa bertanya ke teman-temanku.
Ok lanjuut. Matahari masih menyembul malu-malu. Moga tidak hujan, pintaku dalam hati. Yah, hujan juga gak apa-apa. Nanti bisa bisa berteduh. Santai ajalah, Mala.

Jalanan kota di Minggu pagi tampak lengang. Jalan T. Nyak Arif ditutup karena digunakan untuk berolah raga. Dari Simpang Jambo Tape, belok kiri ke arah Simpang Surabaya.
Pembicaraan di lab-labi berkisar pada masalah kedokteran. Naris dan Siti sibuk bertanya pada seniornya, dr. Liza. Tentang mata kuliah, dosen-dosen dan kebijakan-kebijakan. Dan ternyata Ira juga anak PSIK (Keperawatan) yang notabene masih di bawah Kedokteran juga. Oh, tidak. Berarti hanya aku dan Junaidah yang non Kedokteran. Wah gawat, gimana kalau sampai Brayeun pembicaraan masih menyangkut masalah kedokteran. Terus aku dan Junaidah ngapain dong.
Syukurlah pembicaraan beralih ke masalah lain: masalah kejiwaan, narkoba, ganja. Lho, ini sih masih kedokteran juga kan. Tapi aku dan Junaidah bisa ikut nimbrung. Dan akhirnya pembicaraan beralih ke masalah pariwisata. Syukurlah.

Setelah sekian lama, akhirnya sampailah kami di Pantai Lhoknga. Mataku tak berkedip memandang “beautiful scenery” yang terhampar di hadapanku. Teringat saa-saat menyambangi pantai ini bersama Mbak Asma Nadia, Kak Cut Januarita, Fardelyn Hacky, Ferhat, dan lain bertahun silam. Mbak Asma begitu terpesona menatap horizon nun jauh di sana. Sementara kami yang warga Aceh merasa biasa-biasa saja.

(Bersambung)

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

4 KOMENTAR

  1. brayeun selain cantik juga adem
    lisa juga sering kesana, dulu bawa anak-anak sekolah perpisahan juga kesana, seandainya jalan menuju kesana lebih luas dan bagus, pasti lebih banyak pengunjung kesana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here