Gunongan, Tanda Cinta Sang Raja

| 28 June 2012 | 0 Comments

Pertama kali mengunjungi Gunongan tahun 1995, terus terang aku belum sepenuhnya mengerti tentang jati diri bangunan ini. Informasi yang kuterima hanya menyatakan bahwa ini adalah tempat bermain Putri Phang, istri dari Raja Aceh yang berkuasa pada waktu itu: Sultan Iskandar Muda. Tapi mengapa bentuknya seperti ini, untuk apa bangunan ini didirikan, sama sekali ‘bleng’.

Puluhan tahun berlalu, setelah napak tilas dan membaca buku sejarah, keberadaan Gunongan menjadi terang-benderang bagiku. Bangunan berbentuk gunung berwarna putih ini merupakan bagian dari suatu kompleks bernama Taman Ghairah, yang merupakan bagian dari taman istana Daruddunia Kerajaan Aceh Darussalam.

Daan, bangunan yang terbuat dari kapur ini merupakan hadiah dari Sultan Iskandar Muda untuk istri tercintanya Putri Phang. Adapun asal-muasalnya mengapa sampai memberi hadiah, ada hikayatnya juga. Tapi ini mesti ditelusuri kronologis peristiwanya. Yuk, mari kita longok sejarah.

Pada tahun 1613 dan tahun 1615 melalui penyerangan dengan kekuatan ekspedisi Aceh 20.000 tentara laut dan darat, Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Utara Melayu. Sebagaimana tradisi pada zaman dahulu, kerajaan yang kalah perang harus menyerahkan pampasan perang, upeti dan pajak tahunan. Disamping itu juga harus menyerahkan putri kerajaan untuk diboyong sebagai tanda takluk. Putri boyongan itu biasanya diperistri oleh raja dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan dari kerajaan yang ditaklukkannya. Sehingga kerajaan pemenang menjadi semakin besar dan semakin kuat kedudukannya.

Penaklukan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Melayu berpengaruh besar terhadap diri Iskandar Muda. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Namun karena Sultan sibuk mengurusi pemerintahan. Putri Phang sering merasa kesepian. Ia sering teringat akan kampung halamannya, Istana Pahang, yang dikelilingi oleh perbukitan.

Demi cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda membangun sebuah taman sari yang sangat indah untuk Putri Phang. Taman sari itu juga dilengkapi dengan Gunongan yang merupakan miniatur gunung.

Nah, udah jelas kan sekarang. Gunongan ini dibuat untuk mengobati kerinduan Putri Phang akan kampung kelahirannya yang terdiri dari perbukitan, Pahang. Dan Gunongan ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan taman. Segede apa ya tamannya.

Putri Phang seneng banget pastinya, mendapat hadiah seindah dan seluas itu dari sang suami tercinta. Oh romantis sekalee ternyata ya. Dulunya Gunongan ini dilengkapi dengan pemandian, tempat berenang Putri. Sayang sekarang pemandiannya udah gak ada lagi. Yang ada cuma batu bulat berwarna putih, tempat keluarnya air, kalo gak salah namanya lesung.
Aku berusaha membayangkan gimana senengnya Putri mandi-mandi sambil bercengkerama dengan dayang-dayangnya. Wah kok tiba-tiba jadi pengen mandi-mandi juga nih.

Aku memandangi bangunan putih di hadapanku dengan tatapan penuh kebanggaan. Tingginya 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan. Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunung. Kucoba memasuki gerbang itu. Tapi karena pendek dan kecil, aku harus menundukkan kepala. Ketika menaiki tangga juga kucoba membayangkan sosok Putri Phang. Mungkin beliau adalah seorang yang kecil dan ramping, karena aku agak kesulitan memasukinya. Ya wajarlah, beliau kan menikah dengan Sultan Iskandar Muda di usia yang sangat belia, masih belasan tahun.

Nah, gak jauh dari Gunongan, ada sebuah bangunan berbentuk segi empat, namanya Kandang. Menurut keterangan dari Pak Yahya, veteran yang merawat taman ini, Kandang ini dulunya merupakan tempat masak-memasak. Jadi sementara Putri Phang mandi-mandi, juru masak menyiapkan makanan. Setelah Putri selesai mandi, ganti pakaian dan lalu makan siang bersama. Rakyat yang berkerumun menonton juga diundang makan lho. Bagus juga ya. Gak cuma nontonin doang, tapi ikut menikmat. Yah, waktu jaman Iskandar Muda itu rakyat kan makmur banget, sejahtera, aman sentosa. Gak ada orang miskin.

Ada satu lagi nih, peninggalan bersejarahnya, Pintu Khop. Sesuai dengan namanya, Pintu Khop ini merupakan pintu gerbang berbentuk kubah yang dulunya menghadap istana dan menghubungkan taman dengan alun-alun istana. Terus terang agak bingung ya ngebayanginnya. Soalnya karena perluasan kota, Pintu Khop ini letaknya jadi terpisah ama Gunongan. Dipisahkan ama jalan. Padahal dulunya nyambung lho. Ya udah deh, gak usah dipikirin. Sekarang tinggal bagaimana caranya agar peninggalan bersejarah ini tetap utuh, bisa dinikmati oleh anak cucu nanti.

Sumber: http://agusbwaceh.blogspot.com/2009/02/taman-sari-gunongan-banda-aceh.html

Tags: , , , , ,

Category: Catatan Perjalanan

About the Author (Author Profile)

Mulla Kemalawaty atau Mala adalah seorang ibu rumahtangga dengan empat orang anak. Saat ini bergiat di Forum Lingkar Pena Aceh, dalam lini Kamoe Publishing House. Penyuka warna hijau ini ingin mengajak lebih banyak lagi ibu rumahtangga untuk berkecimpung di dunia tulis-menulis. Menulis itu bersedekah adalah motto hidupnya.

Leave a Reply