Sinisme, Skeptisme? Ayolah, Kawan…

Pursuit of Happiness

Oleh: Ade Oktiviyari

Sekilas saja…

Saya berada di Eropa dalam rangka exchange program yang diadakan olehStanding Committee on Professional Exchange International Federation on Medical Student Association. Program ini berjangka pendek, satu bulan penuh untuk berada di negara pilihan, kota pilihan, dan departemen pilihan. Kita dapat menikmati kehidupan koass sebagaimana yang diijinkan oleh rumah sakit setempat. Biayanya? Sistem ini menuntut kita untuk membayar sendiri, tapi kita dapat mencari sponsor, juga beasiswa dari fakultas atau universitas. Berapa biayanya? Sekitar 260 euro, atau sekitar 3,5 juta saat kami membayarnya. Dengan biaya sebesar itu, kami dapat menikmati seluruh hidup di daerah tempat domisili gratis. Saya merasakannya sewaktu berada di Debrecen, Hongaria. Kami mendapatkan tiket untuk transportasi selama sebulan penuh dalam kota, kupon makan, kamar asrama yang nyaman, dan bahkan wisata di akhir pekan. Percayalah, itu tidak mahal, setidaknya untuk ukuran Eropa. Tiket pesawat? Itu adalah masalah kreativitas semata, bagaimana mencari tiket promo, memanfaatkan link yang tersedia. Begitu saja. Sulit? Tidak, tapi memang perlu kemauan yang besar, sebab tantangan yang ada sangat besar. Mulai dari dana, para ‘penyiram semangat’, dll.

Kenapa saya bisa berada di sana? Tidak lain karena ijin Allah semata. Sponsor yang tiba-tiba bersedia mengucurkan dana, kemudahan-kemudahan dalam mendapat tiket promo, pengurusan visa, dll…

Tidak lain karena ijin Allah…

***

Dalam pengurusan segala macam hal yang berhubungan dengan keberangkatan ini, saya hampir menyerah berkali-kali. Sebagian karena hambatan internal, sebagian lagi karena hambatan eksternal. Yang paling menyedihkan–sekaligus menyebalkan–dari semua itu adalah para tim ‘penyiram semangat’ yang jago sekali berstrategi. Awalnya bertanya, lalu bersimpati, terakhir mengeluarkan statement,

“Kalau aku sih, enggak mau. Ngapain ke luar negeri. Mending di sini, selesaiin koass.”

“Hiii… ngeri gak di sana?”

“Aduh, ngapain? Buang-buang duit aja.”

etc.

Sahabat…

Ijinkan saya berkata. Jika kalian suatu hari mendengar seseorang ingin atau akan melakukan sesuatu, tolong jangan pernah katakan padanya, “Itu akan sia-sia saja!” atau “Untuk apa?! Apa hebatnya?!” atau “Lebih baik kamu tidak usah melakukan itu, lebih baik kamu melakukan ini.”, dan sebagainya sebagaimana kalimat di atas. Terlebih jika kalian mengatakan itu hanya karena kalian tidak bisa, dan tidak ingin orang lain bisa melakukan hal yang tidak bisa kalian lakukan.

Kepahaman, adalah bahwa ketika seseorang memutuskan sesuatu, maka dia telah mengambil keputusan itu dalam suatu proses berpikir yang rumit. Apakah dia meminta orang yang bertanya untuk selalu mengkritisi pilihannya? Ayolah, mengapa harus memadamkan semangat seseorang, padahal dia telah melewati banyak hal yang memadamkan semangatnya, tapi dia tetap bergerak maju?

Saya punya seorang teman, adik angkatan saya di FLP Aceh. Dia seorang yang semangat, bergerak maju dengan membina sebuah taman belajar di kampungnya. Dia ingin mengentaskan semangat kebaikan yang dimilikinya dan lingkungan di sekitarnya menjadi aliran energi yang luar biasa. Maka dengan seadanya, dia bergerak. Belasan anak, menjadi puluhan. Belum terlalu besar, tapi dengan semangat dan dukungan yang didapatnya, saya tidak heran jika dalam 5 tahun lagi, taman belajar ini akan merambah ke seluruh Indonesia.

Tapi dalam semangatnya, saya sering mendengar ceritanya tentang skeptisme, bahkan sinisme dari orang-orang yang melecehkan semangatnya. Bahkan saat saya mengajak beberapa orang teman untuk membantu di sana, saya juga mendapatkan kata-kata ‘penyiram’ ini. Saya termangu, bagaimana dengan dia? Padahal bahkan, apa yang dilakukannya adalah sebuah kebaikan besar. Sebuah jalan merentaskan bangsa. Dia telah, dengan berani, mengambil langkah melaksanakan fardhu kifayah. Mendakwahkan kebaikan melalui pendidikan pada anak-anak, generasi pemimpin masa depan.

Terkadang saya berpikir, mungkin tidak para penyiram semangat ini adalah orang yang ingin mendapat kesempatan yang sama? Yang sebenarnya ingin melakukan hal yang sama, tapi tidak memiliki keberanian yang cukup? Sehingga dia menghalangi orang-orang yang ingin meraihnya, agar kita semua bisa berdiri, pada kerendahan yang sama. Atau dia memang benar bersimpati, takut membayangkan dirinya pada posisi itu. Tapi apakah itu memang harus disuarakan? Dengan kalimat bernada skeptis?

Na’udzubillah…

Kawan, dibandingkan semua itu, dibandingkan semua kata-kata menyebalkan, ekspresi sinis itu, sikap tubuh yang tidak menyenangkan itu… bukankah tersenyum sedikit, mendoakan, dan berharap suatu saat Allah memberikan kesempatan yang sama, bahkan lebih baik, itu lebih berharga?

Pikirkanlah.

“Jangan biarkan siapapun mengatakan kepadamu
bahwa kamu tidak bisa melakukan sesuatu, kamu
punya impian, kamu harus melindunginya.
Ketika orang-orang tidak bisa mewujudkan keberhasilan,
mereka akan mengatakan bahwa kamu juga tidak
bisa melakukannya. Jika kamu menginginkan
sesuatu, maka kejarlah. Terus dan terus sampai
dapat.”
~Will Smith
(The Pursuit of Happiness, film)

NB: Kenapa saya menulis ini? Sebenarnya, tidak perlu repot-repot menuliskan ini. Pengkritik akan selalu ada. Orang-orang yang hanya bisa bicara saja akan selalu ada. Dan kita akan terus bekerja, terus bekerja, menyusun menara kebaikan setinggi-tingginya, hingga mencapai surga. Namun yang membuat saya ingin menuliskannya, karena bersamaan dengan saya menulis note ini, salah satu tokoh penting dalam tulisan ini sedang menuliskan tentang ‘kerikil-kerikil’ yang berserak di hatinya. Semoga saja bangsa ini tidak hanya bekerja, tapi juga dapat menjadi lebih positif dalam memandang sesuatu :)

Sumber: http://adeoktiviyari.blogdetik.com/2013/04/05/sinisme-skeptisme-ayolah-kawan/

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here