Category: Fiksi

Ketika Langit Berbicara 1

Ketika Langit Berbicara

Ketika langit berbicara/Dalam balutan mendung
Kemudian bercengkerama dengan tetesan hujan
Mengabarkanku bahwa terkadang kita memang harus membiarkan awan masalah
terlerai menjadi tetesan airmata/Agar gumpalan hitam tertumpahkan/Hingga awan menjadi kembali cerah

Merindu di Dua Tiga (Merindu Ine) 3

Merindu di Dua Tiga (Merindu Ine)

Itu, hari ke dua puluh empat bulan Mei Saat terdengar tangis yang menjadi senyummu Saat kisah baru akan hidup Malalui kasih sayang aku tumbuh Melalui cinta aku mengerti arti tawamu Melalui semangatmu aku tau...

Lelaki yang Selalu Berbagi 0

Lelaki yang Selalu Berbagi

Salahkan kalau kemudian aku mengatakan bahwa dia adalah pegawai terkaya di kantor kami? Bahkan bos kami saja, yang tiap liburan semester anak-anaknya selalu berlibur ke luar negeri, punya dua rumah mewah, punya mobil mewah untuk setiap anggota keluarganya, tidak melakukan seperti apa yang dilakukan lelaki itu yang bawahannya

Sekolahku Mati 0

Sekolahku Mati

Aku bocah merah putih duduk di bawah mentari Aku bocah merah putih berdiri di permukaan bumi Aku bocah merah putih berlari mengejar seutas mimpi menyongsong udara, membelah kali menerobos semak duri demi cita yang...

Cerita Ibu-Ibu Penggosip 0

Cerita Ibu-Ibu Penggosip

Ibu-ibu itu masih duduk dengan santai di bawah pohon mangga. Di temani cicitan burung dan udara sejuk pepohonan di sekitarnya, mereka (ibu-ibu itu) sedang asyik bergosip. Mulai dari menggosip pakaian baru yang ada di...

Memanggil Semangat yang Pergi 2

Memanggil Semangat yang Pergi

Jika semangat itu dicuri oleh kesibukan-kesibukan
Carikan lagi ia hingga dapat kembali kau genggam
Dan tempatkan lagi ia dalam ruangmu
Kunci ia dengan kedekatan pada-Nya
Penjarakan ia dengan niat ikhlas karena-Nya

Duka Sejuta Rupa 0

Duka Sejuta Rupa

Serentetan sesuara sumbang muntah dari moncong senapan
Kelabu halimun durhaka merongga menusuk relung harapan
Menyirat semua riak fragma terhunus reruncing di balik dipan:
Jeritan selinangan oase air mata dari butir-butir mata bertatapan

Kembang Api Beraroma Darah 3

Kembang Api Beraroma Darah

Kemudian melupakan fajar
meninggalkan panggilan
terlelap dalam nyanyian minggu yang nyaring dalam mimpimu
sementara jasadmu, jiwamu, kamu terkurung dalam tawa-tawa mereka.