FLP; Pengorbanan Tiada Henti

KAK CUT

Kali ini giliran Cut Januarita, ketua FLP wilayah Aceh periode 2002-2004, menceritakan FLP Aceh dimasa kepemimpinannya beberapa tahun silam. Bercerita bagaimana FLP Aceh terseok-seok hingga mampu berdiri tegak.

 

Menjadi ketua umum FLP wilayah Aceh merupakan amanah yang sangat berat, padahal sudah berupaya melakukan pendekatan personal ke berbagai pihak, untuk tidak dipilih. Sebelumnya saya menjadi anggota FLP Jogja kembali ke Aceh, lalu dihadapkan pula dengan amanah yang baru. Kecintaan saya pada dunia tulis-menulis dan keinginan membangun organisasi keislaman, membuat teman-teman bersemangat  pula menghusung menjadi ketua FLP wilayah Aceh.

Sejak terpilih dengan suara terbanyak, jadilah saya mengurus organisasi wilayah dengan masa kepengurusan dimulai dari sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Dua tahun menjalani pengabdian dengan kenangan yang  penuh suka dan duka. Program pun digulirkan untuk dapat menghantarkan FLP menghasilkan karya, meskipun sungguh itu tidak mudah.

 

Menyusun Target Kerja

Hal yang pertama yang saya lakukan di minggu pertama adalah menyusun kepengurusan 2002-2004. Teman-teman yang amanah, menduduki posisi penting. Sekretaris umum dan bendahara umum. Kepala bidang divisi fiksi, nonfiksi, dana usaha dan humas. Tidak ada protes untuk saling berebut jabatan.

Salah satu hal yang terberat adalah warisan hutang dari kepengurusan sebelumnya. Jumlahnya mencapai jutaan rupiah membuat saya dan pengurus harus memikirkan bagaimana harus melunasinya. Beban itu semakin berat untuk biraya meyewa sekretariat di Simpang Mesra. Kebersamaan selalu menjadi solusi yang baik, saat semua anggota bahu membahu menalangi hingga FLP Aceh tetap memiliki sekretariat.

 

FLP Award

Perhelatan Munas I FLP di Jakarta menghatarkan pengurus memiliki kesempatan untuk traveling. Saya dan Mutia Maida (almarhumah) dan Yani Sang wartawati, memulai perjalanan ke Jakarta. Yang jelas bukan dengan pesawat terbang, tapi Bus PMTOH yang memakan waktu berhari-harilah menghantarkan kami ke Jakarta. Jangan ditanya dari mana asal dananya, proposal yang menggantung entah dimana sempat menyiutkan semangat kami. Keyakinanlah membuat  semangat menyala kembali, uang pribadi pun harus dikeluarkan asalkan FLP Aceh memiliki utusan di kegiatan Munas I FLP. Tidak sedikitpun memakai kas bendahara. Pengorbanan dan perjalanan panjang yang melelahkan itu pun akhirnya membuahkan hasil. Untuk pertama kali FLP Wilayah Aceh mendapat penghargaan FLP Award sebagai FLP Terpuji. Capaian ini menjadi cambuk tersendiri agar dapat melahirkan program kerja yang baik.

Ada suatu program yang harus dijalankan dan dipertahankan. Buletin Risalah yang biasanya dicetak dalam bentuk majalah kecil, kali ini diganti dengan bentuk newsletter tanpa warna untuk dijual. Maklum dana organisasi hanya diperoleh dari iuran bulanan anggota dan pengambilan sepuluh persen dari karya buku atau tulisan anggota yang terbit dimedia. Almarhum Diana Roswita merupakan penyumbang dana terbanyak dari hasil royalti buku-bukunya yang rata-rata best seller. Profil beliau dijadikan andalan untuk memperkenalkan FLP Aceh keberbagai instansi dan media.

Anggota FLP yang  karya pribadi atau antologi terbit diberikan kesempatan tidak untuk dipromosikan dengan mengadakan launchig buku. Tempat acara selalu gratis yaitu dari satu mesjid ke mesjid lain. Semuanya karena usaha pengurus mampu melobi pengurus mesjid yang  simpatik dengan seni islami saat itu masih terbilang baru.

Melihat agenda kegiatan luar anggota FLP Aceh begitu padat, serta jarak ke sekret rata-rata jauh, pertemuan wajib anggota kami adakan 1 kali perbulan tiap minggu pertama. Semuanya diawali dengan kajian islami yang rata-rata mendatangkan pemateri dari luar. Setelah 1 jam siraman rohani, baru dibuat agenda rapat pengurus. Dan ini tidak membuat semangat kendor walaupun yang hadir kadang segelincir orang. Ketua harus bertanggung jawab membuka acara dan memposisiskan diri sebagai penganti kerja anggotanya yang lambat atau sama sekali tidak bekerja.

Kantin jujur (kajur) diluncurkan oleh divisi dana usaha untuk menemani  kedatangan anggota yang mau jajan kecil-kecilan. Ternyata lumayan berhasil untuk kalangan kita. Uang lainpun mudah diperoleh dari usaha membuat pembatas buku yang kertasnya langsung ditandatangani oleh penulis-penulis nasional.

 

Silahturahmi Pengikat Hati

Ketua adalah mitra kerja. Untuk mewujudkan itu semua, komunikasi berjalan hampir tiap hari. Pengontrolan dapat dilakukan melalui via telepon rumah untuk meluruskan agenda harian. Atau silahturahmi ke rumah anggota untuk saling belajar menulis. Maklum saat itu hanya 1 orang pengurus FLP yang memiliki HP (hiks). Tidak ketinggalan seharian jalan-jalan Idul Fitri dan Idul Adha ke rumah anggota dan bertandang ke rumah pemilik sewa sekret FLP.

Silahturahmi bagi tamu yang ingin jenguk sekret FLP, pintu tetap terbuka. Kadang mereka tidak tahu sekret  di atas loteng rumah. Walaupun denah keberadaan  organisasi ini kami buat di atas triplek tipis yang sedikit dipoles dan dipaku dipohon beringin dekat jalan.

 

Dedikasi Anggota

Penghargaan bagi anggota juga turut diperhatikan walau dalam bentuk kecil-kecilan. The best organizer, The bad organizer, The best writing dan the bad writing, diberikan khusus bagi anggota dengan piagam penghargaan. Ini memicu kesadaran anggota untuk berlomba-lomba memberikan yang terbaik bagi diri dan organisasi.

Kami berusaha pula membenahi administrasi surat masuk dan surat keluar. Bundel map tersusun rapi untuk memudahkan berjalannya nomer kegiatan. Laporan pertanggungjawaban 6 bulanan dapat dilaksanakan sebanyak 3x  selama 2 tahun. Dan LPJ bendahara masa itu yang dibuat Sri Salawati, SE merupakan laporan yang terbaik selama  13 tahun kepengurusan FLP Aceh berdiri. LPJ kepengurusan disatukan dalam bundel tebal, merupakan LPJ yang tersusun rapi yang pernah disimpan di sekret sebelum tsunami menerjang sekret baru FLP di kawasan toko Jeulingke. Rencana awal jadi panduan bagi kepengurusan berikutnya.

Tapi kami memiliki sisi lemah. Dalam masa perekrutan anggota baru FLP, peserta membludak, tidak sepenuhnya kami dapat mengkoordinir secara baik. Semuanya karena masa itu kita kekurangan SDM menulis.

FLP Aceh yang serba kekurangan, akhirnya mampu membayar hutang kepengurusan lama. Berkat bantuan dari Arun, Dinas Pariwisata dan Walikota yang mempercayakan FLP Aceh mampu melakukan suatu program kegiatan.

Sesuatu yang miskin tidak akan membuat semangat juang kita miskin pula. Dedikasi yang tinggi buat sahabat yang ikhlas berjuang dengan harta dan air mata. Terutama buat Mardiana dan Ferhat, orang tempoe doeloe yang masih mengontrol organisasi sampai 13 tahun. Hanya Allah SWT yang mampu membalas jerih payah sampai masih tegaknya FLP kini.

 

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here