Kekaguman Pada Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan

Oleh: Nazri Z. Syah Nazar

Permohonan cuti di kantor diterima, Alhamdulillah tidak mesti bolos. Tanpa buang-buang waktu lagi, saya pun langsung bergegas dari Kota Bandung menuju kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Awalnya rencana ini diusul oleh Bang Ibnu, anggota FLP Aceh sekaligus jurnalis utusan majalah Tarbawi yang sedang bertugas di Bandung dalam beberapa hari. Saya yang kemarinnya menghabiskan weekend untuk mengejar tugas-tugasnya Bang Ibnu, akhirnya setuju begitu saja dengan ajakannya mengunjungi Masjid Al Irsyad, atau lebih dikenal masjid Ridwan Kamil.

Kabar yang disampaikan Bang Ibnu, tidak jauh beda dengan rumor yang sering saya dengar. Masjid karya arsitek ternama di Indonesia ini, konon adalah  rumah ibadah terindah ke lima di dunia. Soal lokasi tepatnya, saya sendiri masih percaya dengan Bang Ibnu yang mengatakan letak masjid ini berdiri di Padalarang. Maka saya pun mengandalkan angkot rute Bandung-Cimahi, kemudian sambung lagi dengan angkot rute Cimahi-Padalarang untuk mengakses ke sana. Ketika kami menanyakan pada supir angkot pun, ia mengiyakan pernyataan tersebut. Alhasil, Rp 20.000 sukses menjadi rejeki sang supir. Tarif Bandung-Cimahi Rp 5000 /orang, Cimahi-Padalarang Rp 5000 /orang.

Di perjalanan Cimahi-Padalarang pak supir bercerita penjang lebar mengenai kemegahan tempat yang kami tuju. Jelas saja, hati kami pun semakin tidak sabar untuk sampai secepatnya. Apalagi menghitung jarak tempuh yang sekitar 2-3 jam perjalanan, kami langsung memperkirakan akan sempat menunaikan salat zuhur di sana. Soalnya, kami bergerak dari Kota Bandung sekitar pukul 09.00 wib. Memang sudah direncanakan, pokoknya kami harus sempat menunaikan ibadah wajib di tempat yang katanya termegah itu.

Namun belum juga hasrat menyurut, nahas pun bertidak lain. Angkot yang ditumpangi menurunkan kami tepat di gerbang masuk kawasan elit Kota Baru Parahyangan. Kata pak supir, letak masjidnya sekitar 1 kilometer masuk ke dalam. Saya pun langsung teringat, jika ke Kota Baru Parahyangan dari Kota Bandung, seharusnya kami bisa mengunakan bis kota khusus yang rutenya langsung. Tidak harus transit angkot, biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih murah. Sekitar Rp 6000 /orang. Ya, mau tidak mau, sekarang kami terpaksa berjalan kaki ke sana. Walaupun ada ojek dan taksi, jarak 1 kilometer bukan tantangan berlevel bagi kami yang sudah terbiasa dengan jarak puluhan kilometer.

***

Adem, bersih, dan nyaman, itulah yang kami rasa saat berjalan kaki. Suasana di bawah pepohonan yang rindang, membuat kami ingin berlama-lama di perjalanan. Monumen yang pertama menyambut kami adalah taman yang menjejerkan tiang bendera berbagai negara. Terasa asyik sendiri, ditambah dengan sejumlah jenis tanaman yang jarang ditemui di kota-kota besar. Ah, sebuah pengetahuan alam yang baru saya dapat secara dekat di tempat ini. Meskipun beberapa orang yang kami tanyakan tentang letak masjid Al-Irsyad katanya masih jauh. Cukup bisa dipercaya, sebab sudah 1 kilometer perjalanan kami pun belum menunjukan tanda-tanda keberadaan masjid tersebut sudah dekat. Maka kami pun memutuskan untuk beristirahat di halaman mini market sejenak.

Perjalanan kemudian kami lanjutkan. Dan baru sekitar 100 meter kami minggat dari tempat peristirahatan, aura kemegahan bangunan muncul di depan mata. Sebuah bangunan berbentuk kubus berdiri di atas lahan 1.100 meter persegi, dengan luas tanah keseluruhan 1 hektare lebih. Terdiri dari susunan tiga warna: hitam, putih, dan abu-abu, tidak menjadikan masjid ini kehilangan daya tariknya. Justru, ketiga warna itu menjadikan masjid ini tampil lebih cantik, modern, simpel, tapi tetap elegan dan enak dipandang mata. Kami berdua langsung takjub, ingin rasanya cepat-cepat masuk ke dalam, lalu menunaikan ibadah zuhur. Meskipun tidak sempat berjamaah, tapi salat yang kami kerjakan terbilang sangat kusyuk.

Jika dari luar, masjid ini didesain mirip dengan Kabah. Paling mengagumkan adalah penataan batu bata pada keseluruhan dinding masjid. Disusun sedemikian rupa, sehingga berbentuk lubang atau celah di antara bata solid, jika dilihat dari kejauhan, akan menghadirkan lafaz Arab yang terbaca sebagai dua kalimat tauhid: Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Selain memiliki fungsi artistik, lubang-lubang itu juga berfungsi sebagai ventilasi udara. Seperti yang pernah saya dengar sebelumnya. Menjelang malam, ketika lampu di dalam masjid mulai dinyalakan, sinar lampu akan menerobos celah ventilasi. Sehingga jika dilihat dari luar, tampak seperti masjid yang memancarkan cahaya berbentuk kalimat tauhid. Benar-benar sangat mengagumkan.

Dari dalam, interior masjid dipasang 99 buah lampu, sebagai simbol 99 asmaul husna. Tiap lampu yang berbentuk kotak itu memiliki sebuah tulisan nama Allah. Ruang salat di masjid yang mampu menampung sekitar 1.500 orang jemaah ini, tidaklah memiliki tiang atau pilar di tengah ruangan untuk menopang atap seperti kebanyakan masjid, sehingga seakan terasa begitu luas. Hanya empat sisi dinding yang menjadi pembatas sekaligus penopang atapnya. Celah-celah angin pada empat sisi dinding masjid berbentuk segi empat itu, menjadikan sirkulasi udara di ruang masjid begitu baik. Sehingga tidak terasa gerah atau panas di dalamnya meskipun AC atau kipas angin tak terpasang di dalamnya.

Ya pantaslah, National Frame Building Association memilih Masjid Al-Irsyad ini menjadi satu-satunya bangunan tempat peribadatan di Asia yang masuk lima besar, Building of The Year 2010. Perhelatan akbar dari para arsitek seluruh dunia tersebut, menempatkan Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan ini, masuk dalam kategori religious architecture. Paling membanggakan lagi, masjid rancangan Ridwan Kamil ini menjadi satu-satunya tempat peribadatan di luar gereja yang terpilih antara San Josemaria Escriva Church dari Meksiko, Tampa Covenant Church dari Amerika Serikat, Kuokkaia Curch dari Finlandia, dan Parish Church of St. Luke The Eva dari Prancis. Dan sebab keunikan bangunannya ini, jamaah yang datang pun tidak hanya didominasi warga Bandung dan sekitarnya, tapi juga dari Jakarta, luar Pulau Jawa, bahkan sampai mancanegara.

Bandung, 10 Febuari 2014 


Nazri Z. Syah Nazar

Penulis lebih dari 20 antologi, bergiat di FLP Wilayah Aceh dan tulisannya juga bisa dinikmati di debucatatan.blogspot.com. Penulis juga merupakan tim redaksi flp-aceh.net

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here