Ukhuwah, Khittah dan Eureka!

You may also like...

9 Responses

  1. azharterharu says:

    Menyimak dan menggarisbawahi kesiapan menerima kritik … Tidak mudah, namun kita sedang berjuang menjadi baik…

  2. fida says:

    Wah….roby sudah akan bertelur buku kedua ya. Sebelumnya selamat ya, semiga bukunya sukses.
    Tapi untuk postingan diatas, tulisan roby bernada menyindir dan sedikit merendahkan yang menulis aktif di blog ataupun yang puas dengan tulisan keroyokan. Menurut kakak itu gak bagus untuk kader FLP. Apalagi roby kan mantan ketua FLP. Harapan kakak, roby lebih bijak dalam tulisan.
    Terlebih, roby kan termasuk yang aktif juga menulis di blog. Soal tulisan keroyokan, kakak rasa dr. Rossa (walau bukan anggota FLP) juga sudah dianggap sebagai penulis, walau semua buku beliau adalah antologi. Gak ada yang salah soal itu ta menurut kakak.
    Soal kritikan tentang postingan sekte tertentu, kakak juga termasuk yang tidak nyaman didalamnya. Yang pertama, kakak masuk FLP untuk belajar dan bersemangat bersama dalam sastra, bukan kampanye anti sekte. Soal dakwah, tentu kakak/kami akan mencarinya di ruang lain. Bahkan tanpa perlu buka grup FLP kami sudah menjumpai semua tulisan dan kampanye anti sekte tertentu itu di timeline kami. Masak ketika buka grup FLP, lagi-lagi postingan itu yang harus kami baca.
    Terus terang, kami lebih bersemangat membaca posringan tentang ajakan menulis, ntah itu di blog..kompetisi atau apalah..ketimbang lagi-lagi membaca hal yang sama yang sudah kami lihat di timeline kami.

    Dan soal produktif, tidak semua berpandangan sama dengan roby bahwa “produktif itu harus punya buku” tanpa keroyokan. Tulisan-tulisan di blog seperti punya ferhatt, aslan, nazri, kak mala, dkk, juga termasuk produktif dalam pandangan kakak…bahkan sangat produktif.

    ^_^

  3. Hidup pembaca yang ngarep jadi penulis!
    Hidup Blogger!

  4. Fadhil Asqar says:

    Memang tulisan khas ala Anugrah Roby Syahputra. Partisipasi aktif dalam dunia dakwah dimana sikap tegas adalah kewajiban, memang membuat tulisannya pun tegas. Saya suka.

    Tidak menafikan bahwa dunia blog semakin berkembang, bahkan saya pun kian aktif didalamnya sebagai blogger pemula junior, semoga istilah ini bisa mewakili pemikiran bahwa saya sedang bingung mencari kelas terendah pemula dalam dunia blog. Terlebih dengan semakin mudahnya akses pada dunia digital, maka blog pun memiliki peranan besar dalam dunia literasi.

    Tapi saya sepakat dengan ide itu. Terlepas bagaimanapun aktifnya blog yang kita miliki, berapapun rank yang mungkin sudah atau ingin diraih, menerbitkan satu buku dengan nama sendiri sebagai pemilik utamanya adalah sebuah capaian wajib secara tradisional. Seperti saya masih mengganggap sebagus apapun ebook dan ebook reader yang ada, nilai dari buku tradisional, tak bisa tergantikan.

    Pencapaian lain dan prestasi didunia menulis digital, itu lain soal. Menerbitkan buku, atau berusaha menerbitkannya, adalah satu legitimasi capaian seorang penulis. Karya keroyokan, sangat bagus untuk memicu semangat menulis, tapi bukan sebagai pencapaian akhir. Bahkan seorang penulis yg sudah memiliki buku pun, masih berusaha menerbitkan buku berikutnya, bahkan menjadikan target kualitas yang lebih baik sebagai ‘nilai level’.

    Old Fashioned, mungkin. Tapi buku tetap memiliki nilai lebih.

  5. Maaf kak Fida, Roby tidak bermaksud merendahkan teman2 yg aktif ngeblog. Yang roby maksudkan adalah sosok yang menjadi ikon komunitas. Sebab bagaimanapun, sebuah komunitas membutuhkan figur jika ingin terus tumbuh membesar. Cobalah pikirkan, kalau ditanya orang2 di luar, siapa penulis FLP Aceh sekarang? Apa kita jawab? Orang2 yg mengundang FLP mengisi seminar dan pelatihan jg menganggap kita adalah orang yg sudah mumpuni menulis buku. Atau setidaknya rutin menulis media massa. Produktif di blog itu bagus, tapi di sana belum ada pengakuan publik. Kecuali Liza Fathiariani, kita akui Liza sudah begitu hebat. Toh, sebagian besar kita masuk FLP juga karena bermimpi menulis buku dan mengira pengurus FP adalah para penulis buku. Intinya, setidaknya dalam setiap periode adalah sosok2 yg “jadi” dalam berkarya.

    Soal sekte2an, setahu Roby kwn2 tak pernah mempostingnya di grup FLP, melainkan hanya di halamannya masing2. Kapan kakak menemukannya di grup FLP? Bahkan jikapun bahasan itu ada di FLP juga tak salah, memang kurikulum kaderisasi FLP juga membahas itu. Hanya saja menjadi tidak tepat jika pembahasan itu menjadi dominan. Dan mohon maaf ya kak Fida, dengan tidak mengurangi rasa hormat sama kakak yg ilmu dan pengalamannya jauh melampaui Roby, rasanya kurang tepat jika kakak melulu berharap hanya mendapatkan bahasan ttg sastra di FLP, sebab keislaman jg menjadi bagian tak terpisahkan dari kaderisasi FLP. Roby hanya mengingatkan apa2 yg menjadi pilar komunitas ini.

    Bila kalimat2 Roby terasa tak santun dan membuat banyak orang tidak berkenan, mohon nasehat2nya, Kak Fida. Beginilah gairah anak muda. Kadang tak diiringi dengan kebijaksanaan. Maka butuh masukan dari abang dan kakak yg lebih luas pandangannya.

  6. Kak Eki, Roby selalu mengapresiasi produktivitas kawan2 yg menulis di blog. Tapi yang Roby ceritakan ini soal simbol tokoh sebuah organisasi atau komunitas. Seperti apa yang ditulis Bang Sayed, maksud pesan Roby ini adalah bagaimana FLP memenuhi harapan dan ekspektasi publik. Mencoba berpikir dengan kacamata orang lain.

  7. Bai RUindra says:

    “Kami” membangun FLP Aceh bukan dengan mengantarkan seseorang menjadi penulis hebat dan menjadi terkenal. Ada sisi lain yang luput dari pandangan teman-teman sekalian, FLP Aceh mengajarkan orang untuk bisa menulis. Produktif atau tidak seseorang patokannya bukan di BUKU atau TERBIT di media, kita tidak pernah tahu kapan seseorang menulis dan kapan karyanya dibukukan dan dimuat media. Persoalan ini sangat pribadi sekali dan tidak ada promosi di setiap forum “sedang” akan “akan” terbit ini itu. Biarkan orang yang sadar sendiri bahwa kita penulis di FLP Aceh telah menghasilkan karya walau cuma di BUKU CATATAN HARIAN yang entah masih terisi sampai sekarang di RUMCAY tercinta.

    Saya tidak pernah merasa bahwa saya harus terbit buku di Penerbit BESAR dan jadi bestseller setelah berdiskusi setiap minggu bersama FLP Aceh. Saya hanya mengharap pembelajaran di sana, karena ini forum menulis bukan lembaga pemerintah bahkan partai politik.

    Tidak ada yang mengharamkan teman-teman terlibat partai politik mana pun. Tetapi di FLP Aceh, teman-teman ada calon penulis yang akan besar dengan karya-karya profesional tanpa menyudutkan perorangan.

    Terlalu naif rasanya ketika semua orang menganggap dirinya benar dan melupakan yang pernah dilakukan orang lain. Dulu sekali, hanya ada empat laki-laki yang benar-benar aktif, Saya, Arif, Ali dan Ferhat, walau kemudian ada Sayid FA dan Razak Pulo. Dan apakah kami melakukan sesuatu yang dilanggar syariat? Saya pikir teman-teman FLP adalah orang-orang pintar dalam berpikir dan menelaah suatu pemikiran, dan tentu saja pandai menuturkan kata dengan sangat sopan. Biar kami hanya empat bersama perempuan-perempuan hebat di sana, kami tetap menjunjung tinggi aturan ISLAM. Tidak ada perbedaan si A dan si B begini atau begitu, aliran ini atau aliran itu. Saya rasa orang yang berpikir demikian belajar lagi AGAMA dengan benar bukan hanya melihat orang dengan mata tertutup. Islam itu sangat universal, dan kalau pun ada anggota FLP Aceh yang hafal 30 JUZZ tidak perlu pamer ke mana-mana.

    Terakhir,untuk teman-teman semua. Tulis saja apa yang terpikir dan terdekat dengan Anda, tidak usah risaukan prestasi yang akan muncul setelah itu.

    Selamat menulis, FLP Aceh hanya sebagai wadah mempercantik karya teman-teman bukan perlombaan penerbitan BUKU atau jadi penulis Bestseller.

  8. Terima kasih untuk semua masukan bg Ubai.

    Namun, bang Ubai nampaknya salah tangkap pesan saya. Memang FLP tempat berproses, saya akui itu. Namun utk survive dan membesar, komunitas ini butuh ikon yg produktif menulis. Tidak harus semuanya, tapi kita butuh satu dua yg begitu. Jangan semuanya berpuas diri dgn apa yg dicapai selama ini.

    Saya jg tak pernah menuduh bg Ubai, dkk pengurus lama melakukan sesuatu yg dilanggar syariat. Silakan cek lagi. Saya sama sekali tdk ada menulis itu. Saya hanya mengajak kita mendiskusikan “Lampuki” karya Arafat Nur dari kacamata syariah. Itu saja. Kalau memang dalam perspektif resmi FLP, itu dibolehkan utk menulis model begitu, ya sudah. Yg penting ada sikap. Soalnya, jujur kita akui novel Lampuki mengundang kegelisahan publik yg sekaligus mempertanyakan identitas keislaman FLP.

Leave a Reply

%d bloggers like this: