Ukhuwah, Khittah dan Eureka!

BG ROBY 2

Kini giliran Ketua FLP wilayah Aceh kesembilan, Anugrah Roby Syahputra bercerita. Walaupun memimpin FLP Aceh terbilang singkat pada periode 2012-2013. Namun pria berdarah Sumatera Utara ini, telah memberikan kontribusi nyata bagi dunia baca tulis dan kebaikan FLP Aceh,

FORUM Lingkar Pena adalah kumpulan kisah. Masuk ke dalamnya bermakna mengabdikan diri untuk literasi. Tak hanya untuk mewujudkan cita-cita pribadi. Tapi juga demi menggapai misi kolektif untuk kemaslahatan bersama. Istilah heroiknya, inilah wasilah dakwah bil qalam. Menyeru dengan tulisan.  Inilah yang memotivasi –konon- tujuh ribu anggotanya di seluruh dunia dari Sabang sampai Jayapura. Mulai dari Mesir hingga Kanada.  Bermula di Jepang, berujung Australia. Semuanya punya nawaitu sama.

Akan tetapi, menapak jalan menuju cita-cita memang tak mudah. Selalu saja ada aral yang menghadang. Terkadang hanya sekadar butiran kerikil, namun tak jarang juga hempasan gelombang. Dan beragam rintangan itu menjalar di semua pilar komunitas ini: kepenulisan, keislaman dan keorganisasian. Sebagaimana yang pernah direkam Helvy Tiana Rosa dalam Matahari Tak Pernah Sendiri  dan Di Sini Ada Cinta. Begitu pula yang saya alami dan rasakan selama lima tahun lebih membersamai FLP Aceh, termasuk dalam kurun beberapa purnama menakhodainya.

Ada canda tawa, ada pula airmata. Namun saya pikir, ketulusan untuk menjadi bermanfaatlah yang membuat banyak orang masih terus eksis dan bertahan mengayuh bahtera ini.  Meskipun ombak mengganas, ia tetap tegar bagai karang. Sebab yang ada dalam benaknya hanyalah ridha Allah. Dalam logika manusia yang serba terbatas, tentu ini tidak masuk akal. Buat apa seorang penulis yang sudah produktif bersusah-payah membina orang lain untuk mahir menulis juga seperti dirinya? Bukankah ini menambah kompetitor? Subhanallah, betapa dahsyatnya sibghah-Nya sehingga tak pernah hal itu terlintas di benak para perintis FLP.

Bersama FLP, saya dapat lebih memahami apa itu ukhuwah. Di sini persaudaraan itu lebih aplikatif. Dari berbagai diskusi dengan teman-teman pengurus tiga periode, dapat disimpulkan bahwa teori Sigmund Freud itu benar. Manusia butuh dihargai –atau lebih spesifik- butuh diperhatikan.  Jangan pernah men-judge sebelum kita memahami. Jika seorang kawan tak menepati janji menghadiri diskusi atau rapat penting, jangan gegabah menghakimi. Nahnu du’at wala qudhat. Kita ini penyeru, bukan sang hakim.

Upayakanlah untuk memelihara baiksangka. Pikirkan alasan-alasan positif sehingga suasana hati kita selalu damai. Lalu cari tahu bagaimana kondisi yang sebenarnya. Berinisiatiflah untuk membangun silaturahim. Jaga komunikasi. Maidany mengingatkan kita dalam syair Dua Wajah, “Kawan, mungkin engkau lihat ia selalu tersenyum padamu, namun di balik senyumnya ternyata ia menyimpan air mata.” Ya, inilah skill yang harus dimiliki seorang pemimpin. Harus ada kepekaan. Harus sensitif. Seperti yang ditulis Anis Matta, “Para pemerhati yang serius biasanya lebih suka mendengar daripada didengarkan. Mereka memiliki kesabaran yang cukup untuk mendengar dalam waktu yang lama. Kesabaran itulah yang membuat orang betah dan nyaman menumpahkan isi hatinya kepada mereka.”

Yang pasti, kita tak boleh bersikap anti-kritik. Orang-orang yang berjiwa besar memahami bahwa kritik adalah tanda cinta. Semakin banyak kritik berarti semakin melimpah kasih sayang. Celakanya, tak semua orang mengerti perkara ini. Ada yang tak siap dikritik, namun ada pula yang tak siap mengkritik. Hanya bisa berbisik-bisik di belakang. Tidak pernah secara langsung menyampaikan nasehatnya. Padahal sesungguhnya ini adalah hal yang dianjurkan Nabi. Komunitas yang sehat adalah yang di dalamnya hidup iklim tausiyah. Semua saling mengingatkan bil haq, bish-shabr, bil marhamah. Berbeda sekali dengan Bani Israil yang kemudian dilaknat Tuhan karena orang-orang baiknya tak melakukan nahi munkar.

 

Kembali ke Khitthah

Itu persoalan membangun organisasi. Keislaman lain lagi ceritanya. Inilah perkara yang sedang marak digeliatkan kembali. Agar FLP mempertahankan warna aslinya, jatidirinya sebagai komunitas berasas Islam. Saya sangat terkejut sekali ketika ada teman-teman yang terpengaruh karena adanya “orang luar” yang tidak suka jika di website resmi FLP Aceh mencantumkan link gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Saya juga heran ketika beberapa teman-teman terprovokasi akibat propaganda “orang luar” yang menyebut komunitas ini sebagai Forum Penulis Anti Syiah hanya karena beberapa teman sering memposting tulisan-tulisan tentang penyimpangan sekte tersebut.  Lantas terdengarlah beberapa selentingan bahwa seolah-olah di FLP Aceh ada “faksi radikal”. Saya –konon- disebut-sebut termasuk di dalamnya bersama Bang Rh. Fitriadi, Hilal Nashruddin dan Ibnu Syahri Ramadhan.

Saya merasa sedih karena kita mudah sekali goyah oleh invasi pemikiran semacam itu. Oleh karenanya, kembali kepada khittah adalah kemestian. Merujuk pada modul yang menjadi manhaj kaderisasi resmi FLP Pusat, materi-materi akidah juga sangat ditekankan. Termasuk di dalamnya tentang ghazwul fikri dan hizbullah wa hizbusy-syaithan. Alhamdulillah, FLP Aceh sudah mengakomodir ini dalam proses open recruitment dua tahun terakhir hingga pembinaan rutin.

Tapi masih ada satu pertanyaan lagi. Ada semacam anomaly di FLP Aceh sebagaimana pernah diungkap  Thayeb Loh Angen dalam esainya yang berjudul Perang Sastra di harian Serambi Indonesia. Tentang Lampuki karya Arafat Nur yang oleh publik masih dikenal sebagai Ketua FLP Lhokseumawe. Banyak kritikan tentang cara pengungkapan dalam novel pemenang Sayembara DKJ yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Serambi tersebut. Ini soal sistem nilai. Tentang kredibilitas FLP.

Saya tidak ingin menghakimi karya yang sudah diacungi jempol juri-juri DKJ itu. Namun harus ada pertanggungjawaban dari FLP, apakah menulis dengan style semacam itu termasuk “mubah”?  Atau mungkin itu tergantung niatnya? Apakah mungkin untuk tujuan estetika –atau sekadar marketing- menjadi boleh? Ah, rasanya kelak aka nada pertanyaan dari anggota baru, “Lalu, apa bedanya kita dengan yang lain?”. Sungguh, bukan untuk mencari-cari pembeda. Saya hanya ingin kereta dakwah ini tak keluar dari relnya. Mungkin perlu dibuat semacam “pengadilan sastra”, setidaknya untuk menentukan batasan mana yang boleh, mana yang tidak.

 

Masih Pabrik Penulis?

Sementara itu, persoalan besar ada di pilar kepenulisan. Pasca syahidnya Diana Roswita dalam musibah tsunami 2004 silam, sulit sekali mencari bintang bersinar FLP Aceh. Alimuddin pernah meroket ke langit sastra Indonesia, menembus Kompas dan koran nasional lainnya serta memenangi lomba naskah drama nasional FTSI, tapi kini? Sementara yang lain banyak berpuas dengan menulis di media lokal atau antologi-antologi keroyokan. Bahkan ada yang sudah mencukupkan diri menulis di blog atau laman facebook saja.

Untung masih ada Beby Haryanti Dewi dan Rh. Fitriadi yang terus produktif. Merekalah ikon yang sanggup memelihara wibawa FLP sebagai komunitas penulis. Kalau tidak, mungkin FLP lebih tepat disebut sebagai komunitas pembaca yang ngarep jadi penulis. Lebih banyak rapat daripada berkarya. Lebih hebat jadi event organizer daripada jadi penulis buku.

Ah, sudahlah. Ini hanya semacam otokritik bagi kita bersama, agar lebih solid dan produktif.  Yang saya tahu, kekuatan persaudaraan itulah yang menjaga dan menguatkan kita. Persis ketika dulu bersama beberapa kawan, kita pernah “kehilangan” di tengah keramaian. Lantunkan saja do’a rabithah, maka ia akan kembali. Dengan ilham-Nya pula, kita dapat berujar seperti Archimedes, “Eureka!”

 

 

 

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

9 KOMENTAR

  1. Wah….roby sudah akan bertelur buku kedua ya. Sebelumnya selamat ya, semiga bukunya sukses.
    Tapi untuk postingan diatas, tulisan roby bernada menyindir dan sedikit merendahkan yang menulis aktif di blog ataupun yang puas dengan tulisan keroyokan. Menurut kakak itu gak bagus untuk kader FLP. Apalagi roby kan mantan ketua FLP. Harapan kakak, roby lebih bijak dalam tulisan.
    Terlebih, roby kan termasuk yang aktif juga menulis di blog. Soal tulisan keroyokan, kakak rasa dr. Rossa (walau bukan anggota FLP) juga sudah dianggap sebagai penulis, walau semua buku beliau adalah antologi. Gak ada yang salah soal itu ta menurut kakak.
    Soal kritikan tentang postingan sekte tertentu, kakak juga termasuk yang tidak nyaman didalamnya. Yang pertama, kakak masuk FLP untuk belajar dan bersemangat bersama dalam sastra, bukan kampanye anti sekte. Soal dakwah, tentu kakak/kami akan mencarinya di ruang lain. Bahkan tanpa perlu buka grup FLP kami sudah menjumpai semua tulisan dan kampanye anti sekte tertentu itu di timeline kami. Masak ketika buka grup FLP, lagi-lagi postingan itu yang harus kami baca.
    Terus terang, kami lebih bersemangat membaca posringan tentang ajakan menulis, ntah itu di blog..kompetisi atau apalah..ketimbang lagi-lagi membaca hal yang sama yang sudah kami lihat di timeline kami.

    Dan soal produktif, tidak semua berpandangan sama dengan roby bahwa “produktif itu harus punya buku” tanpa keroyokan. Tulisan-tulisan di blog seperti punya ferhatt, aslan, nazri, kak mala, dkk, juga termasuk produktif dalam pandangan kakak…bahkan sangat produktif.

    ^_^

  2. Memang tulisan khas ala Anugrah Roby Syahputra. Partisipasi aktif dalam dunia dakwah dimana sikap tegas adalah kewajiban, memang membuat tulisannya pun tegas. Saya suka.

    Tidak menafikan bahwa dunia blog semakin berkembang, bahkan saya pun kian aktif didalamnya sebagai blogger pemula junior, semoga istilah ini bisa mewakili pemikiran bahwa saya sedang bingung mencari kelas terendah pemula dalam dunia blog. Terlebih dengan semakin mudahnya akses pada dunia digital, maka blog pun memiliki peranan besar dalam dunia literasi.

    Tapi saya sepakat dengan ide itu. Terlepas bagaimanapun aktifnya blog yang kita miliki, berapapun rank yang mungkin sudah atau ingin diraih, menerbitkan satu buku dengan nama sendiri sebagai pemilik utamanya adalah sebuah capaian wajib secara tradisional. Seperti saya masih mengganggap sebagus apapun ebook dan ebook reader yang ada, nilai dari buku tradisional, tak bisa tergantikan.

    Pencapaian lain dan prestasi didunia menulis digital, itu lain soal. Menerbitkan buku, atau berusaha menerbitkannya, adalah satu legitimasi capaian seorang penulis. Karya keroyokan, sangat bagus untuk memicu semangat menulis, tapi bukan sebagai pencapaian akhir. Bahkan seorang penulis yg sudah memiliki buku pun, masih berusaha menerbitkan buku berikutnya, bahkan menjadikan target kualitas yang lebih baik sebagai ‘nilai level’.

    Old Fashioned, mungkin. Tapi buku tetap memiliki nilai lebih.

  3. Maaf kak Fida, Roby tidak bermaksud merendahkan teman2 yg aktif ngeblog. Yang roby maksudkan adalah sosok yang menjadi ikon komunitas. Sebab bagaimanapun, sebuah komunitas membutuhkan figur jika ingin terus tumbuh membesar. Cobalah pikirkan, kalau ditanya orang2 di luar, siapa penulis FLP Aceh sekarang? Apa kita jawab? Orang2 yg mengundang FLP mengisi seminar dan pelatihan jg menganggap kita adalah orang yg sudah mumpuni menulis buku. Atau setidaknya rutin menulis media massa. Produktif di blog itu bagus, tapi di sana belum ada pengakuan publik. Kecuali Liza Fathiariani, kita akui Liza sudah begitu hebat. Toh, sebagian besar kita masuk FLP juga karena bermimpi menulis buku dan mengira pengurus FP adalah para penulis buku. Intinya, setidaknya dalam setiap periode adalah sosok2 yg “jadi” dalam berkarya.

    Soal sekte2an, setahu Roby kwn2 tak pernah mempostingnya di grup FLP, melainkan hanya di halamannya masing2. Kapan kakak menemukannya di grup FLP? Bahkan jikapun bahasan itu ada di FLP juga tak salah, memang kurikulum kaderisasi FLP juga membahas itu. Hanya saja menjadi tidak tepat jika pembahasan itu menjadi dominan. Dan mohon maaf ya kak Fida, dengan tidak mengurangi rasa hormat sama kakak yg ilmu dan pengalamannya jauh melampaui Roby, rasanya kurang tepat jika kakak melulu berharap hanya mendapatkan bahasan ttg sastra di FLP, sebab keislaman jg menjadi bagian tak terpisahkan dari kaderisasi FLP. Roby hanya mengingatkan apa2 yg menjadi pilar komunitas ini.

    Bila kalimat2 Roby terasa tak santun dan membuat banyak orang tidak berkenan, mohon nasehat2nya, Kak Fida. Beginilah gairah anak muda. Kadang tak diiringi dengan kebijaksanaan. Maka butuh masukan dari abang dan kakak yg lebih luas pandangannya.

  4. Kak Eki, Roby selalu mengapresiasi produktivitas kawan2 yg menulis di blog. Tapi yang Roby ceritakan ini soal simbol tokoh sebuah organisasi atau komunitas. Seperti apa yang ditulis Bang Sayed, maksud pesan Roby ini adalah bagaimana FLP memenuhi harapan dan ekspektasi publik. Mencoba berpikir dengan kacamata orang lain.

  5. “Kami” membangun FLP Aceh bukan dengan mengantarkan seseorang menjadi penulis hebat dan menjadi terkenal. Ada sisi lain yang luput dari pandangan teman-teman sekalian, FLP Aceh mengajarkan orang untuk bisa menulis. Produktif atau tidak seseorang patokannya bukan di BUKU atau TERBIT di media, kita tidak pernah tahu kapan seseorang menulis dan kapan karyanya dibukukan dan dimuat media. Persoalan ini sangat pribadi sekali dan tidak ada promosi di setiap forum “sedang” akan “akan” terbit ini itu. Biarkan orang yang sadar sendiri bahwa kita penulis di FLP Aceh telah menghasilkan karya walau cuma di BUKU CATATAN HARIAN yang entah masih terisi sampai sekarang di RUMCAY tercinta.

    Saya tidak pernah merasa bahwa saya harus terbit buku di Penerbit BESAR dan jadi bestseller setelah berdiskusi setiap minggu bersama FLP Aceh. Saya hanya mengharap pembelajaran di sana, karena ini forum menulis bukan lembaga pemerintah bahkan partai politik.

    Tidak ada yang mengharamkan teman-teman terlibat partai politik mana pun. Tetapi di FLP Aceh, teman-teman ada calon penulis yang akan besar dengan karya-karya profesional tanpa menyudutkan perorangan.

    Terlalu naif rasanya ketika semua orang menganggap dirinya benar dan melupakan yang pernah dilakukan orang lain. Dulu sekali, hanya ada empat laki-laki yang benar-benar aktif, Saya, Arif, Ali dan Ferhat, walau kemudian ada Sayid FA dan Razak Pulo. Dan apakah kami melakukan sesuatu yang dilanggar syariat? Saya pikir teman-teman FLP adalah orang-orang pintar dalam berpikir dan menelaah suatu pemikiran, dan tentu saja pandai menuturkan kata dengan sangat sopan. Biar kami hanya empat bersama perempuan-perempuan hebat di sana, kami tetap menjunjung tinggi aturan ISLAM. Tidak ada perbedaan si A dan si B begini atau begitu, aliran ini atau aliran itu. Saya rasa orang yang berpikir demikian belajar lagi AGAMA dengan benar bukan hanya melihat orang dengan mata tertutup. Islam itu sangat universal, dan kalau pun ada anggota FLP Aceh yang hafal 30 JUZZ tidak perlu pamer ke mana-mana.

    Terakhir,untuk teman-teman semua. Tulis saja apa yang terpikir dan terdekat dengan Anda, tidak usah risaukan prestasi yang akan muncul setelah itu.

    Selamat menulis, FLP Aceh hanya sebagai wadah mempercantik karya teman-teman bukan perlombaan penerbitan BUKU atau jadi penulis Bestseller.

  6. Terima kasih untuk semua masukan bg Ubai.

    Namun, bang Ubai nampaknya salah tangkap pesan saya. Memang FLP tempat berproses, saya akui itu. Namun utk survive dan membesar, komunitas ini butuh ikon yg produktif menulis. Tidak harus semuanya, tapi kita butuh satu dua yg begitu. Jangan semuanya berpuas diri dgn apa yg dicapai selama ini.

    Saya jg tak pernah menuduh bg Ubai, dkk pengurus lama melakukan sesuatu yg dilanggar syariat. Silakan cek lagi. Saya sama sekali tdk ada menulis itu. Saya hanya mengajak kita mendiskusikan “Lampuki” karya Arafat Nur dari kacamata syariah. Itu saja. Kalau memang dalam perspektif resmi FLP, itu dibolehkan utk menulis model begitu, ya sudah. Yg penting ada sikap. Soalnya, jujur kita akui novel Lampuki mengundang kegelisahan publik yg sekaligus mempertanyakan identitas keislaman FLP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here