Nazri: Ketika Orang Suka dan Menghargai Karya Kita

Oleh : Aditya Fitrianto

pin-figur-nazri

“Ada sejuta harap yang masih menggantung, di setiap lembarnya yang tetap tersisipkan hakekat rasa syukur yang paling mendalam. Dan inilah kita dalam cerita perjuangan, kawan! Di balik keharuman aroma kopi di atas meja kehidupan, di bawah kolong langit ini.”

Sebuah potongan puisi dari seorang penulis yang lahir ke dunia pada 19 Oktober 1989, di sebuah daerah di tanah Aceh bagian utara, Panton Labu. Ia dilahirkan dari ketiga saudara terdahulunya, menyenangi berbagai jenis musik, hingga sempat pula menjadi seorang rapper, Nazri Zuliansyah.

“Saya pecinta semua jenis musik, tapi tidak POP melayu,” katanya.

Ia pernah menghabiskan waktunya memeras otak di 12 lembaga pendidikan, dan lalu lalang di sekitar 16 jenis pekerjaan, hingga kini ia sedang menjalani hari-harinya di salah satu kota besar di Indonesia, Bandung, dan membagi keahliannya di sebuah penerbit dikota tersebut.

“Sampai sekarang banyak huruf-huruf seperti bacaan di dinding piramida Firaun di dinding rumah nenek saya,” ungkap Nazri, sebagai bukti ia mulai menulis sejak pertama kali memegang alat tulis. Rasa bangga ia rasakan ketika karya tulisnya pertama kali dihargai oleh guru bahasa Indonesianya di sekolah dasar, Nilawati. Lalu seorang gadis yang pernah ia sukai, menghadiahinya ucapan terima kasih, berkat puisi kematian yang ia persembahkan.

Patah hati bukan penghalang baginya untuk berkarya, ia merangkak kembali di dunia kepenulisan. Di penghujung 2012, namanya resmi terdaftar di 18 komunitas penulis dan sastra. Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia menjadi tempat yang paling ia geluti saat itu.

“Saya dapat banyak ilmu di sana, dan akhirnya saya datang ke FLP,” ujar lelaki yang kerap kali menghabiskan waktunya bersama secangkir kopi ini. Di awal tahun 2013 Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh membuka pintu dan menyambut kedatangannya dengan hangat. Kesuksesannya itu benar-benar ia ingat dan ia pertahankan hingga sekarang.

Sampai puluhan antologi dan lomba telah ia juarai. “Membungkus Mimpi”menjadi buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh FAM Publishing di awal tahun 2013.“Kemudian disusul dengan antologi-antologi lain hingga jumlahnya pun saya tidak pernah tepat ketika menghitungnya.”

Dalam tahun 2013, sekitar lebih dari 20 buku antologi telah menjaring namanya. Beberapa di antaranya antologi se-Asia Tenggara. Cerpennya dimuat di harian Serambi Indonesia, puisinya dimuat di Samudra News. Menyabet juara 1 lomba puisi yang diadakan oleh Poetry Quiz, dan beberapa kali meraih juara 1,2,3 sampai 8 dalam ajang perlombaan cerpen, puisi, flash fiction, artikel, kata-kata mutiara, prosa liris, menulis surat, dan lain-lain.

“Sempat pula saya menjadi juri di beberapa ajang puisi yang diadakan oleh komunitas-komunitas sastra yang saya geluti,” tambah lelaki yang menginspirasikan dirinya dengan cara melihat, mendengar, merasa, dan meraba apa saja yang ia tulis menjadi karya.

“Anda kenal Alfiana Purba? Tentu saja tidak, karena dia seorang pengangguran. Lalu kenalkah Ferhat Muchtar? Tentu saja sebab ia memiliki karya. Dunia ini hanya mengingat dua hal, orang yang berkarya dan orang yang berjasa.”

Pencapaian yang paling berharga adalah ketika ada orang yang merasa suka dan menghargai hasil karya kita. Begitulah yang ia katakan ketika ditanyai mengenai harapannya.

“Saya sangat berharap ada yang mengiringi saya dalam dunia kepenulisan ini. Walaupun karya yang saya tampilkan tidak jauh lebih besar daripada orang-orang yang lebih dulu menghuni alam kepenulisan ini. Maka dari itu, saya sangat ingin mengajak teman-teman untuk bisa sama-sama membangun dan melahirkan karya-karya terbaik untuk Indonesia,” tutupnya.[]

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here