Cerita Ibu-Ibu Penggosip

Ibu-ibu itu masih duduk dengan santai di bawah pohon mangga. Di temani cicitan burung dan udara sejuk pepohonan di sekitarnya, mereka (ibu-ibu itu) sedang asyik bergosip. Mulai dari menggosip pakaian baru yang ada di pasar mereka, sinetron-sinetron yang baru mereka tonton tadi lama, catalog perhiasan dan kosmetik baru, sampai gosip suami-suami mereka. Semua tampak biasa, kerenyahan dan kehebohan menggosip itu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di sana walaupun itu masih pagi hari. Sebagian orang yang melewati pohon mangga itu, anak-anak yang hendak pergi ke sekolah, dan para pekerja yang berangkat pagi hari. Sudah biasa pemandangan itu di pagi hari.
Sekolompok ibu-ibu yang terdiri dari lima orang itu kini tengah memerhatikan salah seorang di antara mereka, ibu Ati namanya. Suasana sedang heboh saat melihat sisir yang dipamerkan ibu Ati dari suaminya kemarin malam.

“Eh, eh… coba liat itu…” pinta bu Juli, kepala geng ibu-ibu itu. Semua mata menuju pada tempat yang ditunjuk Bu Juli.

Tempat yang dilihat para ibu-ibu itu adalah sebuah rumah yang kecil milik keluarga kecil. Rumah Eci. Seorang ibu rumah tangga yang baru 4 tahun menikah dengan suaminya Fito dan baru mempunyai seorang anak laki-laki berumur 3 tahun yang bernama Rais.

Masih ingat dalam ingatan geng ibu-ibu itu dua bulan yang lalu rumah itu didatangi warga karena ketahuan sang suami sering menyakiti istrinya, Eci. Fito ketahuan menyiksa Eci dengan memukul dan menamparnya. Kekerasan rumah tangga itu telah berlangsung sejak satu tahun sejak mereka tinggal di kampung itu. Teriakan serta isak tangis Eci sering terdengar di dekat-dekat rumah mereka. Ditambah suara Rais yang menangis.

Sebelumnya beberapa tokoh kampung itu telah menegur Fito, tapi ia melanggarnya. Sampai akhirnya warga gerah dan mendatangi Fito. Sebagian warga yang kesal menyuruh Fito menceraikan Eci jika terus menyiksa Eci. Tapi Fito tidak mau. Pada akhirnya Fito berjanji tidak akan menyakiti istrinya lagi.
“Ah, sudahlah.. nggak usah merasa hebat, kamu di rumah aja sama Rais. Sudah! Aku mau pergi.”

Suara bentakkan Fito terdengar hingga ke telinga ibu-ibu ibu yang sedang duduk di bawah pohon yang tak jauh dari rumah mereka. Sepertinya Fito hendak berangkat kerja. Entahlah, apa yang ditanyakan atau dibicarakan Eci sebelum itu hingga Fito membentaknya. Ia masih tetap kasar pada istrinya. Kumpulan geng ibu-ibu hanya termangu melihat kejadian itu. Sesekali tatapan mereka berpapasan. Kemudian terdiam untuk beberapa saat.

“Ah, aku nggak habis pikir, bagaimana Eci bisa bertahan dengan Fito.” Akhirnya Bu Gisa yang menor itu angkat bicara.

“Iya, kasian Eci.” Wajah bu Ati tampak mengiba.

“Amit-amit deh suamiku kalau kayak gitu. Kalau sempat dia kasarin aku, aku gantung dia di pohon ini,” ungkap ibu Desi yang berperawakan gemuk besar itu, sang pemilik perkarangan dan pohon mangga yang menjadi markas mereka.

“Iya, kalau perlu sebelum digantung, kita gebukin dulu,” sahut ibu Juli penuh dukungan.

“Eh, maksud lo, suami gue mau lu gebukin?” jawab ibu Desi sewot.

“Lha, kan tadi katanya mau digantung, sekalian ajakan kita gebukin?”

“Eh…lo berani ya sama suami gue…” tantang bu Desi dengan wajah marah yang dibuat-buat dengan mata melotot dan tangan yang dikepalnya.
Spontan mereka semua tertawa melihat perangai bu Desi dan bu Juli.

***
Tanpa disangka-sangka, setelah pertemuan gosip mereka hari itu usai, pikiran Bu Juli masih tertuju pada Eci, ia memang punya nilai sosial yang cukup tinggi. Keesokan harinya ia mendatangi Eci. Selain menjadi ketua geng, Bu Juli adalah salah satu wartawan tetap yang mencari gossip baru untuk disuguhkan di markas geng mereka. Eci yang mendapat tamu di sore hari itu tentu begitu senang. Ia pun menyeduhkan sirup orange.

Memang dasar… beginilah ibu-ibu penggosip pasti langsung nyerocos kalau sudah dapat posisi untuk ngobrol. Bu Juli mulai mengajak Eci keadaan kampung mereka, bercerita tanaman, perhiasan, makanan, dan lain sebagainya. Kali ini Eci tampak sedikit kewalahan melayani tamunya ini, ia lebih banyak menjadi pendengar setia saja sambil memperhatikan Rais yang sedang bermain bola karetnya. Sampai pada akhirnya, bu Juli bertanya mengenai rumah tangga Eci.

“Eci, kamu tuh pintar. Kenapa nggak coba cari kerja aja? Kan kamu lulusan Kesekretariatan. Kenapa nggak coba ngelamar kerja di kantor dinas-dinas di sini?”
Eci mengulum senyum. Wajahnya tampak cerah dengan kerudung berwarna hijau muda yang dikenakannya.

“Suami saya nggak kasih izin kerja di luar, buk.”

“Hah? Yang bener aja? Itu kan sama aja mengekang potensi kamu.” Kali ini bu Juli mulai memanas.

“Hehe… ibu tenang dulu. Suami saya hanya melarang saya kerja di laur kok, tapi kalau kerja sambil di rumah boleh. Sekarang ini saya baru-baru mulai buat gorengan bu, saya titip di warung mbak Tati, itu di seberang simpang empat.”

“Oo… tapi kamu udah jualan gorengan? Kok ibu nggak tau ya?” cetus bu Juli sambil menggaruk-garuk kepalanya. Di dalam pikirannya berkecamuk sebuah penyesalan. Ah, kiranya geng asuhannya belum up to date dengan kondisi lingkungannya, kok bisa mereka ketinggalan mendapat berita aktivitas perkembangan Eci ini.

“Wah… kok kamu nggak promosi. Kalau ibu tau dari dulu, kan pasti ibu dah ajakin teman-teman ibu untuk beli gorengan kamu.”

“Hehe…iya bu, maaf. Saya lupa.”

“Oya, mang kamu nggak jelasin ke suami kamu kalau kamu pingin kerja keluar? Kan lumayan bisa nambah-nambah pendapatan suami kamu. Ketimbang jual gorengan, pendapatannya nggak seberapa besar.. Lagian kamu tuh masih muda, Ci. Banyak yang bisa kamu lakukan di luar sana. Ntar ibu bantu carikan juga deh kalau kamu mau.”

Eci kembali tersenyum, “Makasih banyak ya buk. Tapi saya juga memang nggak mau kerja di luar, Bu.”

“Lho, kenapa? Kan sayang ilmu kamu itu.”

“Saya mau menjaga dan merawat anak saya aja, Buk.” Eci memandang anaknya yang kini sudah di depan rumah sedang bermain polisi-polisian dengan anak-anak tetangga lainnya.

“Saya ingin pertumbuhan dan berkembangan Rais nggak sedikitpun terlewatkan oleh mata saya. Saya ingin ia mengenal Sang Penciptanya dari saya, selalu menyambutnya ketika ia pulang sekolah nantinya, menjadi teman bicaranya, dan menjadi ibu yang baik baginya.”

“Ohya, ilmu kesekretariatan itu nanti saya ajari ke Rais kalau dia sudah besar. Hehe…” sambungnya dengan tawanya yang renyah. Ia baru menyadari kata-kata yang keluar tadi itu keluar tanpa kendali.

Bu Juli hanya tertegun mendengar jawaban dari ibu muda yang baru berumur 22 tahun itu. “Ya, ya… kamu betul juga. Impian yang baik, Ci.”

“Hm..apa Fito masih menyakitimu, Ci?” kali ini pertanyaan Bu Juli semakin berat.

“Oh, nggak kok bu.” Jawab Eci membela suaminya.

“Tapi ibu melihat ia kemarin pagi membentakmu.”

Kali ini Eci hanya diam.

“Apa yang membuatmu bisa bertahan sampai sejauh ini, Ci? Padahal menurutku, Fito itu pemuda yang biasa-biasa saja, sepertinya ia bukan lelaki yang romantis, malah ia berani membentakmu seperti itu. Sedangkan kamu, kamu itu cantik… baik.”

Untuk kesekian kalinya Eci tersenyum elok. Beberapa detik ia terdiam. Bu Juli terus memperhatikan Eci.

“Mungkin inilah bentuk syukur atas titipan Allah pada saya, Bu. Doakan aja kami bahagia Bu ya…”
Kemudian Eci kembali tersenyum dan memandangi anaknya. Kali ini jawaban Eci membuat tubuh bu Juli kaku. Hanya mampu menelan ludah.

“Beruntungnya Fito mendapatkanmu, Ci. Semoga Fito bisa berubah.” Ungkap bu Juli sedikit kaku, masih mencoba mencerna perkataan Eci tadi yang tak ia pikirkan sebelumnya, dikiranya karena cinta, ternyata bukan.
Sekali lagi, Eci memamerkan senyumannya yang manis.
Esok paginya, berita itu telah menjadi sarapan pagi bagi teman-temannya yang kelaparan gosip terbaru.

“Ya Allah…beneran bu?”

“Subhanallah ya…sesuatu…” jawab yang lain.

“Aku sih, bertahan ma suamiku karena ia sering kasih aku surprise. haha…” sahut bu Ati.

“Ah, masak? Bukannya suami kamu selalu kamu suruh nurutin semua mau hatimu?” kali ini Bu Gisa yang menor ngeledek bu Ati sembari terkekeh.

“Oh, kita ajak Eci gabung ke geng kita yuk.” Usul ibu Desi tanpa menghiraukan ledekan Bu Gisa pada bu Ati. Semua pada melihatnya dengan wajah tak percaya.

“Yang bener aja buk. Mana mau si Eci gabung dengan kita yang kayak gini, yang ada gara-gara gabung ma kita suaminya makin suka marah-marah ma dia, hihi…”

Semua terkekeh. “Maksudku, kita jadikan dia sebagai penasihat kita…”

“Ye… yang harusnya jadi penasihat ya aku. Kan aku yang buat komplotan ini.” Cerocos bu Juli.

“Hehe..ok lah, ok. Siapa aje ane mah setuju-setuju aje. Eh, tapi tiba-tiba ada pertanyaan yang timbul dari cerita si Eci.” Kata bu Ati membuat yang lain penasaran. Semua mata tertuju padanya.

“Kalau kita jadi Eci, apa kita bisa bertahan seperti Eci?”

Senyap. Tak ada yang menjawab, semua sedang membayangkan di pikirannya masing-masing.

Darussalam, 10 Mei 2012, 18.13 WIB

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here