Lelaki Penggenggam Purnama

Ayahku ada di sana. Nun jauh di tengah laut. Bertarung melawan angin, bercanda dengan ombak. Menggigil diterkam dingin. Ayah pergi untuk menjemput rizki Tuhan. Menunaikan kewajibannya sebagai ayah yang sebenar-benarnya ayah.

Maka aku akan tetap di sini, menanti ayah. Setelah ia bertarung melawan rasa takutnya di tengah laut sana, aku ingin orang yang pertama kali dilihatnya adalah aku. Anaknya. Dan aku ingin meluruhkan segala letihnya dengan sebaris senyumku. Karenanya, aku tak peduli bila ayah pulang membawa ikan atau tidak. Lelaki paruh baya itu, telah memberikan segalanya.

Menanti ayah adalah moment yang paling aku suka. Setiap pagi, selepas shalat subuh. Aku telah berdiri di bibir pantai. Menenteng termos kecil. Ini adalah kopi kesukaan ayah. Lalu kutatap laut lepas dengan hati yang lapang. Lampu-lampu perahu nelayan kerlap-kerlip cahayanya di tengah laut sana. Saat itulah dadaku hangat, karena aku selalu menerka-nerka. “Ayah, kau ada di perahu yang mana”.

Lelaki penggenggam purnama, begitulah aku menyebutnya. Karena ayahlah yang mengajarkan aku bagaimana melawan rasa takut. Menumbuhkan rasa yakin  dalam diriku. Kau jangan pernah membenci laut, ucapnya suatu kali. Saat kutanya apa yang ia rasakan di tengah laut sana.

Rasa benci akan membuat jiwamu terusik. Kau harus bebaskan jiwamu, sehingga rasa takut tak akan berani menggoda. Pesan itu, kucoba benamkan dalam diriku baik-baik.

 

Tapi, apa yang kudapati sekarang. Meskipun setiap pagi aku menyambut ayah dengan pelukkan hangat. Menghirup aroma laut yang melekat di tubuhnya. Tapi aku masih gamang, benarkah aku anak dari lelaki penggenggam purnama ini. Sebab, belum kutemukan sebaris sifat ayah yang melekat dalam diriku.

Lihatlah diriku kini. Tekadku tak sekokoh ayah. Semangatku dengan mudahnya meluruh setiap kali bayang-bayang kegagalan menggoda. Aku malu menampakkan wajah pada mentari. Padahal hangatnya belum juga seberapa. Sehingga tertawalah dunia melihatku, yang mudah sekali terombang-ambing dengan riak yang kecil.

Maka hari ini, telah kubulatkan tekad. Bahwa aku juga bisa mengenggam purnama seperti ayah. Aku pun bergegas menuju pantai. Tak kupedulikan kulit-kulit kerang menghujam kakiku. Aku berlari seperti orang yang dikejar singa. Dari jauh kulihat perahu ayah akan segera melepas sauh.  kupercepat langkah. Dadaku pun kian bergemuruh.

Sesampainya di bibir pantai, ayah terkejut mendapatiku. Tubuhku telah basah bermandikan peluh. Bahkan aku sampai tanpa beralaskan kaki. Kini, ayahlah yang menerka-nerka maksudku.Seperti orang yang tersengat. Ayah benar-benar tak menduga apa yang baru saja didengarnya.

“Ayah, izinkan aku melaut!”

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here