MAGNET CINTA DARI ACEH

kopi
sumber: siary.wordpress.com

kopi
sumber: siary.wordpress.com
“Ayah, ibu aku berangkat ya.” Itu kata terakhir yang kuucapkan sebelum aku beranjak meninggalkan kampung halamanku yang jauh di pedalaman Sulawesi dan menuju kota Serambi Mekah untuk menggapai cita dan cintaku.

Setelah 5 hari aku dalam perjalanan aku menginjakkan kakiku ke Tanah Rencong yang selama ini aku dambakan. Berbagai perasaan berkecamuk di dadaku. Perasaan senang, cemas, sekaligus bimbang. Aku benar-benar tak tahu apa yang akan aku hadapi nantinya.

***

Masih teringat jelas ketika Ibu menentang keinginanku untuk melanjutkan studi ke Tanah Seribu Raja ini.

“Nak, pikir-pikirlah dulu. Di sana lagi konflik. Ibu ndak mau kamu kenapa-kenapa!” Kata ibuku cemas.

Kulihat Ayah hanya diam seakan bingung untuk memutuskan. Tapi tekadku untuk melanjutkan studi dan menuntut ilmu agama tak bisa ditawar lagi. Seakan sudah jadi harga mati. Titik!

***

Kulangkahkan kakiku di negeri yang sebelumnya hanya kuketahui lewat peta indonesia. Ah, Aceh, negeri yang beberapa puluh tahun silam juga terkenal akibat semangatnya dalam melawan penjajahan belanda. Ada tokoh wanita perkasa yang kerap diperbincangkan sebagai sosok wanita teladan, Cut Nyak Dien. Ada juga Teuku Umar dan Teuku Cit Di Tiro. Berjuang tanpa kenal lelah. Berjuang untuk rakyat Aceh sampai maut di ujung tenggorokan. Betapa inginnya Aku menjadi lelaki segagah beliau. Hm… bukan berarti di tanah kelahiranku juga tak ada pahlawan.

Pahlawan yang selalu muncul di uang seribu itulah jagoan tanah kelahiranku; Pangeran Patimurra. Namun negeri ini bak memiliki magnet yang mampu menarik hatiku sampai ke pembuluh-pembuluh nadi terkecilku.

Berbekal semangat yang tak terkalahkan aku memasuki negeri ini. Sesampai di terminal aku sibuk mematut-matut diri. Aku memperhatikan pakaianku serta semua barang bawaanku. Celanaku yang bolong-bolong telah kujahit kemarin. Yah itulah aku, memakai celana jeans yang sudah 5 tahun setia menemani setiap kegiatanku. Dengan angkutan umum yang biasa disebut labi-labi aku menuju sebuah wisma murah yang kebetulan aku ketahui dari salah seorang penumpang yang duduk di sampingku.

Aku masuk ke kamar sempit berukuran 2,5×2 m itu dan langsung merebahkan badanku. Letih dan remuk semua sendi-sendiku mengingat kembali perjalanan panjang yang telah kutempuh. Kembali aku menerawang apa yang sedang dilakukan Ayah dan Ibuku di pedalaman sana? Apakah aku sanggup bertahan di sini? Di negeri yang sama sekali tidak kuketahui.

Tiba-tiba azan berkumandang membuyarkan lamunanku. Buru-buru kuhilangkan semua kegundahan yang merasuki dada.

Aku mengambil wudhu dan shalat Isya. Kupanjatkan doa-doaku pada-Nya dan berharap Dia selalu melindungi keluargaku di sana. Tak lupa pula aku berdoa agar aku dijadikan lelaki yang tegar dan tangguh dalam menghadapi problematika hidup ini serta menanggung semua konsekuensi atas pilihan hidupku. Aku mau segigih dan setangguh Teuku Umar yang tak kalah oleh kompeni Belanda. Yang memerangi kejahatan dan kebatilan. Aku mau segagah Pattimura yang walau seorang pangeran tetap turun ke medan perang.

Kenapa kita baru jadi anak pejabat saja sudah sombong selangit. Benar-benar tak habis pikir.

Dengan alasan-alasan itulah aku memilih terdampar di sini.

Di luar sayup-sayup aku mendengar teriakan semangat beberapa laki-laki yang sibuk menonton bola. Menonton bola ditemani secangkir kopi hangat. Teriakan semangat mereka lebih keras dan menggema ketika jagoan yang mereka idolakan membawa kemenangan. Lalu aku membayangkan “mungkin teriakan para pejuang aceh zaman dulu lebih kuat dari teriakan tadi. Subhanallah pemuda aceh benar-benar menabjubkan,” pikirku

Dari teriakan-teriakan bayangan yang ada di kepalaku membuat aku semakin mencintai Tanah Rencong ini dan semakin semangat untuk menjadi bagian darinya.

Aku membayangkan besok pagi aku akan menemukan keajaiban-keajaiban lainnya. Sampai tanpa sadar aku terlelap dalam khayalan akan aceh keesokan harinya.

Suara azan subuh membangunkanku. Walau dingin menusuk tulang namun kupaksakan untuk bangkit dan berwudhu. Buru-buru kukenakan sarung usang yang sempat diselipkan ibuku sebelum aku berangkat. Tergopoh-gopoh aku menuju mesjid di samping wisma. Aku sungguh tak ingin ketinggalan shalat berjamaah.

Sesampai di mesjid aku kaget tak terkira. Berharap shaf memenuhi mesjidnya. Tapi ternyata hanya satu, dua, tiga. TIGA ORANG SAJA! Itupun diisi oleh aki-akinya.

Tak urung hati bertanya. Kemana pemuda yang semalam? Kemana pemuda yang bersemangat? Kemana pemuda yang semangat juangnya menggoncangkan negeri Belanda.

Sepulang dari mesjid aku sungguh terpana melihat para pemudanya yang masih tertidur lelap di samping tumpahan kupinya. Berlahan aku berpikir. Apa ini yang kukejar sampai aku harus menyeberangi lautan demi menjadi pemuda yang berguna. Pemuda setangguh para pejuang.

***

Aku masih berprasangka baik. Mungkin hanya sebagian yang begitu. Dengan sejuta harapan di dada akhirnya aku menuju kampus Syiah Kuala. Menyelesaikan semua urusan akademik serta beberapa hal lainnya. Hampir sehari aku mondar-mandir mengurus semuanya. Sampai aku dinyatakan sebagai mahasiswa resmi Universitas Syiah Kuala. Sungguh hatiku senang tak terkira.

Berhari-hari aku di sini. Aku sudah menumukan kos-kosan murah meriah. Walau hanya di batasi papan dan triplek namun aku sungguh bahagia.

Berbulan-bulan aku mengabaikan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarku yang rasanya memudarkan wajah-wajah Teuku Umar di benakku. Seorang pejuang tanggguh sibuk di warung kupi? Seorang pemuda tangguh menghabiskan waktunya di warnet?

Kembali aku menelusuri jejak cinta yang ada di hatiku. Berharap di sana masih kutemukan secercah harapan dan cinta yang membuat aku masih tetap bertahan.

Catatan untuk pemuda-pemuda Aceh yang tangguh
Ingat kompeni-kompeni Belanda pernah betekuk lutut di hadapanmu
Apakah kamu akan bertekuk lutut dan menghabiskan waktumu di warung kupi atau warnet??

Jangan kau nodai wajah Serambi Mekah ini
Yang selama ini kupandang dengan cinta yang membara

Jangan sia-siakan magnet cinta. . .yang ada di tanah ini
Yang mampu menarik siapa saja ke dalamnya

Banda Aceh, 4 Maret 2012 : 20.39

Cerita ini hanya fiksi

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here