Pena Dhiya

Pesan Dhiya

Setelah menarik nafas dalam, Dhiya mengeluarkan napasnya dengan suara besar nan cemprang yang membahana di penjuru sudut ruangan di rumahnya, membuat seluruh penghuni terkejut. Penghuni yang terdiri dari ayah, ibu dan dua kakak.

“Mana pena diyyyy…!”

Suara Dhiya menggelegar seantero rumah. Suaranya melengking kuat seperti guntur yang mengagetkan telinga yang mendengar. Padahal hari itu sudah larut malam, bulan pun sudah terlelap, tapi dasar Dhiya, suaranya membuat langit terbangun sehingga awan menangis membasahi bumi. Dan pastilah keluarganya tahu bila tanda-tanda seperti itu terdengar berarti penyakit anaknya kambuh lagi. Itulah yang dialami Dhiya. Tapi penyakit yang terdapat dalam diri anaknya itu sudah tergolong parah. Sebuah penyakit yang terkenal dengan sebutan ceroboh.

Keluarganya sudah tak asing lagi kalau mendengar teriakan itu. Pasti ada saja yang hilang. Mulai dari buku, tas, sampai sikat gigi. Pokoknya apa saja yang Dhiya pegang tidak dijamin akan selamat. Dan untuk kali ini, apa lagi yang hilang?

Segera Emak menghampiri Dhiya yang sedang bongkar-bongkar laci di ruang tamu. “kenapa sayang?”

Belum lagi Dhiya menjawab pertanyaan emaknya, Rudi, si abang sudah memotong pembicaraan. “Emak ndak perlu tanya lagi, Diy tu pasti kehilangan barangnya lagi.”

Dengan wajah cemberut Dhiya mencoba mengabaikan abangnya, “pena Diy hilang, Mak.”

“Nah, kan tu benar,” sahut Rudi dari kejauhan. Dhiya geram bukan main.

“Emang ditarok di mana tadi?”

“Perasaan tadi selesai belajar Diy tarok di kasur.”

“Coba Diy cari lagi, mana tau keselip.”

“Udah, Mak. Udah Diy cari dari tadi, tapi ndak ketemu. Diy sedih mak, tukan pena pemberian sahabat SD Diy, hiks…” Dhiya menjawab sambil berlalu mencari penanya lagi.

Kini Dhiya mencari di dekat tv yang sedang asyik di tonton Kakak, Abang, dan Ayahnya. Lalu ia terus berbicara sendiri menanyakan penanya di mana, tandas saja semua jadi terganggu.

“Ya ampun Diy, pena kamu ndak ada di situ, ndak keliatan tau tv nya gara-gara kamu di situ.”

“makanya bantu Diy nyari.”

“Duh, paling Diy salah tarok. penyakit ceroboh tu jangan di pelihara.” Jawaban abangnya membuat Diy makin cemberut.

“Nah, tu penyakit satu lagi. Bentar-bentar cemberut.” Kini si ayah ikut menimpali. semakin kencanglah Dhiya memanggil penanya (kayak bisa aja tu pena nyaut).

Karena geram tv-nya dihalangi Dhiya, semua keluarga akhirnya membantu agar cepat bisa menonton lagi. Langsung saja wajah Dhiy yang tadinya laksana matahari tanpa cahaya, kini menjadi matahari yang menampakkan gigi kegirangan dengan sinarnya.

Barang-barang mulai obrak-abrik. Mulai dari mengobrak kamar Diy sampai dapur. Namun pena itu tak kunjung keliatan. Anggota keluarga mulai bosan mencari. Belum lagi larutnya malam membuat mengantuk.

“Udahan aja ya Diy, kakak ngantuk nih. Besok cari lagi.”

“Yah, kakak.” Dhiya mulai merengek.

“Makanya jangan ceroboh. hati-hati.” Tambah si abang sambil mencibir.

“Udah, jangan merengut lagi. Jelek dilihat. Diy udah shalat Isya, belum?”

“Hm… Belum Kak.”

“Ya pantes aja penanya ndak ketemu. Wong shalat aja belum, nggak berkah pencarian kita. Shalat dulu gih. Terus langsung tidur, besok cari lagi.”

Kubasuh muka, tangan, kepala dan kaki, hapuskanlah kesombonganku ya Allah, hapuskanlah kesilapan dan kecerobohonku. Kusempurnakan empat rakaat dari 17 rakaat hari ini. Temukan penaku ya Allah, itu pena kesayanganku. Hiks… ;'(

Selesai shalat Dhiya menghempaskan tubuh ke kasur menghadap ke kanan, seperti sunnahnya Nabi. Kini tangan kanan Diy masuk ke bawah bantal. Mencoba mencari posisi tangan yang nyaman. Tapi ada yang tersentuh. Keras, pasti bukan bagian dari bantal. Diy semakin meraba benda itu. Panjang, tipis. Apa ini? Jangan-jangan…

jreng, jreng… (bunyi musik kejutan)

Dhiya cepat-cepat duduk dan menggeledah bantalnya. Setelah tangan beraksi mencari bukti yang ada, akhirnya si tangan mendapatkan yang dicari. Keluarlah tangan dari tempat kejadian itu. Dan…

“Ha… Ini penanya!!! Hahaha…” Dengan bangga dan senangnya Dhiya berteriak sejadi-jadinya, padahal suaranya seperti suara raksasa yang mampu menggegerkan penghuni hutan (ah, yang bener?), selain itu hari sudah malam dan itu membangunkan semua keluarganya.

“Astagfirullah, diy. Apa yang terjadi? Kenapa ketawa begitu? Kamu kemasukan?” Kini Ayah, Emak, dan Kakak-kakaknya sudah berdiri di depan pintu yang tadinya sudah bergelut di dunia mimpi sembari membawa Al-Qur’an dan buku doa.

“hehehe… Aduh, Ayah, Ibu, Kakak, kenapa sih? Diy ndak kemasukan. Diy Cuma seneng, penanya dah ketemu di dalam bantal. Hihi…”

“Ya Allah, Diy. hebat kamu. Pinter amat bikin orang sibuk satu kampung.”

“Eh, he, he. Maaf Yah, Mak, Kak, Bang.”

“Makanya jangan ceroboh lagi.”

Setelah semua tenang dan kembali ke kamar masing-masing. Di kamar Dhiya, Dhiya tersenyum-senyum geli di kasurnya bersama pena kesayangan.

Padang, 22 Januari 2011

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here