Perjuangan Cinta (Bagian 1) – “Aku telah memilih-Mu”

mesir
sumber: kabardakwah.blogspot.com

Dengan beberapa perubahan.

mesir
sumber: kabardakwah.blogspot.com
Terlihatlah sepasang kekasih, sebut saja namanya Naila dan Fadli. Konon katanya mereka berdua tampak saling pengertian, saling menyayangi dan sangat mengerti satu sama lain. Tak heran, hari-hari mereka lalui dengan bahagia dan senyuman yang mengambang di wajah polos mereka ketika menelusuri lorong-lorong yang menghubungkan rumah mereka. Tak dapat dikatakan bagaimana masa-masa SMA mereka habiskan dengan menjalankan cinta yang lazimnya disebut “cinta monyet“.

Tak terasa, kini tiba saatnya mereka lulus SMA. Ketika dilihat pemandangan sekeliling, tak ayal melihat teman-teman meraka yang lagi bahagia luar biasa karena telah mendapatkan tanda kelulusan. Adapun di sudut lorong juga nampak Wido, si tukang bolos sekolah tak dapat tanda kelulusan karena tak berhasil lulus. Satu sisi, Naila dan Fadli merasakan kebahagiaan juga bak kawan-kawan yang lain. Namun satu sisi alangkah sedih hatinya ketika teringkat akan berpisah dengan kekasih hatinya. Keputusan tak bisa dibantah. Fadli akan melanjutkan kuliahnya di Australia. Kebetulan dia lulus di Medical Faculty Of Tasmania University. Sebuah peluang yang tak mungkin dilewatkannya. Lain hal dengan Naila yang sudah memutuskan untuk mendalami sastra di Kairo, Mesir. Tentu saja hal ini merupakan ujian terberat bagi hubungan mereka.

Tak menemukan solusi lain akhirnya mereka berjanji akan selalu bersama walau jarak ribuan kilometer memisahkan mereka. Sampai pada akhirnya mereka berdua berangkat menuju negara tujuan masing-masing. Negara yang jauh berbeda, dipisahkan dua samudera dan puluhan negara lainnya. Pada bulan-bulan pertama mereka tetap menjaga komunikasi. Tak peduli pulsa kandas, duit menipis atau hanya say hello lewat facebook. Mereka hanya bisa bertemu sekali setahun namun mereka percaya bisa menjaga cinta di hati mereka. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berganti tahun. Genap satu tahun di Kairo, cara pikir dan cara pandang Naila mulai berubah. Seiring seringnya mengikuti tausiah-tausiah dan kajian-kajian muslimah, sedikit demi sedikit jadi mengerti akan arti cinta hakiki. Dara yang biasanya tomboi, pakai baju serupa laki-laki berlahan namun pasti melakukan metamorfosis menjadi seorang gadis yang benar-benar manis plus imut, jadi nak sholehah dan berakhlak baik serta sering meraih berbagai penghargaan di Fakultasnya.

Kembali ke cerita Fadli ysng juga sukses dengan karirnya sebagai Dokter muda yang berhasil. Namanya sering kali mencuat di media nasional karena berhasil menemukan vaksin baru. Selain itu ia juga sukses menjadi seorang pengusaha besar di negeri kangguru yang berpenghasilan 10 milyar per bulan. Apalagi dia dapat dukungan dari gadis yang dicintainya. Banyak hal yang telah dirancangnya untuk memberikan kejutan besar pada pujaan hati nun jauh di sana.

Berbeda dengan Fadli, di Kairo Naila sudah memantapkan hatinya untuk mengakhiri hubungan yang terlarang ini. Sebuah hubungan yang dibenci Allah. Ya Pacaran. Naila yang baru saja berhijrah takut kalau cintanya sama Fadli akan melebihi cinta kepada Rasul dan Rabb-Nya. Dia sering terbangun di waktu malam, sujud memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa-dosa yang telah ia lakukan selama 20 tahun ia hidup di dunia fana ini. Naila menyadari tak sedikit ia melalaikan perintah-Nya. Seringkali demi kegiatan OSIS ia melalaikan shalatnya. Demi bersenang-senang, ia membohongi orang tua. Dan semua itu dianggapnya sebagi masa lalu yag benar-benar suram.

Naila hampir saja terpuruk ke lubang kehancuran dan untung saja Allah masih menyelamatkannya. Walaupun karena itu dia harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya dan terdampar di negara yang panas ini. Menyadari hal itu ia selalu memohon ampunan dan berharap Allah menerima taubatnya. Tak lupa diakhir doa ia selalu mengatakan “Ya Rabb tuntunlah selalu jalan hidup hamba sebagaimana jalan orang-orang yang Engkau beri petunjuk dan Engkau Ridhai. Bantulah hamba dalam menghadapi rasa yang tak seharusnya ada karena hamba yakin dengan janji-Mu ya Allah bahwa seorang wanita yang shalehah akan mendapatkan laki-laki yang shaleh. Begitu juga sebaliknya. Bantu hamba ya Allah. AMIN.”

Naila menyadari tugasnya sekarang hanyalah menyiapkan dirinya untuk menjadi wanita yang pantas berdampingan dengan laki-laki sholeh. Dia merasa tak seharusnya dengan alasan untuk mengenal lebih dalam maka ia menempuh jalan pacaran.

Dengan memantap dan mengokohkan hatinya, Naila akhirnya memutuskan untuk mengakhiri segala rintangan yang selama ini menjadi penghalang di hatinya.

Apakah Naila memutuskan untuk menikah dengan Fadli?
Atau Naila memutuskan untuk meninggalkan pemuda itu?
Tunggu kelanjutnya. . .

Banda Aceh, 1 Maret 2012

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here