Di Langit Kairo

Bunda…

Bintang-bintang itu merindu senyummu

Dan rinduku dibawa olehnya ke angkasa

Bulan pun penuh

Purnama,

Kulihat bias wajahmu di sana

 

Ayah…

Ku yakin kau tlah menjadi pangeran bunda di surga

Aku bangga padamu

Terima kasih ayah,

Dia menjadi pangeranku di dunia

Kau tlah mengajarinya menjadi pemimpinku

Tanpa cela, ku panggil ia

Abang…

 

Dua bait curahan hati mengisi baris-baris hijau diariku. Tinta hijau melengggok tenang di atasnya. Hijau, menyehatkan mata dan jiwa.

Aku merindu. Bunda dan Ayah yang telah lama kembali pada-Nya selalu hadir dalam relung sanubari. Tiga tahun berlalu sejak mereka meninggalkanku bersama abang karena takdir. Saat itu usiaku masih delapan tahun sedangkan abangku empat belas tahun.

Sejak kecelakaan maut itu terjadi, kami menjadi yatim piatu. Sejak itu pula kami diasuh oleh wanita tua yang tegar, ibu dari bunda. Nenek, begitu kami memanggilnya.

Hari ini aku akan mendaftarkan diri ke madrasah tsanawiyah di kota bersama abangku. Sengaja aku memilih MTsN yang dekat dengan Madrasah Aliyah tempat abangku mengarungi masa SMAnya.

Sedikit kuceritakan tentang Bang Farhan, abang yang sangat bertanggung jawab. Ketika aku menamatkan madrasah ibtidiyah, ia baru saja naik kelas tiga di MAN 1 Banda Aceh. Bagiku dia adalah hero, lelaki sejati, dan abang yang sangat setia. Kuakui ia sangat sibuk. Di sekolah ia menjabat sebagai ketua Rohis. Prestasinya pun selalu meningkat meski ia aktif di berbagai organisasi.

Suatu ketika, aku pernah mengintipnya lewat celah pintu, tampaknya lupa dikunci. Aku mendengar ia sedang melantunkan ayat suci AI-Qur’an dengan sangat merdu. Tapi, tangannya tidak memegang mushaf. Saat kutanya, ia berkata: muraja’ah.

Muraja’ah? Aku tidak mengerti. Saat kutanya pada nenek, beliau menjelaskan bahwa muraja’ah adalah mengulang hafalan Al-Qur’an yang telah dihafal agar tidak lupa.

Wah, abangku hafidz. Aku semakin bangga.

***

Banga Farhan baru saja pulang dari Mesjid Raya Baiturrahman, mensyukuri hari yang indah; lulus dengan nilai terbaik. Aku baru saja selesai mencuci baju ketika tidak sengaja ku dengar pembicaraan abang dengan nenek di runag keluarga.

“Nek, sekarang Farhan sudah lulus. Sudah saatnya melanjutkan langkah mencari samudera ilmu yang lebih luas” ujarnya santun.

Aku berdiri di balik pintu. Ya Allah, maaf mutia tidak sopan karena menguping pembicaraan orang tua. Batinku.

“Iyaa Farhan, nenek paham. Sudahkah kamu memiliki pilihan kuliah, Nak?”

“Sudah, Nek. Tapi…”

“Tapi apa? Katakan saja, jika menurutmu itu pilihan terbaik, silakan melangkah, jangan ragu”

“Farhan sangat ingin kuliah di Al-Azhar, Kairo, Nek…”

Nenek terdiam. Bang Farhan menunduk.

Al-Azhar? Kairo? Aku mencoba mengingat sesuatu. Nama itu tidak asing di telingaku. Aha… aku ingat. Kata Pak said, Al-Azhar adalah universitas tertua di dunia. Letaknya di benua Afrika. Piramida dan Sphinx merupakan keajaiban dunia ada di sana.

“Tapi Nek, Farhan ragu. Bagaimana dengan Dek Mutia? Apa dia setuju?”

“Nenek setuju. Al-Azhar tepat untukmu. Tapi adikmu, mungkin dia akan sangat berat untuk melepaskanmu. Coba jelaskan padanya perlahan. Dia masih terlalu muda untuk mengerti. Apalagi kalian sangat dekat. Dia menganggapmu sebagai abang yang selalu mampu melindungi dia. Bicarakanlah nak…”

Oh, namaku disebut.

“Baik, Nek”

Abang bangkit dari kursinya. Aku berlari ke kamar dan membenamkan muka ke dalamnya. Air mataku menitik satu, dua, dan kemudian berguyur bak hujan deras tadi pagi.

Setelah itu, semua gelap. Gagang pintu yang ditarik menjadi suara yang terakhir ku dengar. Aku terlelap.

***

 Seminggu berlalu hingga pada suatu minggu pagi, bang farhan menghampiriku yang sedang menonton TV di ruang tengah.

“Dek Tia, boleh abang bicara sebentar?” dia duduk di sampingku. Aku diam seolah tak mendengar. Padahal hatiku seakan ingin melompat keluar. Sudah bisa ku tebak apa yang akan ia bicarakan.

“Mutia, kenapa Dek?” Tak kuasa aku melihat wajah putihnya yang tiba-tiba telah berada di depan wajahku.

“Abang mau bicara tentang apa? Al-Azhar? Tia sudah tahu semuanya!” emosiku mulai merangkak naik.

Bang Farhan diam seribu bahasa. Tampak jelas ia kaget. Tapi ia tak beranjak dari hadapanku, matanya menusuk ke dalam mataku yang memerah menahan pilu.

“Dari siapa adek tahu? Nenek?”

“Bukan, Tia mendengar semua pembicaraan abang sama nenek waktu itu. Kenapa, Bang? Kenapa harus ke sana? Tia gimana? Cuma abang yang bisa Tia harapin sekarang. Ayah dan Bunda sudah nggak ada, nenek sudah tua. Sekarang abang lagi yang mau pergi? Tia nggak mau… NGGAK!”

Belum habis aku meluapkan semuanya, ia telah merangkulku dalam peluknya. Setetes air hangat meliuk di tanganku. Oh, Tuhan… Abang menangis. Pertahananku pecah. Hening.

“Dek, abang cuma pergi sebentar, hanya empat tahun. Insya Allah” dia kembali duduk tegak di depanku.

“Hanya? Empat tahun itu lama, Bang. Tia saja masih kelas 2 MTsN, itu artinya abang akan pulang nanti ketika tia tamat MAN, kan? Itu lama Bang. Lama sekali. Mengapa? Karena Tia sendiri!”

Dan setelah itu, ia tidak melanjutkan pembicaraanya lagi. Ia mematung di depanku, menunduk.

***

Sejak hari itu, ku lihat Bang Farhan seperti orang yang kehilangan harapan. Aku merasa bersalah. Aku sadar, abang punya mimpi yang tak bisa ku hancurkan. Hingga akhirnya…

“Bang, Tia ikhlas. Pergilah…” Aku berdiri di depannya yang sedang duduk di depan jendela, melamun.

Dia menatapku dengan mata berkaca.

“Mutia yakin? Abang nggak akan pergi jika Tia tidak setuju. Lebih baik abang menjaga Tia saja di sini, seperti amanah ayah dan bunda”

“Tia yakin. Tia sama nenek saja di sini. Cecek dan mak cek juga ada di sini. Tia yakin tidak akan kesepian. Apalagi abang telah mengajari Tia cara menggunakan e-mail, jadi kita bisa berkomunikasi lewat internet”. Semuanya mengalir begitu saja. Satu hal yang pasti, aku ingin dia bahagia. Dia berhak atas semua itu setelah mengurusku selama ini.

“Tapi, ada syaratnya…”

“Apa itu, Dek?”

Aku maju selangkah, menghadap ke jendela dan menarik seluruh tirainya, lalu menatap bahagia pada bulan yang sangat indah malam ini.

“Abang harus janji, ketika abang telah sampai di sana dan menjadi mahasiswa Al-Azhar, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Dan setelah empat tahun nanti, pulanglah. Bawa Tia ke sana. Tia memang belum tahu seperti apa Al-Azhar, Piramida, Sphinx, Nasr City, tapi Tia juga ingin merasakan hidup di belahan dunia yang pernah abang jelajahi. Karena kita selamanya, anak ayah dan bunda.” Aku menutup kalimatku dengan memandang abangku lekat, menyemangati. Seulas senyum merekah.

“Insya Allah, Dek” ia mengangguk mantap.

Sejak saat itu, kehidupanku berubah. Kupatri dalam hati dan jiwa, empat tahun lagi aku akan dijemput oleh bang farhan. Sejak saat itu pula aku mengerti sepenuhnya apa itu muraja’ah.

***

4 tahun kemudian…

Subhanallah… ini universitas tertua di dunia itu, Bang?”

“Ia Mutia. Ahlan wa sahlan. Semua berkas yang telah kamu siapkan nanti akan abang urus di KBRI. Tia akan tinggal di asrama putri”

“Iya, Bang”

Aku takjub. Gerbang di depanku seolah terbuka dengan sendirinya menyambut kedatanganku. Aku akan menjadi mahasiswi Fakultas Ushuluddin, jurusan hadist dan ilmu-ilmu hadist. Bang Farhan akan kembali ke Aceh dalam waktu dekat, tentu setelah mengurusi segala keperluanku di sini. Namanya telah dilengkapi gelar Lc: Teuku Farhan, Lc. Sejatinya, bukan gelar yang penting, tapi ilmu dan amal.

Ayah…Bunda…

Bulan dan bintang masih sama

Hanya saja, malam ini kita berjumpa di langit kairo ^_^

 

Meunasah Manyang, Rabu, 9 Mai 2012, 14:00 WIB

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

3 KOMENTAR

  1. kk comment ni ya.. (maaf jugak kalo ada yg salah,, kk hanya penikmat novel, cerpen n sebangsanya dan nulis novel gak pernah kelar2… hahaha)
    hmmm..
    menurut kk sih.. ceritanya keren,, kk sukak, menyentuh, pilihan kata keren,, membuat hati jugak ikot terbawa suasana..(hati gerimis dikit.. hehe)
    tp,,critanya agak terburu2 lah,, serba cepat,(kyak ada yg kejar lah..
    mank sih ini cerpen, Cerita Pendek,, tp kan g mesti buru2 jugak.. ^^ hati lagi gerimis, eh matahrinya dtg tiba2,, gak asik jadinya… hahaha

    gitu deh

  2. sebelumnya maksih kak atas coment, kritik dan saran’a 🙂
    iya sih….terlalu singkat cerpen’a..hehehe
    rncna”a mau diubah-ubah lagi biar lbh panjang plot’a. insya Allah 🙂

  3. hehehe maksih kak ud mau baca n coment 🙂
    iya sih, maunya lbih panjang lagi kyak’a kan… (sadar siap di coment..hehe)
    nantilah coba nta kembangin lagi alurnya 🙂

Tinggalkan Balasan ke nitaa Batal balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here