Kabut Seulawah

seulawah-agam-landscapeindonesia

Karya Eramayawati

Selepas Magrib, dingin semakin kentara meski tanpa rinai hujan. Menjalari pembuluh bersama aliran darah. Merasuk hingga ke sum-sum tulang. Memaksa orang-orang untuk merapatkan kedua tangan di depan dada dan memeluk tubuh yang kedinginan. Kendati demikian, para pengemudi yang mencari nafkah di sepanjang jalan Banda Aceh-Medan harus menjaga kedua tangannya tetap berada di kemudi. Alih-alih menyembunyikan sepasang tangan di balik dada, merasakan betapa dinginnya malam itu saja tak boleh mereka lakukan, atau dingin akan membekukan tubuh mereka dan memaksa sepasang mata mengatup. Lalu mereka akan berakhir di dasar jurang.

Di jalan meliuk itu, malam menjadi lebih pekat. Rembulan yang bersembunyi di balik awan kelabu menyisakan temaram. Malam semakin dingin tanpa kehangatan rembulan. Samar-samar tampak kabut yang keluar dari perut gunung. Kabut yang membawa uap dingin itu sedikit demi sedikit menempel di kaca mobil. Mengaburkan pandangan. Halimun mengisi ruang kosong dimana udara berada. Berbaur bersama udara yang tak tampak.  Hingga ruang kosong itu seolah hanya terisi oleh halimun.

Kabut semakin menyelimuti malam. Membaluri sepasang gunung yang menjulang perkasa di sisi jalan. Kadang, gemuruh di pelataran gunung memecah kabut. Memecah keheningan malam. Seperti para pengemudi itu, gunung pun tampaknya masih belum terlelap.

***

Di bawah langit yang lindap, Agam tercenung. Kembara pikirannya menembus awang-awang. Kerlip rama-rama yang selalu ia kagumi bersama Inong tak mampu membawa kembali pikiran yang berkelana menembus tirai malam. Agam tak dapat menahan perasaan yang mengharu biru. Segala rasa membahana. Desisnya sesekali terdengar seirama dengan desau sang bayu.

Sang bayu membelai wajah Inong. Ada garis-garis keriput halus di wajahnya. Ah, tak terasa ternyata sudah cukup lama mereka hidup bersama. Hingga mereka tak menyadari wajah mereka mulai merenta.

“Tuhan akan murka melihat makhluk-Nya saling bertengkar. Tuhan menciptakan kita untuk saling mencintai. Karena itulah kita diciptakan berpasangan,” kata Agam, memecah keheningan yang sedari tadi menjadi hijab di antara mereka.

“Apa aku harus tetap tersenyum walaupun hatiku menangis?” ucap Inong dengan ketus.

“Kadang hidup memang kejam. Memaksa kita tersenyum saat ingin menangis dan memaksa kita menangis saat ingin tersenyum,” Agam mematahkan pertanyaan Inong.

“Tapi aku tak akan membohongi diriku dan menjadi munafik dengan bersembunyi di balik senyum semu.”

Agam mencari kata-kata yang tepat. Mencomot kata-kata yang terbang bersama angin dan merangkainya menjadi kalimat yang utuh.

“Apa kamu akan membiarkan hari-harimu diselimuti kabut? Matamu berkabut, hatimu berkabut. Dan kemudian sekelilingmu menjadi berkabut. Kabut itu akan menghalangi pandanganmu, dan juga pandangan kita semua. Tidakkah kamu rindu melihat liukan dedaunan yang menari bersama angin? Cemara yang berembun di pagi hari, monyet-monyet yang mengemis di pinggir jalan, kendaraan yang lalu-lalang, tidakkah kamu rindukan itu?”

“Mengapa aku harus rindu melihat monyet-monyet yang mengemis makanan di pinggir jalan? Mereka layaknya seperti para pengemis di kota kita yang menyambangi warung-warung dengan orok bayi dalam gendongan mereka. Mengemis belas kasihan orang-orang.” Inong masih tak kalah ketus.

“Bagaimana dengan cemara dan tarian daun-daun?”

“Justru hatiku miris jika melihat mereka. Dulu mereka menaungi tanah ini dengan suka cita, sebelum tangan jahil membawa aroma ketakutan ke tanah kita. Menyayat tubuh mereka dengan mesin bermata tajam dan runcing, tanpa bisa mendengar rintihan kesakitan mereka. Api pun kerap membara, mengubah hijau menjadi kecokelatan. Apa yang harus kubanggakan tentang itu?”

Agam menatap wajah Inong yang semerah mawar. Bukan karena perona pipi. Tapi amarah yang membuncah menciptakan merah alami di wajahnya. Inong menjadi lebih kaya kata saat amarah menguasainya. Agam harus mencari kata yang bersembunyi di balik ranting-ranting dan menghidangkannya ke pangkuan Inong.

“Bagaimana dengan pasangan yang lalu-lalang di hadapan kita? Mereka saling mencintai. Seharusnya kita juga bisa seperti mereka.” Agam mendengar desau angin membisikkan kata itu padanya, dan diantarkannya kata itu ke hadapan Inong.

“Tidakkah kamu menyadari bahwa mereka itu belum terikat dalam hubungan yang halal? Mengapa kita harus berbahagia melihat mereka merajut kemesraan di hadapan kita?”

Agam menghela napas. Ditatapnya Inong dengan wajah pias. Keindahan apa lagi yang bisa ia tawarkan pada Inong untuk menyejukkan hatinya?

“Dan sekarang mereka mendengungkan persamaan gender,” Inong melanjutkan katanya.

“Aku tak begitu mengerti dengan konsep persamaan gender,” Agam menegaskan.

“Aku akan membuatmu mengerti.”

Agam menyerah dengan pasrah. Tak ada lagi kata yang bisa dirangkainya menjadi untaian indah. Agam merindukan kenangan indah bersama Inong. Telah berjuta cerita yang terukir di antara mereka. Di sini, di tanah mereka lahir dan tumbuh dewasa. Bercengkrama bersama senandung burung. Bercinta bersama semilir angin. Merenda kasih di bawah langit lazuardi. Agam merindukan itu semua. Yang tersisa hanyalah malam-malam yang berongga dan berkabut.

Agam merasa Inong telah banyak berubah. Ia layaknya seorang perempuan yang mengikuti arus kemajuan zaman, lalu terbawa oleh derasnya arus itu. Puncak ketidaklogisan pikiran Inong adalah ketika Inong meminta Agam melakukan sesuatu yang mustahil.

“Aku ingin kamu saja yang mengandung. Semakin hari kita semakin tua, hari-hari kita akan semakin sepi tanpa kehadiran seorang anak.”

Agam terhenyak mendengar perkataan Inong. “Bagaimana aku bisa mengandung?”

“Entahlah. Aku hanya bosan mendengar cibiran yang dilontarkan untuk perempuan setiap kali pasangan suami-istri tak juga dikaruniai anak. Kenapa harus perempuan yang selalu disalahkan? Karena perempuan yang mengandung? Kalau begitu, seharusnya perempuan juga bisa menyalahkan laki-laki, kenapa laki-laki tidak mengandung sendiri saja?”

Agam terdiam. Perkataan Inong memang tak sepenuhnya salah. Ia juga melihat bagaimana perempuan di sekitarnya disudutkan.

“Persamaan gender….” Inong membiarkan ucapannya menggantung. Membiarkan Agam menyambungnya sendiri. Inong yakin Agam cukup pintar untuk memahami maksudnya.

Agam tak mengerti bagaimana Inong bisa memintanya melakukan sesuatu yang absurd. Entah apa yang telah memajalkan otak perempuan yang dicintainya itu. Hingga Inong tak dapat berpikir logis lagi. Inong seumpama menciptakan kamuflase, sehingga Agam seperti tak mengenalnya lagi setelah berkamuflase serupa itu. Karena cintanya yang dalam, Agam kehilangan kharismanya sebagai laki-laki. Otak Agam pun ikut majal.

Agam tak tahu bagaimana caranya ia bisa mengandung. Ia tidak diciptakan dengan kemampuan itu. Namun, ia tetap mengerahkannya semua tenaga dan pikiran untuk mewujudkan keinginan Inong. Hingga suatu hari, ia merasakan perutnya membesar. Bertambah hari, ia merasakan sesuatu bergerak-gerak di dasar perutnya.

Agam tak menyadari bahwa ia telah mengandung segala rasa yang tertanam di benaknya. Sedih, amarah, menyatu dalam dirinya, dan bersemanyam di dalam perutnya. Semakin hari semakin bertambah. Seiring dengan perutnya yang semakin membesar. Kadang, hawa panas keluar dari mulutnya. Air mata yang juga terasa amat panas menjelma menjadi kawah berlumpur. Terlalu panas malah, hingga jadi mendidih.

Agam mendengar sayup-sayup orang berkata, “Seulawah Agam berstatus waspada.”

Agam menutup telinga. Ia tak harus mendengar apa-apa. Ia selalu percaya bahwa Allah menciptakan mereka berpasangan untuk saling mencintai. Ia tidak diciptakan sendiri dan kesepian seperti Fujiama. Dan ia harus bersyukur untuk itu. Karena itu, ia akan selalu berusaha menjadi semesra merapi dan merbabu. Mungkin ini adalah manifestasi cintanya untuk Inong. Ia hanya perlu menanti, kapan ia melahirkan.

Bireuen, 4 Februari 2013

* Eramayawati
, anggota FLP Aceh

Dimuat di Serambi Indonesia, edisi Minggu 7 April 2013

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here