Kamar Nomor Tiga di Negeriku

Ini aneh. Seru, lucu.

Rumah bertiang bendera masih hangat. Pepohonan di dalamnya juga masih berguguran, belum ada yang kekal dan takkan pernah ada. Lapangan itu masih hijau-biru-merah. Unik. Penghuninya tak ada yang ingin kabur mencari rumah lain. Tapi, para aktor dan aktris abu-abu terlihat sibuk dengan kunci ilmu segi empat.

Ketika pagi berbagi sinar mentari, semua di dalam. Mereka yang sadar ketika masa  semakin menghimpit untuk keluar dari rumah ini. Tak beda ketika matahari ingin pulang ke peraduannya. Mereka juga pulang. Meninggalkan lapangan, taman kecil, atau kantin untuk mereka yang terlampau santai.

Adapun bendera, masih dihormati dengan khidmat. Ayah dan ibu dalam rumah ini semakin perhatian. Tak ada tabir yang samar jika kita melihat deretan kamar satu, dua dan tiga yang rapi itu. Pertanda semakin jelas di mana posisi penghuni kamar nomor tiga. Ya, tiga.

Sebait cerita selalu bertandang ke permukaan dari kamar nomor tiga ini. Hitung saja berapa bait cerita jika kamar nomor tiga ini lebih dari satu.

Aku pun  punya cerita. Sebuah cerita singkat dari kisah panjang berangka tiga. Ya, tiga tahun.

Awalnya, aku dan teman-teman seperjuangan tinggal di kamar nomor satu. Ahh…indah, sangat indah. Aku ingat betul ketika sebuah kamar yang penuh dengan kelezatan kerap kami singgahi. Namanya kantin. Tapi, kamar kami tetap tak terganti, sebab di dalamnya ada nilai-nilai luhur dan modal untuk berkunjung ke kamar nomor dua. Kami tak ingin menjadi penghuni abadi kamar nomor satu, karena masih banyak yang menginginkan kamar ini.

Setahun Kemudian…

Alhamdulillah, aku dan teman-teman bisa berkunjung ke kamar nomor dua. Sayangnya, kami tidak bisa tinggal dalam satu kamar lagi. Kami sudah dibagi menurut keinginan dan target masa depan masing-masing. Jalan kami tak sama lagi. Ada yang memilih menguasai ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu bahasa. Tentu saja ini langkah awal menuju kedewasaan.

Waktu pun terus berjalan tanpa melirik sedikit saja ke belakang. Hanya tersisa kenangan indah dalam potongan wajah maya. Tak bisa diraba, hanya bisa dilihat dengan senyum merekah. Segi empat yang penuh angka dan huruf telah usang. Tapi itu tidak berlangsung lama.

Tahun ini, aku telah berada di kamar nomor tiga. Kadang terselip kata ingin kembali ke masa setahun atau dua tahun yang lalu. Tapi, waktu melarangku. Juga mereka. Tas telah menjadi pustaka berjalan. Papan putih yang menempel di dinding tak boleh luput dari bola mata, sedetik pun. Di sana ada kunci.

Aku tak sendiri, ada mereka. Mereka sama sepertiku, menatap penuh harap dan takut dari depan pintu kamar masing-masing. Tak perlu waktu lama untuk berkunjung ke kamar-kamar nomor tiga lainnya. Kami satu. Satu rumah, satu lapangan, satu kantin, dan satu ayah-ibu. Ayah dan ibu dalam rumah bertiang bendera. Ahh… hampir lupa, kami juga punya satu pohon cinta. Hingga sekarang ia tetap tegak berdiri memberi kesejukan. Dan mushalla, tempat bermunajat dengan Allah yang telah memberi kami rumah dengan sejuta keindahan dan ramai dengan jiwa-jiwa penuntut ilmu meski tak semua.

***

            Suatu ketika, tamu istimewa dikabarkan akan mengunjungi kami. Istimewa tapi menakutkan bagi seragam putih-abu-abu. Ia tak perlu menegenalkan diri, kami sudah sangat mengenalnya.

UN.

Itulah namanya. Singkat, jelas dan sangat populer. Tak perlu ejaan ribet untuk mengenalinya.

“Kenapa ia selalu datang??”

“Sebab ia pemilik pintu dan kunci untuk keluar dari rumah ini guna melanjutkan perjalanan mengitari dunia.

Selalu. Selalu itu jawaban mereka. Andai saja kunci lain yang dipakai, tentu kami tak akan merinding dan menggigil. Kunci itu ada pada ayah dan ibu kami dalam rumah ini.

Suatu senja, terjadi perbincangan hangat antara UN dan putih-abu-abu.

“Abu-abu, persiapkan diri kalian sebaik mungkin” Ia berkata dengan angkuh

“Tentu saja. Aku tak rela jika kedatanganmu merusak tiga tahun kehidupan dalam rumah ini”

“HAHAHA… tidak akan terjadi jika kau menerima kedatanganku dengan baik dan telah mempersiapkan bekal sejak dari kamar nomor satu”

“Aku menyadari itu” Abu-abu menjawab dengan nada beku.

Lalu keduanya bungkam di tengah lapangan biru. Entah menikmati senja, atau bergelut dalam perasaan masing-masing, tak ada yang tahu.

“UN, bolehkah aku jujur?” Abu-abu mendongakkan kepalanya.

“Tentu saja”

“Kami tak ingin aku datang ke rumah ini”

Ada kata yang tercekat dalam mulutnya.

“Aku…mereka…semua yang berada dalam kamar nomor tiga heran. Kau datang menyediakan kunci, begitu kata mereka di luar angka tiga. Tapi, apa kunci itu hanya bagi mereka yang punya IQ tinggi? Bagaimana dengan teman-temanku yang tak sepintar juara umum, tak seberuntung anak-anak saudagar, tak bolehkah mereka mendapat kunci itu? Kunci lain yang ada pada ayah dan ibu kami” Abu-abu meluapkan emosinya.

UN Terdiam.

“Apakah hanya kamu satu-satunya jalan untuk membuka gerbang masa depan? HAH? JAWAB!!!”

“Aku bukan penentu, tapi hanya standar”

“Apa bedanya? Coba lihat, berapa banyak pemakai putih-abu-abu yang jenius, tapi terjebak oleh lingkaran yang harus dihitamkan. Sungguh malang”.

“Itu bukan mauku!!!”

UN lalu pergi. Tapi tidak selamanya. Tak lama ia akan kembali.

“UN… aku tidak bermaksud mengadilimu di rumahku. Aku hanya tak ingin ada tangis pilu menyesali tiga tahun. Aku ingin negeri kita bangkit, melahirkan cendikiawan dan membangun negeri ini”

UN berhenti tepat di depan pagar.

“Ku do’akan, tangis bahagia yang akan membanjiri rumahmu dan penghuni kamar tiga lainnya. Aku berharap, kunci yang ada padaku bisa kalian dapatkan, berjuanglah. Ingat, Allah mendengar do’a hambaNya dan juga melihat usaha kalian.”

“Terima kasih, jangan biarkan kami takut dan membencimu” Abu-abu menutup pembicaraan. Tetesan bening jatuh meliuk di samping hidungnya.

Senja telah pergi. Matahari mulai meninggalkan dunia dan memberi garis merah gelap di ufuk barat sebagai salam penutup.

_SELESAI_

Minggu, 30 Oktober 2011.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

3 KOMENTAR

  1. keren…

    uN memang kta yang simpel yang hanya terdiri dari 2 huruf.. tp menakutkan bg yg baru mendengarnya hahaha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here