Mayat yang Tergantung di Monas

Monas

 

Karya  Anugrah Roby Syahputra

Republik Pungonesia gempar. Sesosok mayat ditemukan tergantung di tugu Monumen Nasional. Tak tanggung-tanggung, tubuh yang kini sudah membiru itu merupakan seorang politisi kondang dari partai penguasa. Maka landmark ibukota itu pun sesak dikerumuni massa. Aparat kepolisian kewalahan menghalau warga yang penasaran untuk melihat langsung peristiwa besar ini. Mungkin ini jadi semacam lokasi wisata baru bagi mereka. “Ceklik..ceklik,” flash kamera berseliweran di areal hijau itu.

“Pemirsa, kabar menghebohkan terjadi di tugu Monumen Nasional. Sabtu pagi ini tubuh mantan ketua umum Partai Berkuasa, Antas Ruralingrum ditemukan tergantung dalam kondisi terbujur kaku di sudut selatan Monas. Jenazah politisi yang tengah dijerat kasus korupsi ini ditemukan seorang petugas layanan kebersihan tadi pagi saat hendak menyapu. Banyak pengamat berspekulasi mengenai penyebab kejadian ini. Ada yang mengatakan Antas menepati janjinya karena terbukti menerima uang haram dari kasus Hamba Peng. Namun, sampai saat ini Mabes Polisi masih melaksanakan proses penyelidikan termasuk memeriksa saksi-saksi. Dari kawasan Monas, Mosquito Dealova mengabarkan.”

Dengan panjang lebar reporter salah satu stasiun televisi berita itu mengantar kabar. Namun Khairul Azzam, mahasiswa Universitas Pungonesia itu tak langsung percaya. Ia menyelinap di tengah kerumunan. Dengan kamera DSLR-nya ia coba mengambil sejumlah foto. Ia yakin ada teka-teki yang harus dijawab.

Tak lama berselang, ratusan demonstran dari berbagai elemen mahasiswa berunjuk rasa di kantor DPP Partai Berkuasa. Mereka menuntut partai pemenang Pemilu itu untuk membubarkan diri karena dianggap sebagai partai hipokrit. Dulu iklannya “Katakan Tidak Pada Korupsi”, ternyata yang sebenarnya, “Katakan Tidak, Padahal Korupsi”. Lagi-lagi petugas keamanan dikerahkan untuk menjaga keamanan. Sejumlah petinggi partai mulai ketar-ketir. Takut betul kalau nanti diamuk massa.

Di televisi, sebuah talk-show membahas kejadian ini. Dihadirkanlah orang yang  paling militan kader Partai Berkuasa, Raul Siruncing. “Ha, kan. Betul apa yang dulu kubilang. Jadi, dia ini baru termakan cakapnya sendiri. Dulu banyak gertak sambal. Ini baru halaman pertama, hantu belaulah. Sekarang dia baru sadar. Ternyata dialah duri dalam daging, nila yang setitik dalam susu sebelanga Partai Berkuasa yang harus dibersihkan. Karena malu, ya dia pilih gantung diri. Tapi begitupun, salut aku sama adekku ini. Angkat topi aku karena dia sudah gentle, mau menepati janjinya setelah makan duit haram proyek Hamba Peng.”

Selain dia, di layar kaca tersebut juga tampak anggota parlemen dari Partai Berkuasa. “Ini membuktikan bahwa partai kami itu solid dan tetap antikorupsi. Kalau memang ada kader kami tersangkut kasus, kami serahkan dan percayakan kepada Polisi, Kejaksaan,  dan KPK untuk memprosesnya. Kami tak pernah menghalang-halangi. Ini semua karena kami antikorupsi. Jadi, janganlah wartawan membesar-besarkan masalah ini. Dikait-kaitkan sama Sekjen kami, dihubung-hubungkan sama Dewan Pembina kami. Nggak cocoklah. Jadi,  yang  fair-lah. Biar masuk barang tu. Haha..”

Penurunan dan pemindahan mayat sang politisi dilangsungkan sekitar waktu dhuha.  Kawasan Monas dijaga ketat pihak kepolisian. Sejumlah pejabat kepolisian yang dimintai keterangan oleh wartawan memilih bungkam. Bahkan Kadiv Humas Mabes Polisi yang biasanya saban hari selalu bicara hingga berbusa-busa kepada media,  pun kali ini tutup mulut. Khairul Azzam masih tak percaya kalau Antas gantung diri. “Mungkin dia memang terlibat, tapi orang secerdas dia, apalagi dulu aktivis organisasi mahasiswa berbasis agama, tak mungkinlah sampai begitu. Itu dosa besar. Bahkan ulama tak akan mau menshalatkannya,” ujarnya dalam hati.

Tubuh lebam itu dimasukkan ke kantong mayat berwarna kuning. Dengan tandu panjang,  jenazah politisi muda itu diangkat dan dimasukkan ke ambulans. Prosesnya cepat sekali. Dikawal aparat. Kebanyakan wartawan hanya berhasil menjepret kantong mayatnya.

Esoknya, televisi masih mengulas tema yang sama. “Proses otopsi sudah dilakukan. Hasilnya AR memang gantung diri. Ini murni bunuh diri. Pada tali yang digunakan untuk aksi itu hanya ada sidik jari dan sisa DNA yang bersangkutan. Tidak ada orang lain. Berdasarkan keterangan saksi mata, juga tidak ada sosok mencurigakan selama Sabtu-Jumat sore sampai malam. Ini sudah clear,” terang seorang pejabat Humas kepolisian.

Ba’da shalat Zhuhur, jenazah sang politisi dikuburkan di salah satu Taman Pemakaman Umum ibukota. Isak tangis keluarga berderai hebat. Sesu-sedan tak tertahan. Padu-padan busana serbahitam makin menguatkan suasana duka. “Saya tidak terima. Mas adalah orang baik. Tak mungkin dia begini,” jerit istrinya mengutuki kenyataan.

Khairul Azzam masih tak percaya pada pernyataan kepolisian. Apalagi di pemakaman itu, tanpa disangka ia berjumpa dengan seorang dokter yang menangani jenazah sang politisi bersaksi kepadanya. “Maafkan saya. Saya telah menghancurkan kemuliaan profesi saya. Saya telah melanggar sumpah saya. Saya telah menjadi pengkhianat kemanusiaan. Jenazah ini bukan gantung diri.”

Azzam tertegun, menanti lanjutan cerita sang dokter. “Sebenarnya, beliau digantungkan setelah diracun dengan arsen trioksida. Di perutnya banyak terdapat zat beracun ini. Kau tahu, kan zat ini pula yang telah membunuh Munir?” terang lelaki berkacamata itu sambil tertunduk lesu.

“Jadi, beliau dibunuh?” Sang dokter mengangguk. “Oleh siapa, Dok?” cecar Azzam. “Entahlah, semua sudah diatur. Aku tak tahu apa-apa lagi selain itu.”

Azzam hanya bisa beristighfar. Di sebuah tempat, jauh dari kesedihan pemakaman, seorang lelaki menghisap cerutunya dalam-dalam. Sang big brother tersenyum sinis, “Pungonesia tetap dalam genggamanku.”

* Anugrah Roby adalah anggota Forum Lingkar Pena Aceh

Dimuat di Harian Serambi Indonesia, Edisi Minggu 17 Maret 2013

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here