Petir di Hari Undokai

Setiap awal musim gugur, ada sebuah kegiatan olahraga menarik di Jepang. Kegiatan tersebut dikenal dengan istilah “Undokai” yang berarti festival olahraga. Dalam bahasa Jepang, kata Undo berarti latihan, sedangkan Kai artinya bersama-sama.

DSC02089Undokai merupakan salah satu event penting yang dirayakan tiap tahun oleh seluruh sekolah di pelosok negeri mulai dari Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Festival ini juga menandai adanya hari olahraga Jepang yang diakui secara resmi sebagai hari libur nasional untuk memperingati Olimpiade Musim Panas tahun 1964 di Tokyo.

DSC02094Menghadiri Undokai merupakan pengalaman paling mengesankan dalam hidupku. Merupakan tonggak yang mampu mengubah pola pikir dan wawasanku tentang dunia anak. Dunia yang sudah kugeluti selama enam tahun, namun masih saja meraba-raba, penuh dengan pergolakan dan mencoba berdamai dengan diri sendiri.
Aku sudah sering mendengar kata Undokai dari sahabat-sahabat muslimah Indonesia di Jepang. Dari cerita-cerita mereka, aku menangkap bahwa acara tersebut hanyalah kompetisi olahraga biasa, tapi ternyata aku salah besar. Banyak sekali nilai-nilai positif yang tersirat di dalamnya.

DSC02081Dan akhirnya hari yang kunanti pun tibalah. Hari itu, 23 September 2004 merupakan penanda dimulainya musim gugur, dan merupakan hari libur nasional di Jepang. Bertepatan dengan ulang tahun Faisal yang keenam, hari itu menjadi tonggak bersejarah dalam hidupku. Namun sayang, mendung menggelayuti langit Tsurugashima sejak pagi hari. Membuat hati ini ciut rasanya. Penuh dengan kekhawatiran. Apakah awan kelabu akan jatuh menjadi hujan? Apakah Undokai akan dibatalkan? Atau tetap berlangsung dalam suasana hujan-hujanan? Hatiku sibuk berdoa agar hujan ditumpahkan ke tempat lain, tidak di bumi Tsurugashima.

DSC02096Tempat penyelenggaraan acara Undokai bukan di TK Musashi, tapi meminjam lapangan SD Dai-Ni, Tsurugashima. Hal itu karena acara festival olahraga membutuhkan tempat yang sangat luas, sedangkan lapangan di TK Musashi tidaklah memadai. Oleh karena itu Undokai sengaja dibuat pada hari libur agar tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar di SD Dai-Ni.

DSC02105Adapun mata acara yang ditampilkan antara lain: lomba lari estafet 200 meter, pertunjukan drum band, tari-tarian, dan juga aneka permainan dan lomba-lomba. Hampir semua aktivitas yang ditampilkan menuntut ketrampilan dan kerjasama tim yang hanya bisa dikuasai lewat latihan yang bersungguh-sungguh. Undokai memang dipersiapkan dengan sungguh matang. Semua siswa di sekolah dilatih khusus untuk kegiatan ini sejak lama, dan seminggu sebelum hari Undokai tiba, jam belajar di sekolah dikurangi demi untuk memperbanyak jam latihan. Semua anak terlihat melakukan bagiannya dengan serius, begitu juga dengan guru dan semua orang yang terlibat dalam acara tersebut. Semua bekerja sama memberikan hasil yang terbaik bagi berlangsungnya acara. Melihat susunan acara dan pengaturan berbagai kegiatan di lapangan sekolah itu aku teringat akan suasana olimpiade yang sebenarnya.

DSC02124Aku memandang sekeliling. Daun-daun mulai menguning, pertanda dimulainya musim gugur. Kupandangi bangunan SD yang berlantai tiga dan berhalaman luas itu. Kulihat banyak yang membawa serta keluarga besarnya seperti om, tante, kakek dan nenek. Bahkan tetangga kami Haruki-kun, kakeknya jauh-jauh datang dari Shizuoka, khusus untuk menghadiri Undokai cucunya.
Aneka permainan ini tidak hanya melibatkan anak-anak TK Musashi saja, tapi juga ayah-ibu, kakek-nenek, bahkan adik-adik balita. Suamiku terlibat dalam lomba lari untuk para ayah. Bukan lomba lari sungguhan, namun lomba untuk senang-senang dan lucu-lucuan saja.

DSC02134“Mau-maunya bapak-bapak ini disuruh-suruh,” pikirku geli saat melihat para Otoosan itu berlari di lapangan. Ada yang berlari sambil membawa boneka, sambil lompat tali, atau men-drible bola. Suamiku kebagian perintah untuk menarik seorang bapak yang sedang duduk dan diajak untuk berlari. Acara ini menimbulkan gelak tawa para penonton dan membawa hiburan tersendiri. Ada juga lomba tarik tambang untuk para ibu. Karena aku sedang hamil, dengan menyesal minta izin untuk tidak mengikuti lomba tersebut.

Tak hanya para ayah dan ibu, tapi kakek-nenek, adik-adik balita dan alumni TK Musashi yang sekarang duduk di kelas 1 dan 2 SD juga diikutkan lomba. Adik kembar Faisal, yaitu Fadhil dan Fadhli yang berusia tiga tahun ikut lomba lari untuk balita. Yang menyenangkan, menang atau kalah, semuanya dapat hadiah buku gambar. Horee!

Aku kagum karena Undokai ini melibatkan juga keluarga besar murid TK, sehingga mereka tidak hanya menonton saja, tapi juga ikut berpartisipasi aktif, dan merasakan euphoria dan kegembiraan bersama-sama.

DSC02108Acara demi acara berlangsung dengan tertib dan teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan. Sehari sebelumnya, lembar jadwal acara sudah dibagikan kepada seluruh orangtua murid. Bahkan ada juga lembar berisi formasi saat pertunjukan drum band, sehingga orangtua murid –yang merangkap jadi tukang foto- bisa memilih posisi terbaik agar dapat memotret anaknya dengan jelas. Kulihat banyak yang membawa kamera berlensa tele dan juga tangga kecil. “Seperti tukang potret profesional aja nih,” pikirku geli. Para panitia yaitu guru-guru TK Musashi dan juga perwakilan orangtua murid bekerja ekstra keras, cepat dan cekatan. Para peserta pun mengikuti seluruh rangkaian acara dengan patuh.

DSC02121Memang nampak dengan jelas keinginan pihak sekolah untuk melibatkan keluarga besar murid-muridnya dalam acara itu. Adanya ajakan untuk melibatkan partisipasi orangtua terhadap kurikulum sekolah memperlihatkan harapan pihak sekolah agar terjadi kesepadanan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan apa yang diajarkan di rumah, selain untuk menumbuhkan semangat kebersamaan.

Di acara Undokai itu, Faisal sempat beberapa kali tampil. Memainkan pianika saat pertunjukan drum band, menarikan tarian Jepang, ikut lomba lari estafet 200 m dan acara bersama Otoosan.

DSC02123Aku begitu takjub saat menyaksikan pertunjukan drum band, yang merupakan gabungan dari beberapa kelas. Ada yang memainkan pianika, drum band dan lain-lain. Bagaimana anak-anak TK bisa dilatih memainkan alat musik yang notabene sulit itu. Berapa lama guru-guru melatih anak-anakt TK yang masih unyu-unyu itu? Kepala dan hatiku dipenuhi berbagai gejolak, antara rasa takjub dan sulit percaya. Yang akhirnya berujung pada kesimpulan: tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semuanya, bila dilakukan dengan latihan yang sungguh-sungguh, dan terus-menerus, pasti bisa. Aku ingat saat Faisal baru belajar pianika, sempat merasa frustasi dan marah-marah karena tidak bisa. Aku berusaha membujuknya dan ikut melatihnya di rumah, agar dia tidak frustasi dan bisa mengimbangi kawan-kawannya di sekolah.

DSC02154Dan ketika mendengar alunan musik yang melantunkan lagu “100% Yuki” rasa haruku tak dapat kubendung lagi. Kolaborasi antara mata dan telinga membuat bulir-bulir bening segera berjatuhan. Dengan latar belakang simfoni yang mengalun dengan sempurna dari soundtrack film kartun Ninja Hattori, rasanya ingin pingsan melihat Faisal memainkan pianika dengan khusyuk dan tenang. Aku membayangkan kesabaran dan ketelatenan guru-guru TK Musashi dalam mendidik dan melatih anak-anak asuhnya. Tak pernah marah, tak pernah membentak. Selalu lembut, penuh pujian. Hal mana membuat air mataku berlinang tanpa dapat kutahan lagi.

DSC02159Setelah lagu “100% Yuki” selesai, formasi berubah, dan mulailah lagu “Number One” berkumandang. Tembang dari grup musik SMAP mengalun membahana, menyusup ke dalam gendang telingaku dan menimbulkan sensasi aneh. Sensasi tersebut mengirimkan sinyal ke otakku, dan beberapa detik kemudian dadaku terasa sesak. Bulir bening lagi-lagi meronta-ronta dan segera kutumpahkan. Entah mengapa, hatiku mudah sekali tersentuh jika mendengar alunan musik yang mengalun merdu.

Setelah itu, acara diseingi dengan aneka permainan, seperti memasukkan bola ke dalam keranjang, atraksi menggunakan balon plastik raksasa, dan lain sebagainya.

DSC02178Acara lomba lari estafet 200 meter untuk anak TK B berlangsung tepat sebelum makan siang. Pertarungan berlangsung seru, sempat terjadi adegan balap-membalap beberapa kali. Para suporter berteriak menyemangati,
”Gambaree…Gambareee!” termasuk diriku, ikut berteriak-teriak menyemangati anak sulungku. Bahkan Enchou Sensei, ikut menyemangati Faisal,
“Faisaru-kun, gambareee…! membuatku terharu dan bahagia. Faisal berlari sangat cepat, sempat membalap lawannya dan membela tim Himawari dengan mati-matian.

DSC02183Di babak penyisihan, kelas Himawari, kelas Faisal memenangkan pertarungan sehingga lolos ke final. Pekik kegembiraan dan rona kebahagiaan menjalari wajah-wajah cilik anak-anak kelas Himawari. Tak terkecuali Mika Sensei, guru anakku, larut dalam kebahagiaan itu. Satu per satu dipeluknya ke-19 anak didiknya. Yah, kemenangan ini adalah kemenangan kelompok, bukan kemenangan individu. Memang di Jepang ini sangat ditekankan kerjasama dalam kelompok, yang ternyata sudah diajarkan sedari TK. Bibirku tak henti-hentinya mengucap syukur ke hadirat Allah SWT atas kemenangan itu.

DSC02178Di acara itu barulah kusaksikan sendiri potensi Faisal di bidang lari dan minatnya di bidang tari. Faisal yang termasuk anak hiperaktif ini ternyata menyimpan berbagai potensi. Adanya Undokai ini memang bertujuan untuk menggali potensi, minat dan bakat anak. Juga sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi diri, sehingga bisa memupuk kepercayaan diri anak. Selama ini aku sering menganggap anak yang ‘menyusahkan’ dan menganggapnya sebagai ‘beban’. Sifatnya yang hiperaktif, ditambah lagi sifat usil dan sering mengganggu adik kembarnya sering membuatku naik darah. Tapi hari ini, aku melihat Faisal sebagai sosok yang berbeda. Dia begitu ‘cemerlang’, berjaya di lapangan, dan memukauku dengan tarian, permainan pianika dan larinya yang cepat.

DSC02181Pukul 12 siang, acara dihentikan sementara untuk makan siang. Sebagai muslim, kami juga tak lupa menunaikan kewajiban sholat zuhur. Sengaja mencari tempat agak di sudut agar tidak memancing perhatian orang lain.

Acara Final lomba lari estafet 200 meter merupakan acara puncak dari keseluruhan acara. Kalau pertandingan sebelumnya melibatkan seluruh siswa, di final hanya enam orang yang dianggap tercepat saja. Tanpa kuduga, Faisal ikut juga dalam tim tersebut. Sekali lagi, Faisal dan teman-teman Himawari gumi memperlihatkan kemampuan maksimalnya dalam adu cepat kali ini.Walaupun sudah berusaha maksimal, namun kali ini anak-anak Himawari gumi gagal memenangkan pertarungan dan harus puas di urutan kedua, dikalahkan oleh anak-anak Sumiree gumi.

DSC02198Bilur-bilur kekecewaan tergambar dengan jelas di wajah Faisal. Ketika aku ingin menghiburnya dan berkata,
”Faisal hayakatta neh.” Dia malah melengos dan berlari menjauh. Aku berusaha mengerti kekecewaannya. Tapi kupikir kekalahan itu perlu juga untuk memperkaya pengalaman batinnya. Faisal yang sempat lama menjadi anak tunggal selama ini sering bersikap mau menang sendiri terhadap adik-adiknya.

Dengan adanya kekalahan ini diharapkan dia belajar menerima kenyataan, sepahit apa pun itu. Aku bersyukur dia tidak menangis. Kulihat anak-anak lain juga tak ada yang menangis. Mungkinkah guru-guru mereka sudah menyiapkan mentalnya sebelum pertandingan? Aku pun tak tahu. Namun yang jelas, budaya sportivitas ternyata telah diatanamkan sejak dini di Negeri Sakura ini.

DSC02138Langit Tsurugashima bertambah kelabu. Namun hal itu tidaklah memengaruhi keceriaan para peserta maupun simpatisan. Tampaknya kendala cuaca bukan merupakan hal yang perlu dikhawatirkan di Negeri Samurai ini. Gerimis tipis akhirnya membasahi bumi Tsurugashima, tepat pada saat pemberian piala untuk lomba lari estafet 200 meter. Tanpa kuduga sebelumnya, ternyata Faisal terpilih mewakili kelasnya untuk menerima piala dari Kepala Sekolah yang dipanggil Enchou Sensei. Kelas Sumiree gumi mendapatkan piala besar –yang merupakan piala bergilir. Dan semua kelas TK B juga mendapatkan piala, menang atau pun kalah. Bahkan semua anak mendapatkan hadiah, piala kecil dan medali ‘emas’ dari karton.

DSC02205Sekali lagi, aku takjub atas kebijakan ini. Menang atau kalah, semuanya mendapatkan hadiah, sehingga anak-anak tidak kecewa. Mereka telah berusaha semaksimal mungkin, tak menjadi soal jika mereka harus ‘kalah’. Semua tetap menjadi pemenang, karena yang dinilai adalah proses, bukan hasil.

DSC02189Aku memandang Faisal dengan tatapan bahagia. Enchou Sensei memberikan piala kepada anak sulungku, setelah itu mengusap-ngusap kepalanya. Sepertinya ada sesuatu yang diucapkan beliau, tapi aku tidak dapat mendengarnya karena jauh. Kurasa pujian karena Faisal telah berusaha keras. Tak lama setelah itu, bocah itu mengerling ke arahku seraya tersenyum. Tiba-tiba pandanganku nanar, dipenuhi oleh bulir-bulir air mata. Petir menggelegar serasa menghantam kepalaku. Oh Faisal, anakku yang selama ini manja, rewel, suka usil dan mengganggu adik-adiknya. Di balik itu semua ternyata ia menyimpan beragam potensi. Ya Allah, ya Rahman, betapa besar karunia-Mu, tapi betapa sedikit rasa syukurku. Ampuni aku yang selama ini ‘buta’ terhadap nikmat-Mu.
DSC02209

Diadaptasi dari antologi “Getar Asa Negeri Sakura” kumpulan kisah penuh hikmah dari Forum Lingkar Pena Jepang, Penerbit Zikrul Hakim, 2007.

Catatan kaki:
Otoosan: Ayah
Himawari gumi: kelas Bunga Matahari
Hayakatta: cepat (bentuk lampau)
Enchou Sensei: Kepala Sekolah
Gambare: berusahalah

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here