Adek Dua Mayam

Apalah hidup ini. Apalah aku ini. Apa Lah yang mukat mie. Seumur hidupku baru bertemu dengannya 3 kali. Benda berbentuk manusia. Berwajah manis. Banyak sekali kekurangannya. Kekurangan pertama dia takut sama mobil besar. Dia akan meuden-den (huruf e di baca seperti bunyi e di Pak Raden, belum ditemukan padanan bahasa Indonesianya). Kekurangan kedua dia akan malu kalau diganggu, merah mukanya dan akan menjauh dari tempat gangguan. Kekurangan selanjutnya dia mudah diganggu. Kekurangan keempat dia tak suka sama aku dan kekurangan terakhir ya itu: maharnya terlalu sedikit.

Mengapa maharnya sedikit? Untuk benda semanis itu. Untuk senyumannya yang meruntuhkan iman. Untuk seorang dara yang selalu menjaga auratnya, dari gigitan nyamuk. Dia juga terkontaminasi dengan pacaran bebas yang merusak kota ini. Di kota yang kurang beriman ini dimana-mana orang pacaran. Berpelukan di kendaraan. Sedangkan aku memeluk bak pisang. Karena memeluk perempuan yang bukan muhrim bukanlah ajaran Islam. Karena belum tentu yang kita peluk itu perempuan asli, mungkin saja transgender.

Mengapa maharnya sedikit? Apa karena tertangkap WH dan dinikahkan warga? Karena kurang persiapan jadi maharnya seadanya 2 mayam saja. Mungkinkah itu shortcut solution untuk pernikahan yang mahal sekarang ini. Ya mahal bagi orang yang mengangap itu mahal. Makanya anak muda memilih jalan pintas. Karena jalan utama sedang diperbaiki.

Mengapa maharnya sedikit? Apa dia janda? Apa dia begitu hina sehingga tak ada yang menginginkannya? Apa dia terlalu banyak pacaran, sehingga diragukan orisinalitasnya. Sehingga yang datang melamar laju diterima.

Rupanya bukan itu. Maharnya 2 mayam hanya candaan umminya. Saat aku berbelanja di toko keluarganya. Dia keluar senyum-senyum malu. Langsung di-bren (dimarahi). “Kamu apa tiap malam telpon-telponan? Abang sayang. Adek sayang abang.” Mamanya sambil memonyongkan bibirnya. “Pacarmu gak pernah ke sini. Apa pacaran-pacaran! Suruh datang dia ke sini. Bawa makanan. Apa abang sayangmu itu! Gak ada modal. Gak pernah bawa makanan untuk Ummi. Kalau dia cinta sama kamu. Suruh mintak terus sama Ummi. Gak bisa dia bawak 10 mayam. Bawak 2 mayam” Si Adek itu dari tadi den-den lagi bergeser-geser seperti kepiting dan berhasil keluar.

Seandainya abang sayangnya itu aku. Wah, indahnya dunia ini. Dua mayam, Bro! Bisa menghemat APBN sekitar 7 M. Tapi kembali lagi pada kemaluan. Eh, maksud saya malulah, kalau kita bawa 2 mayam. Apa nanti kata tetangga. Orang Sigli kan mahal-mahal. Kan Gengsi orang Sigli, masak dua mayam. Dua puluh mayam-lah minimal. Biar bangga dilihat tetangga. Walaupun ngutang dulu juga tidak apa-apa.
Riazul Iqbal,
1 juni 2012 di Simpang 3 Titian. Di Ambang sore nan layu. Tujuh senja kunantikan. Tiada kabar berita.

 

 

 

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

10 KOMENTAR

  1. hahaha,, lucu,
    “Kekurangan keempat dia tak suka sama aku” kekurangan yg sama yang dimiliki oleh seseorang yang saya kenal “-.-

  2. Dua mayam = 6,6 gram. Sudah cukuplah buat mahar.
    Memangnya nikah sama orang Aceh harus pakai mahar gila-gilaan? Ada yang sampai minta mahar 5 juta plus 5 mayam. Alangkah kasihan pemuda yang sudah siap menikah dari segi biologis dan dan punya etos kerja bagus tapi belum kaya. Kapan nikahnya?

  3. Beben : hehe.. ni lagi nulis lagi..

    arif : jangan galau, di aceh gak ada alasan pria patah hati. karena wanita lebih banyak dari pria

    Millati Indah: ya, di sigli kalo daerah garot dan anak orkay, mintaknya 20, kalo yang biasa saja 15 mayam.. kalo 10 org mskin dikit.. hehe.. ya banyak yang gak menikah di aceh gara2 nikah di persulit,, hehe

    bang Mirza : denden khueng… hahaa

    Nasriza : orangnya juga loh.. #bangga

  4. Ada yang sampai minta mahar 5 juta plus 5 mayam. Alangkah kasihan pemuda yang sudah siap menikah dari segi biologis dan dan punya etos kerja bagus tapi belum kaya. Kapan nikahnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here