Afifah, Sahabat Sejati

Negeri Angso Duo. Tiba-tiba saja kosa kata itu menjadi bagian dari hidup saya. Melanjutkan studi di Fakultas Pertanian Universitas Jambi, membuat saya mengenal Jambi dari dekat.Di tempat ini pula saya mengenal seseorang yang namanya begitu melekat dalam benak saya. Bahkan sampai kini.Adalah Afifah, gadis hitam manis yang mengisi hari-hari saya. Pertama kali berjumpa dengannya, saya heran, karena dia langsung menyapa saya. Seolah-olah dia sudah kenal lama dengan saya. Jambi, bagi saya adalah daerah ‘asing’. Tak heran karena saya lahir dan besar di Jakarta. Mengapa saya ‘ujug-ujug’ memilih Jambi, adalah karena ada isu bahwa ayah saya akan dipindahkan ke Jambi. Selain juga karena sudah jenuh dengan suasana Jakarta yang hiruk pikuk.

Saya masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Jambi pada tahun 1989 sehingga kami dijuluki ‘Angkatan 89’. Angkatan 89 memiliki tiga kelas, A,B dan C. Saya masuk ke kelas A, sedangkan Afifah di kelas C. Umumnya, kita lebih dekat dengan teman-teman dari kelas yang sama. Begitu pun saya, di kelas A mempunyai beberapa teman dekat seperti Tuti, Dwi dan Pedut. Dengan teman-teman dari kelas lain tidak begitu akrab. Hal ini bisa dimaklumi mengingat intensitas pertemuan dengan mereka agak jarang karena jadwal perkuliahan yang berbeda-beda waktunya. Namun saya bisa akrab dengan Afifah, yang notabene berasal dari kelas lain, ini agak mengherankan. Saya melihat ada beberapa teman dari kelas yang berbeda, namun akrab. Tapi ini karena mereka sahabatan sewaktu di SMA. Sedangkan saya dan Afifah berasal dari SMA yang berbeda, pun dari pulau yang berbeda.

Beberapa waktu kemudian, Afifah memberi tahu saya bahwa saya mirip sekali dengan sahabatnya sewaktu di SMA, Andri. Namun sayangnya selepas SMA, Andri pindah ke Jakarta dan Afifah kehilangan sahabat tercintanya itu. Maka tatkala Afifah melihat saya, dia seperti melihat Andrinya yang hilang. Saat itulah saya mengerti kenapa pada perjumpaan kami yang pertama, Afifah seperti sudah mengenal saya dengan akrab。

Persahabatan kami kian akrab, saya sering bertandang ke rumahnya, begitupun dia. Ibunya sudah kuanggap sebagai ibu saya sendiri, begitupun saudara-saudaranya. Jadi saya merasa enjoy sekali kalau ke rumahnya. Dia pun begitu. Afifah sangat akrab dengan adik bungsu saya, Sari. Saya kerapkali iri melihat Sari bermanja-manja dengan Afifah. Namun saya berusaha menepis rasa iri itu. Kenapa harus iri? Seharusnya saya senang karena tali silaturahmi tidak hanya terjalin antara saya dan Afifah saja, tapi juga antara keluarga besar kami.

Sewaktu pembagian jurusan, di semester lima, kami memilih jurusan yang berlainan. Saya memilih jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, sedangkan Afifah memilih Agronomi. Namun hal itu, lagi-lagi, tidak menghalangi kedekatan kami. Kami bertemu sepulang kuliah, biasanya Afifah yang main ke rumah saya karena jarak rumah saya lebih dekat dari kampus.

Di semester lima ini saya memutuskan untuk memakai jilbab. Hal mana membuat terkejut banyak pihak. Kenapa? Banyak teman yang mempertanyakan hal itu. Saya jawab,”Dari dulu saya memang pingin pakai jilbab”. Memang di Fakultas Pertanian waktu itu belum banyak yang memakai jilbab, jadi para jilbaber masih dianggap aneh. Sedihnya, beberapa orang teman menjauhi saya. Mungkin pakaian saya dianggap kurang `gaul`.

Walaupun sedih, saya tidak berputus asa. Saya sudah mempertimbangkan segala hal dan harus siap dengan segala konsukuensinya. Walaupun banyak yang menjauh, namun syukurnya, masih ada segelintir sahabat yang tetap setia, salah satunya adalah Afifah. Dia adalah orang yang paling rajin menghadiri pengajian rutin yang saya adakan di fakultas. Saya sudah berusaha mengajak teman-teman untuk datang, namun sayangnya sedikit sekali yang bersedia memenuhi undangan saya. Afifah merasa kasihan dan turut mengajak teman-temannya. Walaupun jumlahnya tidak banyak namun dukungan Afifah kepada saya sangat berarti.

Begitupun saat saya seminar, pagi-pagi Afifah sudah datang. Sementara saya mencari spidol dan penghapus, Afifah sibuk menyapu ruangan. Sungguh saya merasa sangat terharu dengan perhatiannya.Saat-saat saya `down`, Afifah adalah orang pertama yang menghibur saya. Rumahnya adalah tempat pelarian bagi saya, dan telinganya adalah tempat curhat yang aman. Afifah tidak suka bergosip. Dia selalu menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Jika saya mendapat kesenangan, dengan tulus dia ikut bergembira. Sebaliknya jika saya tertimpa musibah, dia selalu menghibur saya. Itulah makna sahabat yang sebenarnya bagi saya.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here