Aku (Tidak) Kreatif

Kreatif. Sesuatu yang #antimainstream menurutku. Sebab, di sanalah orang bebas berkarya tanpa ada yang melarang bahkan tidak ada yang men-judge hasil karya mereka. Di samping menyalurkan hobi, juga bisa menghasilkan uang dan membuat orang lain takjub.

Mungkinkah kreatif itu memang sudah ada sejak tangis pertama di dunia? Atau mungkin dia hadir tiba-tiba bak ibu peri dalam film Cinderella? Atau seperti tokoh hantu Jelangkung datang tak dijemput pulang tak diantar? Jika iya, aku bukan orang yang beruntung.

Anak-anak kreatif tersebar di sekelilingku. Setiap kali bertemu, baik dalam suatu divisi organisasi atau sedang tak ada kerjaan yang pasti, mereka acap kali mengeluarkan kelihaian yang membuatku berdecak kagum. Mereka sibuk berkreasi dengan kertas origami membentuk burung-burung kecil, kemudian digantung di mana saja mereka mau. Bahkan bisa menjadi gantungan kunci! Walau kemudian akan basah, namun gampang saja bagi mereka. Buat lagi dengan origami yang baru.

Bukan itu saja. Mereka juga bisa menggambar yang aduhai, menurutku. Imajinasi mampu mereka kepakkan untuk hasilkan karya. Wah, menarik sekali. Aku ingin sekali belajar bersama mereka, namun aku malu. Sebab beberapa dari temanku itu sebayaku. Aku gengsi.

Hingga dalam kegelapan malam, pernah beberapa kali aku mencoba untuk membuat karya dari origami, namun hasilnya nihil. Yang ada malah abstrak, tak jelas apa bentuknya. Mencoba menggambar bermodalkan kertas putih dan sebuah pensil. Setelah coret-coret selama beberapa menit, namun hasilnya masih miring-miring. Tak sesuai sudut antara kanan dan kiri. Jemariku belum terlatih. Ah sudahlah, aku berhenti untuk mampu menciptakan hobi baru. Berhenti bermain dengan origami, pensil dan hal lainnya.

Aku memutuskan untuk tidak lagi menyentuh dunia kreatif. Bahkan melihat hasil karya teman-temanku pun aku tak mau. Aku terlalu cemburu dan sedih. Mengapa dari sekian banyak anak manusia, aku terkena kutukan untuk tidak berada di dunia kreatif? Ah, aku terlalu egois. Aku terlalu cemburu melihat mereka yang memiliki hobi yang sangat bermanfaat.

Namun, anggapan itu berubah ketika aku bertemu dengan seorang adik cantik berumur 6 tahun. Sebut saja namanya Ahza. Anak dari seorang ibu yang posisinya sudah tetua di FLP ini. Sudah banyak buku ibunya yang kami nikmati.

Saat itu, sedang ada Pekan Kreatif Banda Aceh di Taman Putroe Phang , 1-4 Mei 2014. FLP Aceh bersama Kamoe Publishing mendapatkan kesempatan untuk memamerkan buku-buku dan hasil kreativitas anak-anak  FLP selama ini. Lantas, apa yang Ahza lakukan hingga membuat anggapanku tentang ingin keluar dari dunia kreatif tidak kulanjutkan?

Di depanku terlihat Ahza sedang mengeluarkan origami, glitter dan gunting. Sejurus kemudian, dia membuat bunga dari kertas origami dengan rapinya. Kemudian dibuatnya lagi satu bunga lagi dengan model yang lain. Dan terakhir, menabur glitter berwarna ungu di atasnya. Ketika sudah jadi, dia memperlihatkan padaku, untuk kemudian kuperhatikan baik-baik. Anak ini umurnya terpaut jauh dariku, namun kreativitasnya mencuat seperti ini. Aku semakin merasa kerdil. Kalian tahu apa yang kuucapkan setelahnya?

“Ahza, mau ga ajarin Kak Ai buat kayak gini?” Kalimat itu keluar dari mulutku tanpa penyaringan beberapa kali. Mengalir gitu aja. Tanpa malu-malu. Kalian tahu jawaban Ahza?

“Ahza mau buat burung. Kita buat burung aja yuk, Kak Ai?”

“Ahza mau ajarin Kak Ai?” tanyaku meyakinkan.

“Iya, kita belajar sama-sama ya Kak. Ahza aja lihat dari kertas ini. Terus Ahza coba-coba bikin.”

“Susah ngga, Ahza? Kak Ai ga pintar.”

Engga, Kak. Nih Kak Ai ikutin tangan Ahza, ya. Pelan-pelan aja. Ga usah buru-buru. Ini butuh perasaan, dari hati yang paling dalam. Siap-siap ya Kak Ai.”

Mulailah kuikuti tutorial mendadak dari Ahza. Pelan-pelan. Meski berapa kali harus ulang, lipat lagi. Ulang lagi, lipat lagi. Entah sudah ulang keberapa yang aku lakukan dan Ahza tetap sabar mengajari murid yang belasan tahun lebih tua darinya. Aku beberapa kali mengeluh, mengelap peluh. Beberapa kali juga ingin menyerah, namun di sana Ahza malah semakin asyik memberikan tutorial. Hingga di penghujung resah dan gelisah, akupun berhasil menyelesaikannya. Sebuah burung dari origami yang sekarang bergantung di kamarku. Hasil kreasi jemariku sendiri setelah 20 tahun aku diberi umur.

Ah, aku menemukan keasyikan baru. Ini akan terus kucoba di rumah. Hingga hasilkan bentuk-bentuk lainnya. Selama proses pembelajaran tadi, tak ada ejek-ejekan, sikut-sikutan bahkan malu di depannya. Tanpa Ahza sadari, dia mengajarkanku hakikat dari belajar, mau mencoba dan sabar dalam menghasilkan karya. Terima kasih , Ahza. Kupeluk dia erat-erat sembari membatin, Lupakan soal malu, sebab kreativitas muncul dengan banyak belajar, banyak berfikir, banyak mengamati dan banyak memodifikasi. Entah itu berbagi dengan yang lebih tua atau justru dengan yang lebih muda.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

2 KOMENTAR

  1. Woww… Lanjutkan Ai…
    Tapi jangan kayak Ahza, abis buat bunga mawar …bukannya kasih ke emaknya, malah Aslan sama Adiet yang dikasih -_-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here