Antara Aku, Dinda dan Pangandaran

Dalam hidupku, bertebaran berbagai keping, baik indah maupun buram. Salah satu keping indah itu bernama Pangandaran. Masa itu aku masih duduk di kelas dua SMP. Jadi, so culun, so lugu dan so imut gitu deh, hihi. Aku pergi bersama rombongan dari Fajar, yaitu suatu organisasi keislaman. Dan juga siswa-siswa SMA Al Chasanah, Tanjung Duren. Kami dibimbing oleh beberapa orang guru yaitu bu Kaltati, bu Wazanati dan pak Rusbiyanto. Adapun teman-teman dari Fajar yang kuingat antara lain Dinda Farida, Aminah, Endahsari Sa`diyah, Ipit, Farabi, Iwan Setiawan, Ridwan, Ivan Fanani. Dan pembimbing yang kuingat adalah mas Wahyu Purboyo, mas Dodi Pribadi dan kak Evi. Mohon maaf jika ada teman-teman yang namanya tidak kuingat ya.

Pangandaran ini merupakan petualanganku yang kedua dimasa ABG-ku. Yang pertama adalah Yogyakarta semasa kelas satu SMP. Rasa-rasanya tak banyak yang kuingat pada petualanganku di Pangandaran ini. Yang kuingat adalah aku bahagia sekali karena bisa ketawa-ketiwi bareng sohib-sohibku, Dinda, Aminah, Endah dan Ipit.

Mulai dari dalam kereta api Parahyangan saja, hatiku sudah girang bukan buatan. Terus dilanjutkan naik bis dan akhirnya tibalah kami di hutan alias cagar alam Pananjung. Kami menginap di sebuah gubug, bertemankan suara alam. Di tengah malam buta aku bangun. Dan rasanya seperti mimpi mengingat aku tengah berkelana di tengah hutan, jauh dari orang tua dan saudara. Ada sensasi aneh yang untuk pertama kalinya kurasakan dalam hidupku. Aku tengah berkelana! Hebat bukan main!

Padahal itu baru permulaan. Belum lagi menjelajah ke gua stalaktit dan stalagnitnya, berenang di mata air atau menikmati sekawanan banteng liar. Wuih! Pangandaran memang komplit. Selain bisa menikmati keindahan cagar alam Pananjung, kita juga bisa menikmati indahnya pantai dan lautnya. Two in one dech. Juga two thumbs up!

Kalo mau muter-muter pake perahu juga bisa. Tapi sayangnya, aku ketinggalan rombongan waktu itu. Yaaah, jadi gak sempet ngerasain nikmatnya muter-muter pake perahu dech.

Belum lagi menikmati keanekaragaman hayati di dalamnya. Ada lutung yang bersahut-sahutan, monyet-monyet yang tak takut untuk mendekat, rusa, burung-burung. Pendek kata suara dan irama alam berpadu dengan harmoni di sini.

Selain itu, Pangandaran juga merupakan momen untuk lebih mengakrabkan persahabatan yang memang sudah terjalin. Seperti antaraku dan Dinda. Di Pangandaran kami merasa dekaat sekali. Walaupun sesungguhnya banyak perbedaan di antara kami, aku pendiam dan pemalu, sedangkan Dinda pemberani dan vokal.

Di Pangandaranlan aku menyadari bahwa ternyata banyak juga persamaan di antara aku dan dirinya. Kami sama-sama suka berpetualang, dan sama-sama suka sunset! Adanya persamaan itu menjadi jembatan di antara dua kutub yang berbeda.

Pangandaran, dan juga persahabatanku dengan Dinda, menjadi bukti, bahwa adanya perbedaan, tidak harus menjadikan kita bermusuhan. Tapi selalu ada celah-celah untuk mencari persamaan, betapapun berbedanya kita.
Terimakasih Dinda. Terimakasih Pangandaran. Kenangan bersamamu tetap indah terpatri dalam sanubari.
Moga Pangandaran menjadi perekat persahabatan kita, sampai kapan pun. Aamiin YRA.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here