FLP Aceh, Catatan Kecil 12 Tahun Perjalanan

FLP 3

Oleh:  Sayid Fadhil Asqar

Kalau tidak bisa membuat sesuatu yang mendobrak, menampilkan sesuatu yang indah, paling tidak karyamu jangan merusak orang – Helvy Tiana Rosa.

Pencarian jati diri, itu yang mempertemukan saya dengan Forum Lingkar Pena. Anak kiri yang mengisi pikirannya dengan ideologi sosialis, mengidolakan calon dokter yang kemudian jadi ikon perlawanan generasi muda di belahan bumi sebelah sana, Ernesto ‘Che’ Gueverra. Anak kiri yang sedang berada dalam kondisi bimbang memaknai kebebasan mahasiswa namun malas menghabiskan waktu dengan debat panjang lebar tanpa solusi di kantin kampus antara aktivis liberal dengan aktivis sosialis kampus. Saat itu saya galau, bukan galau seperti bahasa remaja sekarang, tapi galau dalam makna yang sesuai dengan kamus besar Bahasa Indonesia. Tahunnya adalah 2004, bulannya saya lupa, tanggalnya apalagi.

Nevi Yuli Safitri, senior di sekolah dan teman baik saat latihan karate, yang memperkenalkan saya dengan komunitas penulis, Forum Lingkar Pena. Saya hanya sempat mengikuti beberapa pertemuan. Hanya sekali mengerjakan tugas cerpen, yang lalu membuat saya dipanggil oleh Diana Roswita, mendengarkan ulasannya yang sederhana, namun lugas, tidak mengkritisi kosong tanpa saran. Sosok muslimah berjilbab lebar sederhana, yang menunjukkan bahwa kecerdasan dan sisi religi adalah kombinasi indah di dunia modern. Jujur saja, itu jawaban atas pertanyaan yang selalu berputar di kepala saya, soal jati diri dan identitas. Diana menjawab semua pertanyaan yang sering menjadi sumber debat panjang di kampus, jati diri sejati dan kebanggaan menunjukkan identitasnya. Tanpa panjang lebar kalimat. Hanya melalui pembahasan cerpen seorang anak baru. Hanya dengan menunjukkan eksistensinya yang apa adanya. Hanya dengan kebanggaan menjadi dirinya.

Beberapa tahun kemudian, saya menemukan cara menggambarkan kondisi itu, melalui buku sosok muda yang shalih, Ustadz Salim A. Fillah. Hanya mengutip judulnya, namun mewakili apa yang dikatakan Diana Roswita. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim.

Sayangnya, setelah sejenak larut dalam atmosfir pembelajaran dan kreatifitas di FLP, saya disibukkan kembali dengan dunia radio. Dan ketika saya merasa bahwa jawaban untuk pencarian identitas itu adalah menjadi hambaNya yang utuh, baik di dunia maupun di akhirat, ujian kembali muncul. Tsunami menghancurkan bukan hanya bentang pesisir Aceh, tapi juga salah satu impian terbesar saya.

Tuhan selalu punya cara menjawab pertanyaan hambaNya. Saya yang kembali kehilangan arah selepas tsunami, bahkan mulai meragukan arti keberadaanNya, di tuntun untuk berjumpa kembali dengan sosok-sosok biasa namun keberadaan mereka memiliki nilai luar biasa. Para penulis muda, dan mereka yang percaya pada impian menjadi penulis. Dengan karakter yang semuanya berbeda. Saya tidak ingat lagi caranya, namun saya mendapat pemberitahuan untuk hadir ke FLP, yang kini menempati satu ruang sederhana di sisi rumah Kak Mar, salah satu pengurus FLP.

Saya, dengan jeans belel, merokok, dan dua anting-anting perak di puncak telinga kanan, duduk bersila bersama mereka yang tidak terlalu saya kenal, namun tidak memperlakukan saya sebagai orang asing. Meski FLP mengusung nilai keislaman dan pesan kebenaran dalam tulisan-tulisannya, namun saya tak melihat kesan ‘tertutup’. Teman-teman saat itu adalah orang-orang dengan warna karakter yang berbeda. Ada yang jelas-jelas aktivis lembaga dakwah kampus, ada yang sebaliknya, ada yang serius dalam karakter tulisannya, ada yang penuh dengan canda. Penyuka sastra, tertawa santai dalam canda penuh kutipan dari novel remaja yang gokil karya Boim. Yang suka berita, serius mengikuti ketika cerpen dibahas. Semua menikmati keberagaman itu.
Pencarian jati diri, yang membuat saya mencoba ikut berbagai komunitas, sehingga kemudian dipertemukan dengan FLP. Dan disitu saya menemukan jalan yang selalu saya pertanyakan, mungkinkan nilai agama dipertemukan dengan dunia modern. Ternyata selama ini kesan tak mungkin hanya karena saya kurang referensi. Selama ini hanya dicekoki satu sisi dunia saja. Sisi kebarat-baratan yang memang sengaja ditawarkan pada anakmuda. Di FLP saya melihat sosok mbak Helvi dengan kecerdasan dan kecermatannya, hadir dengan konsep kepenulisan yang harus membawa manfaat kebenaran dan kebaikan. Sehingga sastrawan besar indonesia Taufik Ismail menyebut FLP sebagai anugerah Allah bagi Indonesia.

Apapun kata orang, ada satu muatan khusus dalam karya yang dihasilkan oleh penulis yang lahir dari FLP. Mungkin mengutip pernyataan Helvy Tiana Rosa sang pendiri, dengan tegas mbak Helvy mengatakan “Kalau tidak bisa membuat sesuatu yang mendobrak, menampilkan sesuatu yang indah, paling tidak karyamu jangan merusak orang”.

Pernyataan tegas, tanpa basa-basi. Dan itu yang membuat saya semakin kagum. Ketika banyak penulis yang berlomba-lomba menjadi penulis opurtunis yang menghasilkan karya biasa saja yang selalu berubah haluan mengikuti trend, ketika sebahagian penulis lainnya meneriakkan eksplotasi seksual dengan alasan kebebasan berkarya ataupun sastra. FLP hadir dengan sebuah komitmen indah. Karya yang mencerahkan, karya yang bermanfaat, karya yang didalamnya benih kebaikan disemai indah. Bukan hanya sekedar ditulis, bukan hanya sekedar yang penting nulis.

Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy, Ketika Mas Gagah Pergi dari Helvy Tiana Rosa, Catatan Hati Seorang Istri tulisan lukisan cinta Asma Nadia, dan banyak lagi tulisan yang membacanya mewarnai jiwa. Mungkin ini karena kata-kata seorang sastrawan senior Putu Wijaya yang mengatakan pada Helvy kecil ketika mengamen di Taman Ismail Marzuki, “Helvy, Menulis adalah perjuangan”.
Kata yang mungkin tanpa sadar, atau justru dengan sadar, meresap dalam misi kepenulisan FLP, perjuangan untuk menjadi kekuatan bagi bangsa.

Meskipun sekarang saya tak lagi rajin menyambangi sekret yang sudah semakin baik dan tertata, baik program maupun ruangan. Namun laman jejaring sosial FLP Aceh masih sering menjadi tempat menyusuri cerita tentang FLP.

16 tahun perjalanan FLP di Indonesia, 12 Tahun mewarnai dan melangkah di tanah Aceh. Ada banyak cerita di dalamnya. Ada sahabat yang sudah tiada, ada juga wajah-wajah baru yang muncul. Memang tak semua saya kenal, karena bila diminta membayangkan ruang tempat FLP berkumpul, pertama yang muncul dalam ingatan adalah ruangan di samping rumah kontrakan yang sederhana di pinggiran kota. Lalu yang kedua, lantai dua ruko satu pintu tempat saya pertama mengenal FLP, saat itu masih miskin buku, dengan rak yang berisi buku seadanya, tersusun seperti gigi sisir yang patah, jarang dan berselang. Itupun ingatnya samar-samar.

Wajah yang saya kenal pun terbatas, Almh. Diana Roswita, Almh. Nevi Yuli Safitri, ‘Ibu’ anak-anak FLP Kak Mardiana Hasan yang ramah, Kak Miko ‘Himmah Tirmikoara’, Kak Cut Jan dan Intan yang bersemangat. Ferhat yang dulu begitu culun (suer dulu begitu, saya ga bohong), Ali, Arief dan Ubay — yang dengan Ferhat — selalu menculik buku curhat dan mengembalikan buku itu penuh dengan karya ajaib mereka. Eqi, yang seperti saya, ‘pendiam’. Razak, dokter super serius dengan karya-karya sastra yang luar biasa, namun selalu merendah tidak menganggap karyanya sastra, hanya tulisan sederhana katanya. Riza yang kuat dalam analisis dan featuresnya yang selalu membuat saya, diam-diam, bilang woow. Lilis, Nelly, Herita, Sri, Rubi, Icap, dan banyak lagi. Ingatan saya berada pada masa itu.

Dengan berat hati, saya tak banyak bisa bercerita tentang sosok hebat seperti wartawan tarbawi kita, Ibnu Syahri Ramadhan, kritikus dan penulis Anugrah Roby Saputra, ibu muda nan kocak namun handal Beby Haryanti Dewi, novelis Abu Rahmatul Fitriadi, kak Mulla Keumalawati yang rajin nulis catatan perjalanan, dan generasi hebat bersama mereka, mereka adalah wajah baru bagi saya, tapi tetap saja, kiprah mereka membuat saya sangat bangga bisa berkata, beneran dulu saya aktif lho di FLP.
Tidak semua nama saya kenal, tidak semua nama saya ingat. Tapi mereka semua adalah warna dari setiap baris spektrum cahaya dunia kepenulisan yang menghiasi sejarah Indonesia, terlepas kelak mereka akan besar di atas pentas atau besar berkiprah di belakang layar.

Ada satu lagi nama istimewa bila mengingat FLP, seorang penulis yang tajam mengritisi tulisan dan pendapat saya, entah apa salah saya, karena itu sudah terjadi sejak pertama bertemu di FLP. Hefa Liza Yanti, sekarang istri saya tercinta. Tapi maaf, itu lain cerita. Dan bukan tempatnya saya tulis di sini.

Selamat milad yang ke-12, FLP Wilayah Aceh. Bangga membersamaimu dalam berkontribusi bagi bangsa.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here