I Was An Ordinary Student

Kalo murid lupa ama gurunya, itu namanya kelewatan. Tapi kalo guru lupa ama muridnya, itu sih wajar-wajar aja. Ketika aku menginjakkan kaki di pelataran parkir SMA Negeri 78, almamaterku, itu juga yang terpikir di benakku. Masihkah guru-guruku ingat kepadaku? Kalaupun tidak ingat, yah tidak mengapalah. Yang sekolah di sini kan ribuan. Diriku hanyalah seorang Mala, murid yang gak smart-smart amat, gak cantik-cantik amat, gak ngetop-ngetop amat. Yeah, I was an ordinary studentlah. Student yang biasa-biasa aja. So, diriku telah mempersiapkan mental jauh-jauh hari sebelum melangkahkan kaki di almamaterku tercinta ini.

Adalah Elvi Susanti, sahabat yang telah berbaik hati menemaniku di siang bolong itu. Teriknya mentari tak dihiraukan, keinginan kami hanya satu, ingin berjumpa dengan para guru yang kami cintai. Dengan ragu, kami berdiri di depan pintu, bermaksud mengetuk pintu ruang guru. Tiba-tiba di tengah keraguan itu seorang wanita berjilbab lewat, meneguhkan iman kami. Malaikatkah dia? Entahlah, kusendiri pun tak tahu. Tapi dialah yang mengetukkan dan membukakan pintu untuk kami. Kalau dia tak ada, mungkin bisa setengah jam kami berdiri di depan pintu. Tak sampai hati atau lebih tepatnya, tidak mempunyai keberanian untuk masuk ke ruangan nan berwibawa itu.

Alkisah, sampai jua kami ke dalam. Kok, sepi? Salah seorang guru, diiringi tatapan keheranan, menanyakan maksud kedatangan kami.

“Mau silaturahmi dengan guru-guru, kangen aja,” jawabku singkat.
“Oooh…” segera saja kami disambut dengan suka cita. “Silakan duduk,” kami pun dipersilakan duduk di sofa empuk. Pak Dudi, bu Tri, bu Reni dan bu Masriah. Pak Dudi adalah guru Bahasa Indonesia, bu Tri guru PSPB dan Sejarah, bu Reni guru lukis dan bu Masriah guru Biologi. Bu Masriah pernah menjadi wali kelasku sewaktu di kelas dua. Tapi beliau seperti tidak mengenaliku. Tak apalah. Wajahku memang sudah jauh berubah. Dulu rambut panjangku kubiarkan tergerai. Namun sekarang aku sudah berjilbab, dan berkaca mata pula. Sohib-sohibku di SMP 111 juga banyak yang tak mengenaliku kini.
“Mala kok sekarang kok mukanya lain banget yah,” kata Maya, salah seorang sohibku.
“Ya iyalah, sekarang kan udah berjilbab,” timpal Suci, sohibku yang lain.

Jadi tak perlu berkecil hati, Mala. Mereka sudah berkenan menerimamu saja sudah bagus. Ya gak. Jadilah bu Reni dan bu Tri menemani kami berdua. Cerita-ceriti tentang teman-teman kami yang sudah sukses, dan sebagainya. Tak lupa juga kami menanyakan khabar guru-guru yang lain. Ketika bu Reni dan bu Tri menceritakan beberapa orang guru yang telah berpulang ke rahmatulloh, tak urung dada kami terasa sesak oleh rasa duka yang mendalam. Semoga Allah merahmati guru-guru kami, mengampuni dosa-dosanya, menerima segala amal ibadahnya, dan menempatkan mereka di surga-Mu yang indah. Aamiin.

Bu Reni dan bu Tri menambahkan kalau minggu ini sedang ulangan umum, jadi guru-guru banyak yang sudah pulang.

Sementara itu bu Masriah kelihatannya sedang membuat kunci jawaban. Agak lama karena harus mengarsir bulatan dengan pensil 2B. Wah kayak mau SPMB aja neeh. Aku memandanginya. Sebenarnya aku pun tidak mengenalinya tadi dari jauh. Karena beliau sudah berjilbab. Tapi setelah dekat barulah kusadari bahwa beliau pernah menempati tempat khusus di hatiku karena pernah menjadi wali kelasku.

Setelah ngobrol ngalor ngidul akhirnya kami pun minta diri. Sebelum pulang aku meminta izin untuk berfoto bersama. Buat kenang-kenangan di Aceh nanti. Bakal pengobat rindu, gitu. Tak lupa, aku mengajak bu Masriah untuk turut serta.

Setelah berfoto bersama, bu Masriah minta maaf.
“Ibu lupa hari ini Biologi, jadi Ibu buru-buru buat kunci jawaban.” Ooh, gitu toh.

Setelah menanyakan akan jati diri kami berdua, tiba-tiba beliau baru `ngeh`.
“Ooh, ini Mala? Ya Allah! Duh, kok kamu lain banget yah. Maaf ya Ibu nggak ngenalin.”
Menggebu-gebu sekali nampaknya. Dalam hati agak girang juga, ternyata beliau masih ingat dengan diriku.

Lalu beliau menceritakan para anak didiknya yang sudah sukses menjadi dokter. Ada yang ahli jantung, dokter gigi. Juga ada yang sudah selesai S3. Doktor, bro!.

Sejujurnya, aku ikut bangga dan bahagia dengan kesuksesan yang telah diraih oleh teman-temanku. Dan terharu karena mereka masih ingat dengan guru-guru mereka, termasuk ibu Masriah di dalamnya. Sesungguhnyalah, para guru kami telah meletakkan dasar-dasar keilmuan maupun keimanan bagi kami. Di manapun kami berada, petuah-petuah guru-guru kami selalu terngiang di telinga. Ya Allah berilah rahmatMu kepada mereka. Berkahilah mereka. Karuniakanlah mereka dengan ridho-Mu selalu. Aamiin.

“Aduh kasian jauh-jauh dari Aceh. Datengnya kesiangan sih. Sekarang kan lagi ulangan umum, jadi pulangnya cepet. Oh iya, besok kan ada buka puasa bersama, dateng aja. Anak-anaknya dibawa aja semua, biar liat Nenek-neneknya, hehehe.”

Lagi, rasa haru menyeruak kalbu. Mereka begitu menghargai langkah kakiku yang ingin bersua dengan guru-guru. Dan sangat mengerti betapa kerinduanku begitu membuncah ingin bertegur sapa dengan mereka. Sehingga undangan buka puasa bersama pun dilayangkan kepada kami, aku dan Elvi.

Terimakasih guruku. Terimakasih karena telah mengingatku. Di antara ribuan murid-muridmu. Semoga Allah membalas segenap jasamu. Aamiin.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here