Katakan yang Benar Walaupun Pahit Adanya

Pagi itu, aku berencana untuk menghadiri kunjungan sosial Dharma Wanita Fakultas Tehnik Unsyiah. Kami janjian kumpul di fakultas jam sembilan pagi. Beberapa ibu datang tepat waktu. Dan jam 9.30 rencananya kamipun hendak berangkat. Tapi ada tiga orang lagi yang sudah menyatakan akan ikut, tapi belum sampai. Terpaksalah kami menunggu ketiga ibu tersebut, walaupun dalam hati ada perasaan tidak sabaran juga.

“Katanya udah di jalan,” seru Bu Dekan setelah menelepon. Perasaanku agak lega karena mungkin sebentar lagi ibu-ibu yang kami tunggu itu akan bermunculan.
Lalu segera saja kami berdiskusi (sambil bercanda) tentang itu. Bahwa kata `udah di jalan` itu bermakna luas. Di jalannya itu di mana. Apakah di Simpang Jambo Tape, atau di Lamnyong, atau malah di jalanan depan rumah. Halah! Maksudnya, tetap saja kita tidak bisa memperkirakan berapa menit lagi dia akan sampai, karena dia tidak menyatakan lokasinya secara spesifik.

Ingatanku melayang waktu aku `pulang kota` beberapa waktu yang lalu. Beberapa teman alumni SMP rencana ngumpul di rumah salah seorang teman, sebut saja Budi. Setelah semuanya datang, ternyata ada sepasang suami istri teman kami yang belum tiba. Sebelum pergi, aku sempat sms-an dengan Ali, sebut saja begitu. Ali bilang dia akan telat karena mau ke makam dulu. Terus terang aku agak was-was juga karena si Ali ini tinggalnya di Bogor. Jam berapa dia akan nyampe di rumah Budi. Soalnya Bogor-Slipi itu jauh lho. Benar saja. Tunggu punya tunggu si Ali dan Dini, istrinya serta dua anaknya tak kunjung tiba. So, Budi menelepon Ali.

“Katanya udah di Taman Mini,” seru Budi.
“Taman Mini? Berarti masih jauh dong!” timpal Feri, temanku yang lain.
Mendengar hal ini, aku jadi geli sendiri. Kenapa si Ali memakai kata `udah`, padahal dia pasti tau bahwa Taman Mini-Slipi itu lumayan jauh. Kata `masih` seharusnya yang lebih tepat. Aku menduga bahwa si Ali mencoba meredam kegelisahan kami dengan perkataannya itu.
Tapi dilain pihak aku juga salut atas kejujuran Ali. Walaupun terdengar pahit, setidaknya dia berkata jujur.

Aku telah melihat dalam soal-soal begini kerap orang terpaksa bohong. Ngakunya udah di jalan padahal masih di rumah. Atau ngakunya udah deket padahal masih jauh. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menentramkan hati orang yang menunggu agar lebih sabar menunggu. Tapi kenyataannya kok gak nyampe-nyampe yak!

So, lebih baik jujur, walaupun pahit adanya

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here