Mahar Oh Mahar

Bunga Uang

Oleh: Risma Armia

Bunga UangPembicaraan hangat di Facebook akhir-akhir ini adalah mengenai tema menikah. Seseorang hampir setiap hari memprovokasi teman-temannya untuk segera menikah melalui status Facebook. Ini membuat saya ingin tertawa.

Permasalahan lainnya adalah bahwa ternyata harga emas di pasaran sedang tinggi. Mengetahui ini, saya kembali tertawa. Apakah saya keterlaluan jika menertawakan hal ini?

Bagaimana tidak, saya berpikir kasihan sekali kaum laki-laki yang belum menikah dan ingin segera menikah. Mereka harus selalu mengamati harga emas di pasaran. Saya baru tahu ternyata laki-laki “menekuni” pekerjaan ini.

Kemarin siang, saya dan dua teman kampus membicarakan masalah mahar. Mereka ke kost saya dan kami menghabiskan siang menjelang Jumat dengan membahas masalah seputar mahar.

Teman 1 mengatakan sambil tertawa bahwa ia nanti akan menikah dengan mahar emas 24 karat. Saya menanggapinya dengan kalimat, “24 besi berkarat?”

Kami tertawa.

Teman 2 mengatakan bahwa ia ingin menikah dengan mahar seperangkat alat shalat saja. Ia mengatakannya dengan serius, padahal ia tergolong anak yang melimpah dari segi materi. Saya terdiam. Teman 1 menjawab dengan kalimat yang tak kalah serius, “Jangan bermain-main dengan mahar seperangkat alat shalat. Karena itu bukan tok sebagai simbol belaka.”

Saya takjub mendengar jawaban Teman 1 barusan dan terkagum-kagum dengan jawaban dari Teman 2 yang ingin menikah dengan hanya seperangkat alat shalat. Mereka teman-teman saya yang pemahaman agamanya masih agak minim, namun pemahaman tentang permasalahan ini mereka kuasai dengan baik.

Alhamdulillah, pembicaraan kami mengenai mahar walau singkat namun mampu memberikan sesuatu yang baru dalam diri kami. Dan sebenarnya kami lebih banyak tertawa dari pada berbicara. Kami menertawakan mahar dan segala proses adat dalam menikah. Dari mulai hiasan pelaminan, tempat dilaksanakannya pesta perkawinan, tamu yang hadir, konsep acara pernikahan, sampai hiasan kamar pengantin.

Teman 1 begitu kesal karena biasanya kebiasaan di Aceh, saat pesta perkawinan, tamu yang hadir memaksa diri mereka untuk masuk ke dalam kamar pengantin dan mengomentari semua yang ada di dalamnya. Mulai dari jenis ranjang, hiasannya, dan apa saja isi di dalam kamar. Teman 1 begitu cerewet, “Yang menikah, kita apa mereka sih! Suka banget kritik ini, kritik itu.”

Saya melongo. Saya benar-benar terlihat bego di depan teman saya. Selama ini, bahkan saya tak pernah berpikir sedikit pun tentang kamar pengantin, mesti dihias begini-begitu, dan nantinya bersiap-siap menuai pertanyaan dan kritik dari tamu undangan (terlebih tamu yang disekitar rumah) mengenai apa saja yang terdapat didalam kamar.

Saya menanggapi pernyataan teman 1, “Mengapa orang tua tak melangsungkan pesta dengan sederhana saja, tidak perlu banyak hiasan atau undangan? Pesta pernikahan menurut saya adalah saat dimana sebuah keluarga menghambur-hamburkan uang.”

Teman 1 menyahut, “Segala sesuatu dihari pernikahan kita itu penting, Risma. Karena peristiwa itu hanya kita alami sekali seumur hidup. Biarkan orang tua kita yang berkreasi. Kita iya-iya saja.”

Kami kembali tertawa dan menyudahi pembicaraan untuk berwudhu dan shalat Dhuhur. Sehabis shalat, Teman 3 datang ke kost saya. Kami menceritakan apa yang kami bahas padanya mengenai mahar. Teman 3 mengatakan, “Mengapa maharnya tidak sebongkah besar batu kali (batu sungai) saja?”

Kami tertawa.

Banda Aceh
Sabtu, 17 September 2011 / 08.54

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

10 KOMENTAR

  1. Berarti saya termasuk dari sedikit lelaki yang tidak peduli dengan berapa harga mayam emas dewasa ini. Hehehe…

    Menurut saya, harusnya mahar itu tidak memberatkan kedua belah pihak, toh menikah itu adalah ibadah lantas kenapa harus diberatkan untuk dijalani.

    Tuhan sendiri sering memberikan kita kemudahan, lancangnya manusia yang malah suka buat susah. Hahaha…

  2. Hehehehe…
    Tp skarang malahan risma yg jd pakar “mahar” kalo kita2 lg nongkrong..
    Stelah sebelumnya jd pakar jenglot.. **piece…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here