Menghadirkan Keteduhan di Rumah Sendiri

Rumah kita meskipun konstruksinya sederhana, adalah tempat di mana kita memulai segalanya. Ada  potongan cerita yang patut untuk dikenang di sana. Di rumah kita itu. Seperti apapun cerita yang pernah terukir di sana. Duka, kepiluan, kehangatan, atau perasaan bahagia semuanya itu tetap saja mampu menghadirkan rindu.

Seperti apapun pesona di luar sana, semestinya rumah kita tetaplah menjadi tempat yang paling nyaman. Begitu pula sebaliknya, kerunyaman seperti apapun yang kita alami. Pulang ke rumah adalah cara kita menghadirkan kembali ketentraman jiwa. Karena itulah, semestinya pula kita memang harus mengerti, bagaimana menghadirkan keteduhan di rumah sendiri.

Rumah kita adalah saksi bisu dari setiap potongan episode kehidupan kita. Secara fisik rumah adalah konstruksi yang utuh. Akan tetapi, setiap fragmen yang pernah terjadi di dalamnya, menjadikan rumah memiliki ruang rindunya sendiri dalam hati kita. Pun orang-orang yang pernah hadir di dalamnya. Keluarga, sahabat atau tetangga. Rumah menyatukan rindu kita pada sosok mereka.

Meskipun kita telah jauh pergi dan menemukan banyak hal yang menyenangkan. Pulang ke rumah tetap memiliki daya tariknya sendiri. Ini memang agak mengharukan. Apa lagi kita punya cerita yang bila mengenangnya, membuat diri ini tidak kuasa membendung keharuan.

Padahal cerita itu sederhana saja. Seperti saat kita duduk di bibir pintu menanti ayah pulang. Lalu, berlari-lari menyambut ayah di halaman rumah kita yang meskipun tak begitu luas. Atau ruang tamu, tempat yang bila magrib tiba, ibu mengajarkan kita melafadzkan huruf-huruf hijaiyah. Yang sering kali kita terkantuk-kantuk mengikutinya.

Semua cerita haru itu rasanya terekam lekat pada dinding-dinding rumah kita. Rumah yang meskipun konstruksinya sederhana itu. Ada desakan jiwa untuk kembali mengenangnya. Karenanya, pulang ke rumah bukan hanya perkara berteduh untuk melepas letih. Ada alasan lain mengapa kita harus pulang. Alasan yang menempatkan jiwa kita benar-benar nyaman berada di rumah.

Seperti yang diungkapkan Ahmad Zairofi, bahwa kerinduan kita pada rumah, pasti melebihi dimensi fisiknya sebagai bangunan tempat orang berteduh. Sejatinya kerinduan itu merupakan kerinduan kita pada kehidupan itu sendiri. Kesadaran inilah yang pada akhirnya membuat kita mengerti, bagaimana menghadirkan keteduhan di rumah sendiri.

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here