Menikmati Kerja Perhatian dan Sensasinya

Antusias adalah padanan kata yang dapat mewakili niat awal saya ketika hendak melangkah ke jenjang mahligai pernikahan di tahun 2005. Antusias setara optimis bahwa semua akan berjalan dengan baik dan sempurna. kepercayaan akan niat yang baik insya Allah akan membawa hasil yang baik pula. Walau kondisi sebenarnya yang sedang terjadi di sekililing kami mengambarkan hal sebaliknya.

Tahun 2005 adalah tahun kelam bagi kami, masyarakat Aceh. gempa dan Gelombang Tsunami menghancur leburkan kebahagiaan ratusan ribu generasi Aceh. Termasuk saya. Melihat sendiri bagaimana dahsyatnya gelombang tsunami menghantam rumah dan bangunan membawa jiwa dan harapan kami mencelat hingga terkubur jauh dalam bumi. Jangankan berpikir untuk menikah, untuk makan esok hari saja kami nyeri memikirnya. Beruntunglah, Keimanan yang tersisa di dada menumbuhkan kembali kepercayaan  akan betapa maha pengasih dan penyayangnya ALLAH. Berbekal tekad di dalam dada, Bismillah…lamaran pun di hantarkan.

Maka sejak itulah saya mulai memasuki labotarium kehidupan yang sangat unik yang dikenal dengan nama pernikahan. dimana spesimen penelitiannya adalah jiwa-jiwa yang sejatinya berbeda namun beresonansi dalam akhlak dan cara tuntunan yang serupa.

Bagi kebanyakan lelaki, termasuk saya menganggap pernikahan sebagai fase baru bagi keteraturan hidup. Makan lebih teratur, pakaian lebih rapi, tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Sedangkan normalnya bagi seorang perempuan, pernikahan secara umum diterjemahkan sebagai terpenuhinya nafkah yang cukup memanjakannya untuk mendapatkan kebutuhan optimal yang di konversi dengan perhatian penuh dan bakti kepada suaminya. Ini adalah pernikahan yang paling banyak di pahami oleh masyarakat.

Tak mengherankan bila kemudian lelaki yang melangkahkan kaki melewati gerbang pernikahan  pada umumnya adalah para lelaki yang memiliki penghasilan dan kekayaan tertentu. Sedangkan bagi perempuan yang dinikahinya tentunya adalah perempuan yang cantik serta menyenangkan matanya. Ini dianggap dispensasi dari nafkah yang diberikan kepada sang istri. Maka menjadi kewajaran ketika saya memilih untuk menikah diusia yang menurut sebahagian orang era terlalu muda, banyak yang menyayangkannya. Ketidak-siapan materi adalah salah satu alasan utama.

 

Padahal, faktanya memiliki pekerjaan dengan penghasilan tertentu dan memenuhi nafkah lahiriah saja tidak akan pernah menjamin pernikahan yang sakinah wa rahmah. ada kebutuhan di dalam jiwa yang sama penting dengan kebutuhan didalam tubuh mesti dipenuhi dengan baik. yakni kebutuhan akan perhatian. Mampu melakukan kerja-kerja perhatian lah yang pada akhirnya mampu menjadi penentu kekal atau tidaknya kesatuan antara jiwa yang di ikat oleh akad pernikahan.

 

Kerja perhatian merupakan bentuk pembuktian mendasar dari komitment cinta dan bertanggung jawab. Kerja perhatian lebih kompleks dibandingkan kerja apapun di dunia ini. Karena berbeda dengan pekerjaan biasa yang dibayar dengan sejumlah penghasilan bulanan ataupun harian, kerja perhatian mendapatkan upah berupa rasa hormat, perasaan disayangi dengan tulus dan dihargai secara mempesona.

 

Pada masa awal pernikahan, masing-masing individu secara naluriah memberikan perhatian penuh kepada pasangannya. Saya pun melakukan hal yangserupa. Semua aktivitas sehari-hari menjadi penting untuk diperhatikan dan di ekspresikan. Baik sekadar mencuci pakaian ataupun berbelanja kebutuhan pokok. Seiring berjalan waktu, perhatian kepada aktifitas pasangan menjadi berkurang disebabkan beban berbagi peran yang telah menjadi kesepakatan umum. Lelaki tentunya mencari nafkah, bila bukan mencari nafkah untuk apa menjadi suami, perempuan yang mengurus rumah, memasak, bila bukan itu untuk apa menjadi istri.

Seiring perjalanan waktu, pekerjaan suami dan pekerjaan istri bertambah dan bertambah. Sedangkan perhatian dirasa berkurang secara drastis. Intensitas rasa sayang dan cinta menjadi berkurang bahkan bisa saja hilang. Pemberian hadiah disela-sela aktifitas menjadi jarang, tak jarang istri mulai lupa berdandan kepada suaminya dan suami lupa mengucapkan terimakasih untuk makan siang yang disiapkan oleh istrinya. Inilah titik awal dari kelumpuhan hubungan pernikahan.

Beberapa waktu yang lalu, seorang mahasiswa yang menikah diusia 20 tahun mengadukan nasib rumah tangganya kepada saya. Dia telah menikah 5 tahun namun merasa tidak bahagia.

“Ternyata, apa yang di ungkapkan dalam buku-buku motivasi bahwa menikah di usia muda itu indah tidak benar sama sekali. Buktinya, kuliah saya hancur, Saya tidak mendapatkan pekerjaan bagus karena Cuma berijazah smu, istri sakit-sakitan hingga sulit mengurus rumah dan menjaga anak. Harus pula menanggung kehidupan mertuanya yang janda dan menumpang dirumah.”

“Memangnya apa makna kebahagiaan bagimu?”

“Bahagia itu ya setidaknya tercukupi kebutuhan nafkah. Memiliki istri yang dapat taat kepada suami secara mutlak.”

“Dan selama ini kamu tidak mendapatkan itu?”

“Tidak sama sekali.”

“Jadi mengapa kamu tidak memilih bercerai saja?”

“Pernah terpikir seperti itu. namun saya melihat menikah tanpa bahagia lebih baik daripada bercerai dan mengulangi lagi dari awal lagi tapi belum tentu bahagia. Terlebih lagi rata-rata teman-teman saya yang sudah menikah kelihatannya juga lebih bahagia dibandingkan saya.”

Saya prihatin dengan nasib lelaki tersebut dan pasangannya.Serta lebih-lebih prihatin dengan nasib ribuan pasangan yang lain yang memiliki persepsi yang sama.

Di lain kesempatan, seorang perempuan yang baru menikah 1 tahun lalu pernah mengeluhkan kepada saya hal yang serupa namun dengan versi yangagak berbeda.

“Saya sudah setahun menikah dengannya namun jujur saya hampa akan cinta.”
hampa akan cinta? apa pula maksudnya ini……

“Lalu mengapa dulu menerima lamaran dari suamimu?”

“Karena orang tua memaksa dan usiaku sudah lebih 26 tahun.”

 

Dan entah berapa banyak lagi pernikahan paksa ala siti nurbaya yang memiliki kisah gagal bahagia sejak dari awal. Bagi saya fenomena gagal bahagia ini disebabkan mereka telah memiliki gambaran pernikahan yang berbeda sedari awal dengan kenyataan yang dihadapinya. sayangnya mereka memilih terus membawa persepsinya di alam pikirannya walau kenyataannya berbeda dengan persepsinya dan menganggap legenda pernikahan didalam kepalanya sebagai bentuk pernikahan yang riil.

Contohkanlah untuk kisah lelaki pertama. Dia adalah mahasiswa yang kemungkinan besar terinspirasi dengan buku-buku pranikah yang mengambarkanpernikahan itu akan seindah dan seromantis kisah Ali dan Fatimah. Ataumenceritakan bagaimana keindahan pernikahan Rasulullah. Hingga seringnya sang lelaki tersebut melupakan masalah dan derita yang dihadapi oleh Rasulullah ataupun Ali setelah menikah.

Bukankah Rasulullah pernah memakan cuka dan ridhanya karena hanya itu yang tersisa dirumah? Bukankah Fatimah pernah meminta seorang pembantu pada rasulullah karena beban pekerjaan rumah tangga yang begitu berat diatas pundaknya? Bukankah Ali RadhiAllahu anhu pernah menimba air sumur yang sangat dalam untuk digantikan dengan dua tiga genggam kurma? Apakah cerita kesungguhan rasulullah dan para shahabat dalam menempuhi rumah tangganya ini terlewatkan olehpara pembaca buku-buku pranikah?.

Begitupun dengan perempuan yang mengeluhkan pasangannya dan merasakan hampa akan cinta. Sungguh perempuan ini seharusnya tahu hidup dalam pernikahan sejatinya tidak hanya bicara soal cinta. Umar Radhiallahu anhu telah berpesan: Bila menikah hanya dilandasi oleh rasa saling mencintai, maka dimana kedudukan iman dan kehormatan didalam masyarakat? Inti dari pernikahan bukan hanya soalan cinta saja. Namun lebih tinggi daripada ini. Pernikahan akan menyempurnakan iman dan menjaga kehormatan bagi keduanya.

Pertanyaan besarnya kemudian adalah, mengapa pernikahan menyempurnakan iman? Ini yang selalu saya tanyakan pada diri sendiri ketika awal berumah tangga. Belajar dari pernikahan pada Al Anbiya, maka kita tahu ketidak-bahagiaan sendiri adalah keniscayaan sebagaimana kebahagiaan yang datang silih berganti. Maka kesempurnaan iman itu adalah berada pada prasangka baik kepada Allah akan bahagia dan tidak bahagia itu sendiri. Disinilah iman disempurnakan. Bukankah Iman sederhananya berada dalam dua bagian besar saja,yakni Sabar dan Syukur? Bila kita tidak berbahagia maka bersabarlah, bila berbahagia maka bersyukur.

Mencontoh pernikahan Nabi Ayyub Alaihissalam, kita akan paham, betapa kebahagiaan dan musibah datang silih berganti kepada para nabi Allah, jadi mengapa kita berani menganggap kita tidak akan di uji olehAllah didalam pernikahan padahal tingkatan kemuliaan kita tidaklah berbanding sedikitpun dengan para Nabiyullah tersebut.

Pernikahan menyempurnakan iman juga disebabkan hati dipaksa oleh syariat untuk selalu condong dalam kebaikan baik dalam masa senang maupun masa susah. Rasulullah telah mencontohkan bagaimana cara beliau berperilaku kepada istri-istrinya. Tidak ada pukulan yang menyakitkan, perkataan yangmenghina, membuka aib pasangan hingga menghindari tanggung jawab walaupun dalamkeadaan marah. bahkan beliau bersabda: sebaik-baik muslim adalah yang berperi laku lemah lembut kepada istrinya.

Pada akhirnya, hanyalah kerja perhatianlah yang mampu membuat ritme kehidupan didalam rumah tangga tetap melaju kedepan walaupun banyak kendala yang dihadapi.

Lalu bagaimana bentuk kerja perhatian dan sensasinya rasa di dalamnya?

Bila ditengah malam anak kita berumur 1 tahun terbangun dan menangis karena merasa haus,sedangkan istri sedang dalam kondisi sakit. Maka nikmatilah sensasi menjadi seorang ayah yang mengurus anak. Tentu saja seorang suami dapat mengganggap“aku terlalu lelah karena kerja sampai sore” dan tentu dia berhak untukistirahat, namun kenyataannya seorang anak butuh kerja perhatian saat ini dan kita tidak memiliki pilihan lain. kita sudah sepantasnya menikmati sensasi rasanya mengurusi anak di jam 2 malam.

Bila suatu pagi seorang suami berangkat ke tempat kerja tanpa membawa bekal makan siang karena lupa, maka nikmatilah sensasi memasak bekal lalu mengantarkannya langsung ketempat ia bekerja tanpa sungkan. Itulah kerja perhatian dan nikmati saja sensasinya.

Sensasi dari kerja perhatian itu sendiri bukan hanya pada kebaikan saja, tetapi juga pada sesuatu yang menurut kita sulit untuk kita lakukan.Saya ingat ketika Lebaran lalu, tiba-tiba saja istri berniat mengunjungi teman-temannya yang dulu pernah tinggal satu rumah kost ketika kuliah. Dia sangat ingin mengunjungi mereka namun lokasi tempat tinggal mereka sungguhlah berjauhan. Beda kabupaten dan membutuhkan waktu lama mengunjungi mereka satu persatu. Maka saya memilih menikmati kerja perhatian dengan menjadi supir yang baik. Berjibaku masuk kota kecamatan yang berbeda, mencari alamat dengan cara menjemput satu-persatu teman istri dan mengajaknya mengunjungi teman yang lain. Terasa lelah memang karena kami pun pulang sudah larut malam, namun sensasi silaturrahim itu tampak berbekas dihati teman-teman istri dan istri saya tentunya. Pada akhirnya, kebahagiaan yang terasa di hati istri saya terasa lebih bermakna dibandingkan lelah yang kami rasakan. Itulahkerja perhatian dan sensasinya.
Sudah siap menikah? Bersiaplah untuk menikmati kerja perhatian dan sensasinya. Barakallahu minkum. 🙂

RH Fitriadi

Note: Tulisan sederhana saya ini adalah salah satu dari bagian dari Buku Menikah, Memuliakan Sunnah. tanpa editan dan sentuhan dari pihak editor proumedia. Segera miliki buku ini, harga 32 ribu dan 100 persen keuntungan untuk Palestina

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here