Menjadi “Mata” Bagi Orang Lain
Malam itu, aku tengah merapikan rak buku yang acakadut. Tiba-tiba kulihat sebuah buku mungil bersampul kado. Dengan keingintahuan yang besar, kutarik buku itu dan kubaca judulnya:”Surat dari Jauh” karya Laura Ingalls Wilder. Sebuah buku yang sudah lama kubeli namun belum tamat kubaca. Muncul sebersit keinginan untuk menamatkan buku itu. Namun aku tidak terbiasa membaca malam-malam karena mataku yang minus silindris ini. So, kuurungkan niatku. Tapi karena sudah telanjur penasaran kubuka juga lembar-lembar terakhir dari buku mungil itu. Tampaklah beberapa judul resep seperti kue kenari Cina, croissants (kue bulan sabit Prancis), kue madu Jerman dan lain-lain. Bertahun sebelumnya, aku sudah pernah membuka-buka lembar-lembar resep ini. Awalnya sempat heran, ngapain ibu Laura ini menulis-nulis resep di sini. Namun selanjutnya aku sangat mengerti karena sebagaimana penciptaan buku ini, resep-resep ini juga hadir dengan alasan yang sama.
Buku ini merupakan kumpulan surat Laura Ingalls Wilder kepada suaminya, Almanzo Wilder yang ditulis di San Fransisco pada tahun 1915. Laura mengunjungi anaknya yang sudah menikah, Rose Wilder Lane. Puluhan tahun telah lewat sejak Laura melintasi daerah Barat-Tengah sebagai seorang anak dengan gerobak bertudung. Kini ia melakukan perjalanan jauh dari Missouri ke California dengan naik kereta api.
Timingnya benar-benar tepat. Waktu itu San Fransisco sedang merayakan pembukaan Terusan Panama dengan mengadakan sebuah pekan raya dunia.
Karena Almanzo tidak bisa meninggalkan tanah pertaniannya, Laura menuliskan apa saja yang dilihat dan dialaminya. Surat-surat tersebut penuh dengan gambaran tentang daerah yang dikunjunginya, orang yang ditemuinya, terutama tentang keindahan San Fransisco dan Pameran Internasional Panama-Pasifik.
Surat-surat Laura, diketemukan setelah ia meninggal, menunjukkan pribadi yang hangat serta penuh rasa ingin tahu dari wanita yang kemudian menulis karya klasik seri “Rumah Kecil” untuk anak-anak berdasarkan berdasarkan pengalaman masa kecilnya di daerah Barat yang baru dibuka akhir abad ke-19. Para pembaca yang sudah mengenal seri “Rumah Kecil” akan sangat menyukai perjalanan lebih jauh ke dunia Laura dan keluarganya ini. Mereka yang baru pertama kali membaca karyanya akan terpesona oleh pandangannya yang khusus tentang San Fransisco dan kehidupan di tahun 1915.
Aku yang sejak kecil menyukai film “Little House on The Praire” yang ditayangkan di TVRI setiap Minggu siang sangat mencintai tokoh “Laura” dalam film itu. Mungkin karena usia yang sama-sama masih kanak-kanak dan pribadinya yang hangat serta riang. Dan aku baru tahu kalau kisah itu ada karena Laura berusaha menjadi “mata” bagi Mary, kakaknya yang buta.
Dan catatan perjalanan ke San Fransisco ini pun diniatkan dengan alasan yang sama. Ingin menjadi “mata” bagi Almanzo untuk melihat daerah sebelah Barat itu serta apa saja yang ada di pameran. Sungguh suatu keinginan yang mulia.
Dan adanya resep-resep ini pun muncul karena keinginan yang sama. Ijinkan saya mengutip halaman 155:
“Harus kuceritakan tentang kue mawar. Kue yang lezat sekali dan dibentuk bagaikan sekuntum bunga mawar, begitu indah dan begitu lezat. Aku yakin tak seorang pun meninggalkan tempat pMalam itu, aku tengah merapikan rak buku yang acakadut. Tiba-tiba kulihat sebuah buku mungil bersampul kado. Dengan keingintahuan yang besar, kutarik buku itu dan kubaca judulnya:”Surat dari Jauh” karya Laura Ingalls Wilder. Sebuah buku yang sudah lama kubeli namun belum tamat kubaca. Muncul sebersit keinginan untuk menamatkan buku itu. Namun aku tidak terbiasa membaca malam-malam karena mataku yang minus silindris ini. So, kuurungkan niatku. Tapi karena sudah telanjur penasaran kubuka juga lembar-lembar terakhir dari buku mungil itu. Tampaklah beberapa judul resep seperti kue kenari Cina, croissants (kue bulan sabit Prancis), kue madu Jerman dan lain-lain. Bertahun sebelumnya, aku sudah pernah membuka-buka lembar-lembar resep ini. Awalnya sempat heran, ngapain ibu Laura ini menulis-nulis resep di sini. Namun selanjutnya aku sangat mengerti karena sebagaimana penciptaan buku ini, resep-resep ini juga hadir dengan alasan yang sama.
Buku ini merupakan kumpulan surat Laura Ingalls Wilder kepada suaminya, Almanzo Wilder yang ditulis di San Fransisco pada tahun 1915. Laura mengunjungi anaknya yang sudah menikah, Rose Wilder Lane. Puluhan tahun telah lewat sejak Laura melintasi daerah Barat-Tengah sebagai seorang anak dengan gerobak bertudung. Kini ia melakukan perjalanan jauh dari Missouri ke California dengan naik kereta api.
Timingnya benar-benar tepat. Waktu itu San Fransisco sedang merayakan pembukaan Terusan Panama dengan mengadakan sebuah pekan raya dunia.
Karena Almanzo tidak bisa meninggalkan tanah pertaniannya, Laura menuliskan apa saja yang dilihat dan dialaminya. Surat-surat tersebut penuh dengan gambaran tentang daerah yang dikunjunginya, orang yang ditemuinya, terutama tentang keindahan San Fransisco dan Pameran Internasional Panama-Pasifik.
Surat-surat Laura, diketemukan setelah ia meninggal, menunjukkan pribadi yang hangat serta penuh rasa ingin tahu dari wanita yang kemudian menulis karya klasik seri “Rumah Kecil” untuk anak-anak berdasarkan berdasarkan pengalaman masa kecilnya di daerah Barat yang baru dibuka akhir abad ke-19. Para pembaca yang sudah mengenal seri “Rumah Kecil” akan sangat menyukai perjalanan lebih jauh ke dunia Laura dan keluarganya ini. Mereka yang baru pertama kali membaca karyanya akan terpesona oleh pandangannya yang khusus tentang San Fransisco dan kehidupan di tahun 1915.
Aku yang sejak kecil menyukai film “Little House on The Praire” yang ditayangkan di TVRI setiap Minggu siang sangat mencintai tokoh “Laura” dalam film itu. Mungkin karena usia yang sama-sama masih kanak-kanak dan pribadinya yang hangat serta riang. Dan aku baru tahu kalau kisah itu ada karena Laura berusaha menjadi “mata” bagi Mary, kakaknya yang buta.
Dan catatan perjalanan ke San Fransisco ini pun diniatkan dengan alasan yang sama. Ingin menjadi “mata” bagi Almanzo untuk melihat daerah sebelah Barat itu serta apa saja yang ada di pameran. Sungguh suatu keinginan yang mulia.
Dan adanya resep-resep ini pun muncul karena keinginan yang sama. Ijinkan saya mengutip halaman 155:
“Harus kuceritakan tentang kue mawar. Kue yang lezat sekali dan dibentuk bagaikan sekuntum bunga mawar, begitu indah dan begitu lezat. Aku yakin tak seorang pun meninggalkan tempat pameran internasional itu tanpa berbicara tentang kue ston dari Skotlandia.
Semua orang memakannya asalkan mereka bisa berhasil memperolehnya. Dibuat oleh seorang Skot dari Edinburgh, yang tiap hari membuat sekitar 4.000 buah kue skon, dilapisi mentega dan selai, kue-kue ini selalu jadi rebutan dan tempat penjualannya bagaikan kebanjiran manusia sepanjang hari.
Dari satu tempat pameran ke tempat pameran lainnya, aku diberi roti-roti yang dibuat khas dengan tepung Amerika kita – si gadis Cina cilik dengan pakaian piyama biru gemilang, si gadis petani Rusia dengan tulang pipi menonjol tinggi, si orang Hindu dengan sorbannya yang cerah, si orang Meksiko yang berkulit gelap dan bermata hitam – semuanya ingin tahu pendapatku tentang roti nasional mereka. Harus kuakui bahwa aku menyukai semuanya begitu rupa sehingga kuminta resep-resep pembuatannya dan dengan ini kuteruskan kepada para pembaca.”
Air mataku berlinang-linang membaca kalimat terakhir dari paragraph itu. Betapa mulia hati ibu Laura. Moga aku juga bisa menirunya.
ameran internasional itu tanpa berbicara tentang kue ston dari Skotlandia.
Semua orang memakannya asalkan mereka bisa berhasil memperolehnya. Dibuat oleh seorang Skot dari Edinburgh, yang tiap hari membuat sekitar 4.000 buah kue skon, dilapisi mentega dan selai, kue-kue ini selalu jadi rebutan dan tempat penjualannya bagaikan kebanjiran manusia sepanjang hari.
Dari satu tempat pameran ke tempat pameran lainnya, aku diberi roti-roti yang dibuat khas dengan tepung Amerika kita – si gadis Cina cilik dengan pakaian piyama biru gemilang, si gadis petani Rusia dengan tulang pipi menonjol tinggi, si orang Hindu dengan sorbannya yang cerah, si orang Meksiko yang berkulit gelap dan bermata hitam – semuanya ingin tahu pendapatku tentang roti nasional mereka. Harus kuakui bahwa aku menyukai semuanya begitu rupa sehingga kuminta resep-resep pembuatannya dan dengan ini kuteruskan kepada para pembaca.”
Air mataku berlinang-linang membaca kalimat terakhir dari paragraph itu. Betapa mulia hati ibu Laura. Moga aku juga bisa menirunya.
Category: Inspirasi
About the Author (Author Profile)
Mulla Kemalawaty atau Mala adalah seorang ibu rumahtangga dengan empat orang anak. Saat ini bergiat di Forum Lingkar Pena Aceh, dalam lini Kamoe Publishing House. Penyuka warna hijau ini ingin mengajak lebih banyak lagi ibu rumahtangga untuk berkecimpung di dunia tulis-menulis. Menulis itu bersedekah adalah motto hidupnya.

