Minibus Al-Quran

Minibus Al-Quran

Oleh: Muhammad Yasin

Gelap malam menyelimuti kota Kairo. Dengan terburu-buru kunaiki sebuah bus yang tidak terlalu besar. Kulihat bangku berpasang-pasangan berderet di sebelah kiri dan kanan sisinya. Semuanya terisi penuh. Berarti aku harus berdiri selama setengah jam untuk sampai di Hawamdeya; sebuah desa yang terletak di samping kota Kairo. Tempat belajar Al-Quran pada ulama Mesir. Ya, Mesir. Negeri yang masyarakatnya sangat akrab dengan Al-Quran.

Kumasuki bus itu. Kutapaki badan bus perlahan. Kutoleh wajah kesana kemari mencari tempat berdiri yang paling tepat. Akhirnya kupilih berdiri di samping orang Mesir yang sedang duduk membunyikan lantunan Al-Quran dari handphonenya. Aku bangga dengan masyarakat Mesir sepertinya. Ia jadikan waktu duduk dalam bus sebagai waktu ibadah mendengar firman Allah. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang mendengarkan satu ayat saja dari Al-Quran, maka Allah menulis baginya kebaikan yang berlipat-lipat ganda. Demikianlah hadis riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah r.a..

Ia membunyikannya keras-keras. Aku tahu lantunan itu adalah bacaan Syekh Musyari Rasyid El-Afasiy. Seorang qari Al-Quran internasional terkenal yang mendalami qiraat Al-Quran di Mesir. Ia berguru pada ulama qiraat Mesir bernama Syekh El-Ma’sharawiy. Dan aku juga tahu yang sedang dibaca adalah surat Maryam. Surat yang paling indah untuk didengar, menurutku.

Suara bacaan Al-Quran dari handphonenya bisa didengar oleh seluruh penumpang bus kecil itu. Tapi fenomena ini tak asing di Mesir. Bahkan justru supirnya yang sering menghidupkan lantunan Al-Quran, sehingga setiap penumpang bisa menikmati bacaan Al-Quran disepanjang perjalanan mereka.

Kuingin kenalan dengan pemuda yang menghidupkan suara lantunan Al-Quran ini. Aku yang dari tadi berdiri di sampingnya langsung menyapanya. “Aku sangat suka mendengar surat Maryam, apalagi yang bacanya Syekh Musyari Rasyid. Terimakasih telah membuat kami semua bisa mendengar bacaan indah Al-Quran ini.” Kubuka pembicaraan dengan mengungkap rasa terimakasih.

Ia pun tersenyum lebar. “Terimakasih atas pujiannya wahai andunesiy (orang Indonesia).” Sapaan tadi membuka perkenalan panjang kami. Dan lantunan Al-Qurannya tetap terdengar lebih keras, menemani perjalanan bus yang terus melaju menerobos gelapnya malam.

Tak lama kemudian, alunan lantunan Al-Quran itu tiba-tiba dikalahkan dengan keras suara disco Arab Mesir yang gila-gilaan. Dentuman-dentuman musik membuat suara Syekh Musyari tak terdengar lagi. Para penumpang terperanjat dengan sikap supir yang tak menghormati lantunan Al-Quran yang sedang dinikmati bersama.

Spontan seorang penumpang Mesir yang duduk paling belakang memprotes sikap acuh supir. “Wahai paman!–orang Mesir sering memanggil orang yang tak dikenalnya dengan sebutan paman untuk lebih menghormati–mengapa engkau hidupkan musik gila itu?! Apa kau tak dengar lantunan Al-Quran sedang dibacakan?!” Ia memprotes dengan suara sangat keras, mengalahkan suara disco. Memang orang Mesir cepat marah dengan volume suara besar. Dan kalau sedang menasehati, pasti ocehannya panjang.

Mendengar nasehat panjang dari penumpang tadi, supir menjadi lebih marah, seolah ia tak menerima dinasehati seperti itu. “Apa urusanmu! Kamu duduk saja di sana, jangan banyak bicara! Ini mobilku dan aku supirnya! Terserah aku mau apa, bla… bla.. bla…”

Adu mulut mereka berlangsung sekitar lima menit. Memang orang Mesir kalau sudah adu mulut selalu berlangsung lama. Melihat itu, akhirnya pemuda yang menghidupkan Al-Quran tadi mematikan bacaan Al-Quran dari handphonenya. Mungkin ia merasa bahwa ialah penyebab mereka bertengkar seperti ini. Adu mulut juga berakhir. Tapi, disco ugal-ugalan terus saja memenuhi telinga-telinga para penumpang.

Bus mini itu terus melaju, berjalan lurus yang sesekali berkelok, ditemani musik disco egois sang supir. Tapi tak lama kemudian, sang supir mematikan lagu disko gila itu. Suara Syekh Musyari Rasyid sudah sejak tadi tak terdengar. Adu mulut pun tak ada. Giliran suasana hening yang menemani perjalanan di malam itu.

Tak lama hening menemani, sang supir egois kembali menghidupkan musik disko gila melalui radio busnya. Dentuman musik kembali menggelegar. Belum habis disco itu, supir egois memindahkan siaran ke musik pop cinta gila lainnya. Tak lama, supir kembali memutar siaran ke musik lainnya. Sang supir terus memutar mencari siaran dengan agak cepat, sehingga tak ada yang jelas terdengar siarannya apa.

Akhirnya, tepat pada siaran radio yang menyiarkan lantunan bacaan Al-Quran, tangan sang supir pun berhenti memutar. Giliran bacaan Al-Quran Syekh Hushari yang terdengar syahdu, perlahan, menyibak makna kalam-kalam ilahi, menenangkan hati setiap penumpang yang mendengarnya.

Subhanallah…. aku yang tadi sempat kesal terhadap sang supir, kini berubah menjadi salut padanya. Tadi kukira hanya egois yang bersemanyam di hatinya, tapi ternyata kelembutan hati juga ia punya. Orang Mesir memang keras dan suka adu mulut, tapi hatinya juga mudah tersentuh. Apalagi jika disentuh dengan Al-Quran. Perasaanku menjadi sangat lega.

Sesampai di Hawamdeya, kuturuni bus mini itu dengan rasa penuh terimakasih. Terimakasih masyarakat Mesir. Kalian telah ajarkanku bagaimana banyak cara membela Al-Quran. Dan, bagaimana mengalahkan egois diri di hadapan sebuah kebenaran. Jazakumullahu khairan. []

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here