Monyet di Lintas Seulawah (3)

Dalam perjalanan Banda Aceh-Geurugok, kawasan yang paling menyita perhatianku adalah Seulawah. Jalannya yang berkelok-kelok, hutan pinusnya dan especially, kawanan monyetnya. Namun siang itu aku agak kecewa. Biasanya kawanan monyet itu berjejer rapi di tepi jalan, siap menerima limpahan ransum dari para pelintas.
Sampai pegal mataku memperhatikan, namun hanya sepi yang kudapatkan.

“Mana sih monyetnya, kok gak ada?” keluhku.
“Biasanya sore, Kak,” Ishak sang driver menimpali.
Hmm, biasanya siang-siang juga ada kok, batinku. Tapi mungkin juga sih, lagi pada ngadem kali, atawa tidur siang. Lha? Emang monyet kenal tidur siang juga?

“Eh! Itu ada satu!” teriak Faisal, sulungku.
Alhamdulillah, batinku lega.
Tampak seekor monyet di seberang jalan.
Lumayanlah.
Seekor monyet saja rupa-rupanya sudah mampu mengobati kekecewaanku.
Mudah-mudahan dalam perjalanan pulang nanti bisa ketemu kebih banyak lagi monyet, harapku.

***

Dalam perjalanan pulang, aku sudah tidak memikirkan soal monyet lagi. Rasa penat dan kantuk membuat pikiranku tersita pada bagaimana caranya tidur dengan nyenyak.

Pukul tiga siang.
“Eh itu ada monyet!” seru Farah, bungsuku.
“Ih, banyak banget!” seru Fadhil, anakku yang nomer dua.
Ishak segera menepikan mobil.
Rasa kantuk yang tadi mulai menyergap kutahan dengan segenap kekuatan.
Demi monyet-monyet tersayang.

“Minta pisang buat kasih makan monyet,” Fadhli anak ketigaku angkat bicara.
Dalam waktu sekejap segera saja pisang-pisang yang sedianya untuk oleh-oleh meluncur ke arah kawanan monyet itu.
“Ih lucu, ada anak monyet digendong sama ibunya lho!” pekikku gembira.
“Ih iya bener!” timpal Farah.

Tampaknya kawanan monyet itu membentuk satu komunitas. Ada bapak, ibu, anak, ponakan, mbah buyut, cucu, pembantu, hehehe. Komplit, Rek!
“Jiah hay! Si Ben i deng bak jalan!” Seru Ishak. Artinya. Hei lihat, ada monyet berdiri di jalan.
Benar. Tampak seekor monyet yang memakan pisang sambil berdiri di tengah jalan.
Wah ini sih namanya `monek` alias monyet nekad, hihihi. Gak takut ketabrak, Ben?

Setelah puas menatapi monyet-monyet lucu itu, kami pun siap-siap berpisah dengan si Ben.
Rasa-rasanya pingin ngebawa pulang satuuu aja, buat mainan anak-anak. Tapi ada yang mau gak ya? Takutnya entar malah ngamuk lagi.
Setelah
say good bye, mobil pun melaju pelan.

Daag monyet…!” teriak anak-anakku.

Moga jumpa lagi someday, desisku dengan perasaan enggan berpisah.
Aku menatap ke luar jendela. Tampaklah sungai besar dengan batu-batu kali yang juga besar.
Waow! Keren banget tempatnya. Pinter banget nih monyet cari tempat yang asik punya. Sembari kagum pada kepintaran monyet itu dan especially pada pencipta-Nya.

Sunggguh Maha besar Allah dengan segala ciptaan-Nya!

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here