Rateep Meuseukat, Menyatukan Dua Bangsa

Sejak dulu saya suka dengan tarian Aceh, seperti Saman, Seudati, Ranup Lam Puan, Top Pade, dan lain-lain. Ternyata ada sebuah tarian lagi yang memperkaya khazanah budaya Aceh, yaitu tari Ratep Meusekat. Tari ini mirip dengan tari Saman, dilakukan sambil duduk. Beberapa orang wanita duduk bersisian, melakukan gerakan-gerakan tarian sambil melantunkan puji-pujian kepada Allah Swt. Yang menarik dari tarian ini adalah gerakannya yang energik dan makin lama makin cepat. Juga karena dilakukan beramai-ramai sehingga menciptakan suatu keserasian yang indah dipandang mata.
Dalam suatu acara pertunjukan kesenian yang diadakan oleh komunitas Tikar Pandan dan Japan Foundation, saya berkesempatan menonton tari Rateep Meusekat ini. Tepuk tangan penonton bergemuruh tiap beberapa menit sekali. Tidak hanya gerakan tarian yang begitu memikat, tapi ada hal lain yang menyedot perhatian penonton. Dalam barisan penari wanita, tampak dua orang wanita Jepang. Kedua orang wanita Jepang itu, menguasai gerakan tarian sama terampilnya dengan para penari Aceh lainnya.

Benak saya segera saja dipenuhi oleh pertanyaan, berapa lama para penari mempersiapkan tarian Rateep Meusekat ini? Karena tarian ini cukup sulit. Penari harus berkonsentrasi penuh. Kalau tidak bisa-bisa terjadi perbenturan antara penari satu dengan lainnya. Tentu memakan waktu yang lumayan lama. Dan juga berapa lama kedua orang wanita Jepang itu bergabung mempersiapkan tarian tersebut? Tentu kedua wanita itu telah berjuang keras untuk mempelajari tarian yang berasal dari negara yang asing baginya. Kenapa kedua wanita itu mau mempelajari tarian yang bukan dari budayanya sendiri? Kenapa kedua wanita itu mau ‘gambatte’ , mau bersusah payah? Untuk apa? Tiba-tiba mataku menghangat, dan segera saja bulir bening mengambang di pelupuk mataku. Ada suatu rasa, entah itu kebanggaan, atau juga kebahagiaan. Karena orang dari negara lain mau bersusah payah mempelajari kebudayaan dari daerahku. Dalam hatiku antara Aceh dan Jepang serasa tak berjarak lagi. Terima kasih Tikar Pandan. Terima kasih Japan Foundation. Semoga acara pertunjukan kesenian ini dapat mempererat jalinan ukhuwah yang ada. Menguntai tirai kasih yang terserak. Menghangatkan batin yang resah. I hope so.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here