Sebuah Skenario Besar Allah kepada Kita Sahabat

 

Bismillahirrahmanirrahim.
Shahabat,
Tadi malam aku berpikir tentang makna kenapa Allah mempertemukan kita kemarin. Entah mengapa dari dulu pertemuan itu kuharapkan. Berharap bertemu dengan para sosok-sosok yang diberi gelar “pendekar kata” oleh Azzura Dayana.

Kemarin ketika Allah menjawab permintaanku, ada kesan haru dan bergetar ketika awal pertemuan. Entahlah, seakan-akan pertemuan ini akan menjadi sebuah awal dari kebaikan besar yang muncul pada masa depan kita. Sebuah sentuhan yang tidak asing lagi melanda hidupku. Bukannya merasa bertemu dengan sosok-sosok baru, hati ini malah berseru “mereka temanmu yang sedang kamu tunggu, maka sambutlah mereka layaknya teman lama.

Shahabat…
Bukankah pembicaraan kita mengalir bak saudara lama yang bersua kembali? Bukankah kita saling membagi mimpi-mimpi kita. Bukankah kita bagaikan keluarga yang sudah lama tidak berjumpa? Inilah kita. Allah boleh saja mempertemukan kita sekali, namun boleh saja doa-doa kita sudah sering berjumpa di Arasy. Bercakap-cakap tentang keinginan tuannya. Boleh saja doa-doa kita adalah teman baik yang sering bertukar harap dengan kegelisahan pemiliknya. Boleh saja Allah menggenggam erat semua doa-doa kita lalu menjawabnya dalam satu takdir yang indah. Takdir pertemuan kita kemarin!

Ya Shahabat…inilah aku.
Merenungi semalam suntuk untuk apa takdir mempertemukan kita kemarin, apa kehendak Allah untuk kita berempat? Tidaklah Allah mempertemukan kita hanya untuk sesuatu yang sia-sia. Ada sebuah skenario besar yang Allah siapkan untuk kita.namun Allah tidak memaksa kita. Kita sendiri yang harus menjalankan lakon ini dengan keikhlasan hati. tanpa paksaan, tanpa tuntutan. Karena apa yang siap kita kerjakan akan dinilai pada akhirnya akan dihisab pada ujungnya. Dan akan dibalas berdasarkan hasil yang kita kerjakan.

Maka Shahabat…
Izinkan ku menebak sebuah takdir Allah yang akan terjadi setelah pertemuan kita kemarin. Izinkan aku membagi mimpi indahku tadi malam. Di sela-sela “kunjungan tetapku” ke Rabb. Aku merasa mendapatkan sebuah naskah skenario yang indah dari-Nya. Skenario lanjutan dari pertemuan kita kemarin. Marilah kuceritakan padamu wahai Sahabat.

Tiga bulan dari ini…Dua naskah besar yang kita impikan bersama akan selesai! Yahh..2 buah Naskah besar!. Naskah yang disitu tercantum nama-nama kita. Tertulis nama-nama teman kita. Di dalamnya terlukis cinta dan rindu kita untuk orang-orang yang kita cintai karena Allah. Lalu apa cuma itu? Tentu saja tidak! Kita akan melakukan launching bersama. sejarah pertama untuk kita. Dua buku dilaunching diwaktu bersamaan. Kita yang kemarin duduk berempat sambil membagi mimpi-mimpi kita kini kembali duduk berempat kembali di depan para manusia yang menghargai mimpi-mimpi kita. Bukan untuk membanggakan diri kita, namun untuk membanggakan orang-orang yang telah mendukung kita hingga dapat mewujudkan mimpi kita.

Hanya itukah? Tentu saja tidak. Setelah itu kita akan membagi mimpi-mimpi ini kepada para manusia yang terlalu takut untuk bermimpi. Dengan para manusia yang mengira mereka terlalu muda atau terlalu tua untuk bermimpi. Para manusia yang merasa dihalangi oleh “tangan-tangan imajiner”. Para manusia yang hanya terpana dengan mimpi-mimpi orang lain. Kita akan menggenggam tangan mereka dan berkata “ayolah..kami juga sama seperti kalian tiga bulan yang lalu. Allah mempertemukan kami berempat dan takdir kami berubah. Hari ini kami bertemu dengan anda, dan marilah kita kembali berubah bersama seperti perubahan yang kami lakukan 3 bulan yang lalu. Karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan sebuah pertemuan”

Sahabat…inilah aku dengan mimpi sederhanaku untuk kita.
Aku ingin di setiap bahagiamu ada aku disana. tertawa dan tersenyum bangga. Aku ingin di setiap mimpi-mimpimu ada aku di dalamnya, berusaha menarik mimpi itu masuk kedalam dunia nyata. Aku ingin setiap pertemuan kita tidak pernah berakhir sia-sia. Mari kubisikkan sebuah rahasia kecilku untukmu: Mulai tadi malam aku telah memasukkan namamu dalam list doaku. Semoga doa-doa ini beriring tangan terbang ke Arsy. Dan Allahpun tersenyum dengan kedatangan mereka.

Shahabat..

Yakinlah..saat ini Allah sedang memandang hati-hati kita dengan lembut. Dan berkata..
Bukankah kalian sudah kupertemukan? Ayo buatlah Aku tersenyum dengan pertemuan kalian dan buatlah Aku merasa bangga ketika kalian bertemu denganKu kelak..”

Itulah mimpiku semalam shahabat. Mimpi yang akan kutarik sekuat-kuatnya untuk masuk dalam dunia nyata kita. Karena mimpi itu terlalu indah bila hanya sekedar menjadi mimpi belaka.
Dari shahabat yang menganggumi kalian…

Abi Muallim Rafi Al Harist

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here