Selamat Jalan Pak Din

Di fakultas kami, Fakultas Tehnik Universitas Syiah Kuala, diadakan kunjungan sosial ke tempat pegawai dan dosen yang tertimpa musibah seperti meninggal dunia atau sakit. Atau memberi ucapan selamat ketika mendapat anggota keluarga baru alias melahirkan. Tujuannya adalah pertama, ingin mempererat tali silaturahmi. Kedua, ingin berempati kalo ada yang kena musibah dan turut bergembira kalo ada yang mendapatkan anggota keluarga baru.

Dan dihari Kamis itu, ada jadwal kunjungan fakultas ke rumah salah seorang pegawai yang meninggal dunia, Pak Din. Takziah dijadwalkan pukul sepuluh pagi. Pukul sepuluh lewat lima belas iring-iringan berangkat menuju rumah duka. Kebetulan ini hari ketujuh pasca meninggalnya pak Din, atau lebih ngetop dengan panggilan Nyak Din.

Sebenarnya ada segurat penyesalan dalam kalbuku. Pasalnya pak Din ini baru saja diamputasi karena ketabrak. Dan aku belum sempat menjenguk, tapi beliau keburu meninggal. Maklum tempat tinggalnya lumayan jauh. Kalo kami tinggal di kawasan Timur, beliau tinggal di kawasan Barat. Jadi ujung ke ujung lahyaw.
Waktu Dharma Wanita ngadain kunjungan menjenguk pak Din yang sakit, aku lagi pulang kampung karena ada kenduri nikahan sepupuku. Kunjungannya diadakan hari Senin. Nah Kamisnya aku balik ke Banda Aceh. Eh Jumat paginya beliau pulang ke rahmatullah. Rasanya nyesel gimanaa gitu. Tapi yah apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.

Ketika menuju rumah duka di daerah Puni, Mata Ie, aku sempet terkesima melihat deretan pegunungan yang terhampar. Indah nian menyegarkan mata. Tapi jauhnya itu, Rek!
Ngebayangin pak Din yang tiap hari pulang pergi Puni-Darussalam, lumayan, Bro!
Ngeliat anaknya yang masih kecil-kecil, hanya miris yang kurasa. Terbayang kesedihan dan penderitaan sang istri yang ditinggal pergi suaminya. Mana istrinya gak kerja lagi. Aku jadi teringat diri sendiri. Nasibnya sama dengan nasibku, wanita rumahan yang tidak bekerja. Sepeninggal suami, entah bagaimana nasib diri dan anak-anak. Tak kuasa aku memikirkannya.

Ketika pamit pulang, beberapa kalimat hiburan diuntaikan pada sang istri. Seraya memberikan amplop ala kadarnya, sebagai tanda peduli dan empati. Tak terasa air mata mengalir di pipi. Terharu oleh perhatian dan kepedulian para rekan-rekan. Sebaris kata menyelinap di hati, seberat apapun cobaan, bila ada pundak yang menopangnya, insya Allah akan terasa ringan. Allah tidak akan memberi cobaan di luar kesanggupan manusia yang diujinya. Akan ada “Tangan Halus Allah” yang siap membantu lewat tangan-tangan manusia. So, jangan takut dan jangan kuatir. Insya Allah akan ada jalan.

Selamat jalan pak Din, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, melapangkan kuburmu, dan menempatkan di surgaNya yang indah. Aamiin.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here