Selamat Jalan, Syaikh Al-Buthy!

Selamat Jalan, Syaikh Al-Buthy!

Afifah Afra

Mengenang Syaikh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy

Muhammad-Said-Ramadhan-Al-Buthi-Crop

Selalu ada rasa pedih menusuk hati, jika mendengar kabar wafatnya seorang ulama. Kehilangan seorang ulama, bukan hanya kehilangan sebuah jiwa. Tetapi, peristiwa itu bisa menjadi salah satu sebab dicabutnya ilmu dari muka bumi ini.  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
 
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama, sehingga apabila ulama tidak tersisa lagi, orang-orang akan mengambil pemimpin-pemimpin (agama) yang bodoh, mereka ditanyai lalu berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. (HR Bukhari dan Muslim).
Ya, karena mereka itulah sejatinya para pewaris nabi. Al ‘ulama waratsatul anbiya! Karena merekalah, kita mendapatkan terang benderangnya jalan keselamatan selama di dunia.
Dari Abu Darda r.a., dia berkata: ”Sesungguhnya Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,  siapa yang menempuh jalan yang di sana ia mencari ilmu Allah mudahkan jalan ke surga-Nya. Sesungguhnya malaikat  meletakkan sayap-sayapnya sebagai tanda dukungannya kepada pencari ilmu. Sesungguhnya mahkluk Allah yang ada di langit  dan di bumi, hingga ikan paus di laut pun memanjatkan ampunan bagi pencari ilmu. Sesungguhnya keutamaan seorang berpengetahuan atas seorang tukang ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh benda bercahaya di langit. Sesungguhnya ulama itu para pewaris para nabi dan para nabi itu tidak mewarisi (uang) dinar dirham mereka hanya mewariskan ilmu siapa  yang mengambil ilmu ulama dia telah mendapat bagian yang banyak” (HR Ibnu Majah).
Oleh karena itu, saat saya membuka twitterland—yang bagi saya berperan sebagai etalase berita ter-update, dan melihat berbagai tweet tentang berita wafatnya Syaikh Sa’id Ramadhan Al-Buthy, guru besar Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Syiria, saya terdiam sesaat dengan dada sesak. Ya, nama beliau bukan lagi nama yang asing buat kita semua. Meskipun tak pernah bersua di dunia nyata, beliau adalah guru saya secara tak langsung. Buku beliau saya koleksi, dan menjadi salah satu buku referensi favorit saya. Di Indonesia, buku beliau yang paling terkenal barangkali adalah Sirah Nabawiyah.

Fikih-Sirah-MSR-Al-Buthi-

Beliau gugur saat tengah menjalankan kewajibannya sebagai seorang da’i. Syeikh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buti dibunuh dengan bom bunuh diri di masjid Al Iman di distrik Al Mazra’ah Damaskus. Beliau syahid saat menyampaikan pelajaran untuk para muridnya di Masjid Al Iman, demikian lansir Al-Watan dan Mahaththah Al Akhbar Suria (22/3/2012). Informasi awal menyebutkan bahwa 14 murid Syeikh Al Buty yang juga sedang menghadiri mejelis itu terbunuh dan 40 lainnya menderita luka-luka.[i]
SIAPA BELIAU?
Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy adalah salah satu ulama terpandang, yang sering menjadi ikon ulama suni sedunia yang bermazhab Syafi’i. Beliau memiliki nama lengkap Muhammad Sa’id ibn Mula Ramadhan ibn Umar al-Buthy. Beliau lahir di Buthan (Turki) pada tahun 1929, dari sebuah keluarga yang cerdas dan taat beragama. Putera dari Syekh Mula Ramadhan, seorang ulama besar di Turki. Usai peristiwa kudeta Kemal Attatruk, Sa’id ikut keluarganya pindah ke Syiria. Guru pertama baginya adalah ayahnya sendiri. Ayahnya pula yang memulai menanamkan pendidikan yang bermanfaat dan membesarkannya dengan wawasan keilmuan yang tinggi. Dengan segala kecerdasannya, Sa’id sendiri haus akan ilmu dan memiliki ingatan yang mengagumkan.
Sa’id juga menempuh pendidikan di Ma’had at-Taujih al-Islamy Damaskus, di bawah pengawasan Al-‘Allamah Syekh Hasan Habannakeh –rahimahullah. Syekh Hasan mengetahui pada diri Sa’id terdapat kecerdasan yang menonjol, karena itulah ia amat memperhatikannya dan menjadikannya fokus pengawasan, hingga Sa’id dapat menamatkan pendidikan Ma’had-nya dan menggondol Ijazah Tsanawiyah Syar’iyyah.
Selanjutnya, Sa’id menuju Cairo dan meneruskan studinya dengan spesialisasi ilmu Syariah hingga memperoleh Ijazah Licence. Pendidikan Diploma-nya (setingkat S2) ia ikuti di Fakultas Bahasa Arab. Pada tahun 1965, Sa’id Ramadhan menyelesaikan program Doktornya di Universitas Al-Azhar dengan predikat Mumtaz Syaf  ‘Ula. Disertasi yang ia tulis dan berjudul “Dlawabit al-Mashlahah fi asy-Syari’at al-Islamiyyah,” mendapatkan rekomendasi Jami’ah al-Azhar sebagai “Karya Tulis yang Layak Dipublikasikan.”
Selain fakih di bidangnya, Syaikh Al-Buthy juga menguasai berbagai disiplin ilmu. Ia menekuni sastra, Di dan mempelajari filsafat dan ilmu ‘debat’ untuk menghadapi pemikiran para atheis dan ahli bid’ah. Berbagai dialog yang menghadirkannya membuktikan bahwa Sa’id adalah tipikal ulama pemikir yang tenang, memiliki ketajaman analisis dan kedalaman pandangan.
KARYA-KARYA BELIAU

Syaikh Al-Buthy adalah seorang penulis yang fenomenal dan sangat produktif. Karya-Karya  beliau antara lain:

  1. Muhadhorot Fil Fiqhil Muqharin Ma’a Muqaddimati Fi Bayani Asbabi Ikhtilafi al-Fuqaha’ Wa Ahammiyyati Dirasatil Fiqhil Muqarin (Problematika Dalam Fiqh Muqarin, Sebab Terjadinya Perbedaan Fuqaha’, Dan Pentingnya Mempelajari Fiqh Muqarin)
  2. Al-Islam Maladz Kulli Mujtama’at Insaniyyah; Limadza Wa Kaifa? (Islam Tempat Berlindung Seluruh Masyarakat Sosial; Mengapa dan Bagaimana?)
  3. Al Jihad Fil Islam; Kaifa Nafhamuhu ? Wa Kaifa Numarisuhu? (Jihad dalam Islam; Bagaimana Kita Memahami dan Melaksanakannya?
  4. Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami
  5. al-Tanaqhudhu Bainaha Wa Baina Ma Yusamma Bithobi’ihal ‘Ashri
  6. Hurriyatul Insan Fi Dhilli ‘Ubudiyyahatihi Lillah (Kebebasan Manusia Dalam Beribadah)
  7. Difa’ ‘An Islam Wa Tarikh (Belaan Terhadap Islam dan sejarah)
  8. Al Islam Wa ‘Asru; Tahaddiyat Wa ‘Afaq (Islam dan Modernisme; Sebuah Tantangan dan Harapan)
  9. Al Aqidah Al Islamiyyah wa Al Fikr al Mu’asirah
  10. Al La Madzhabiyyah Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu as Syari’ah Al Islamiyyah
  11. Al Mazdhab al Iqtishady Baina Syuyu’iyyah Wal Islam
  12. Dhawabitu Al Maslahat Fi As Syariah al Islamiyyah
  13. Fi Sabilillahi Wa Al Haq
  14. Fiqhus Sirah
  15. Hiwar Haula Musykilati Hadhariyyah
  16. Kubra Yaqiniyyati al Kauniyyah
  17. Mbahitsul Kitab Wa As Sunnah min ‘Ilmi Ushulil Fiqhi
  18. Mamuzain, Qishatu Hubbub Nabati Fi Al Ardhi wa Aina’u fi As Sama’, Mutarjamah
  19. Manhaj Al Hadharah al Insaniyyah Al Jadaliyyah
  20. Manhaj Al ‘Audah Ilal Islam
  21. Masalatu Tahdidi an Nashli Wiqayatn wa ‘Ilajan
  22. Min Al fikri wa Al Qalbi
  23. Min Rawaiyl Qur’an
  24. Naqdul Auhami Al Maddiyah Al Jadaliyah
  25. Tajribatut Tarbiyah Al Islamiyyah Fi Mizan Al Bahts
  26. Al insan Wa Adatullahi Fi Al Ardli
  27. Al islamu Wa Muskilatus sabab
  28. Bathinul Ismi al Khatar Fi Hayatl Muslimin
  29. Hakadza Fal Nad’u al Islam
  30. Ila Kulli fatatin Tu’minu Billah
  31. Man Huwa Sayyidu al Qadri fi Hayatil Insan
  32. Minal Mas’ul ‘An Takhallufi Al Muslimin
  33. Min Asrari Alk Manhaj Al Islami
Melihat karya beliau yang semuanya sangat bermanfaat itu, saya pun merenung. Betul, jasad beliau telah tiada. Tetapi, beliau akan tetap ‘ada’ dengan ilmu-ilmu yang beliau wariskan. Usia beliau mungkin hanya 85 tahun, tetapi, umur karya beliau akan tetap ada, selama kitab-kitab tulisan beliau tetap menjadi rujukan umat muslimin sedunia.
Selamat jalan, Syaikh!
[i] http://www.hidayatullah.com/read/27789/22/03/2013/syeikh-al-buti-syahid-saat-sampaikan-ceramah-di-masjid..html
[ii] http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/biografi-lengkap-dr-said-ramadhan-al-buthi/#.UUulhhcqyE0
FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here