Tampopo, Imut dan Unik

Murid Tampopo Gumi
Tampopo, dulu, nama itu tidak berarti apa-apa bagiku. Bahkan, artinya pun aku tak tahu. Tapi sejak Faisal bersekolah di TK Musashi, nama itu menjadi begitu berarti bagiku.

Tampopo Gumi, adalah nama kelas Faisal. Bersama Mika Sensei dan ke-delapan belas temannya, mereka merajut hari-hari yang indah dan seru di kelas itu.

Bunga tampopo, biasa disebut dengan dandelion, atau bunga randa tapak. Bunga yang cantik ini adalah bagian dari genus Taraxacum dari famili Asteraceae. Nama randa tapak sendiri biasa digunakan untuk merujuk kepada sebuah tumbuhan yang memiliki “bunga” yang memiliki “bunga-bunga” kecil yang terbang ditiup angin. BUnga ini aslinya memang berwarna kuning, tapi akan berubah menjadi benang-benang berwarna putih yang merupakan benih.

Kehadiran tampopo bisa di mana saja, tergantung kemana angin membawa benihnya. Bisa menyembul di rerumputan hijau, menyelinap di sela-sela bebatuan. Di kawasan tempat tinggal kami di Tsurugashima, tampopo bertebaran indah di halaman tempat parkir.

Kemunculan bunga mungil nan imut ini diawal musim semi. Setelah musim dingin yang panjang dan menjemukan, musim semi menjadi musim yang ditunggu-tunggu. Dan hadirnya tampopo, memberikan secercah harapan, mendatangkan bilur-bilur keceriaan, bagi jiwa yang gersang, yang mendamba kedamaian.

Di Tampopo Gumi, Faisal banyak mendapatkan kawan baru. Berkulit kuning dan bermata sipit, di mataku mereka tak ada bedanya dengan Faisal yang berkulit gelap. Selalu ceria, berlarian ke sana ke mari, tak bisa diam. Di dalam kelas pun mereka kerap hilir-mudik, menanyakan ini-itu pada Mika Sensei, Sang Guru. Dan Mika Sensei, sesering apapun murid-muridnya bertanya, selalu menjawab dengan sabar dan penuh pengertian. Sepintas lalu, kutangkap bahwa beliau sangat menyukai anak-anak. Bagaimana pun hiruk-pikuknya kelas itu, betapa pun porak-porandanya, Mika Sensei tetap tersenyum. Penuh ketulusan pada anak didiknya. Penuh welas asih.

Orang tua dan guru bisa berkomunikasi melalui buku penghubung atau renraku-cho. Di buku ini Mika Sensei menuliskan segala sesuatu tentang Faisal, kegiatannya dan sikapnya. Hal-hal baik yang dilakukannya, misalnya menolong teman, atau makan siang dengan lahap. Setiap hari selalu ada yang dituliskan Mika Sensei di buku penghubung ini, walaupun hanya hal-hal kecil yang terlihat sepele.

Bunga tampopo yang kecil dan kuning ini, bagi sebagian orang, kehadirannya ditunggu karena menyemarakkan suasana. Namun dia merupakan hama bagi sebagian yang lain. Di kebun-kebun sayur atau kebun-kebun bunga, keberadaan tampopo dianggap mengganggu sehingga dia harus dimusnahkan.

Melihat anak-anak Tampopo Gumi, aku seperti melihat bunga tampopo. Kecil, unik, menarik. Kadang-kadang mereka lucu dan menyenangkan. Tapi dilain waktu, mereka begitu riuh dan menjengkelkan. Keberadaannya mengganggu dan perlu diusir jauh-jauh.

Aku tidak ingin menganggap tampopo sebagai hama. Kehadirannya di rerumputan hijau memberi nuansa lain, kuning menyegarkan. Begitu pun di sela-sela bebatuan, yang gersang, menyegarkan suasana.

Aku ingin seperti Mika Sensei. Yang menyukai anak-anak Mengenal kepribadiannya luar dalam. Mengerti jiwa mereka. Jiwa yang selalu ingin tahu, dan merindukan kebebasan.

Aku ingin menyukai tampopo, sebagaimana aku ingin menyukai anak-anak. Dan tidak ingin, tidak pernah ingin menyingkirkan mereka.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here