Musafir

Oleh Amalia Masturah

RAMADHAN, bulan yang sangat dinanti umat muslim sedunia akhirnya tiba. Suatu kebahagiaan bagi kita dapat menikmati bulan yang penuh berkah ini kembali. Dengan datangnya bulan Ramadan, banyak dari kita memanfaatkan untuk berkumpul dengan sanak saudara. Beberapa institusi pendidikan diliburkan untuk beberapa waktu. Para mahasiswa pulang kampung. Sebagian keluarga kembali ke kampung halamannya.

Jauhnya perjalanan menuju kampung halaman, terkadang memakan waktu yang lama di perjalanan. Hal ini mengakibatkan seorang muslim harus menjamak shalatnya. Allah swt telah memberikan kemudahan bagi hambaNya dalam beribadah karena sejatinya memang Allah Maha Pemurah, sesuai dengan firmanNya dalam Alquran: “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj: 87)

Beberapa tahun lalu saat penulis mengikuti Porseni Depag tahun 2008, saat malam penutup acara tersebut, penulis menumpang ke rumah salah satu warga dekat tempat acara untuk shalat Isya bersama seorang teman. Saya segera shalat dengan meng-qashar (mempersingkat) shalat Isya. Setelah saya selesai shalat, saya melihat teman saya shalat dua rakaat lagi. Kalau shalat Maghrib tentulah tidak mungkin. Akhirnya saya mencoba bertanya padanya usai shalat, ia menjawab shalat Subuh (menjamak shalat Subuh).

Sebelum itu, penulis belum pernah tahu shalat Subuh dapat dijamak. Beberapa kali saat penulis juga pulang-pergi Banda Aceh yang berangkat pada malam hari, penulis menemukan banyak penumpang yang tidak ikut serta shalat kala berhenti di jalan kala Subuh tiba, mungkin mereka juga sudah menjamak shalatnya sebelum berangkat barangkali. Sampai apada akhirnya penulis juga mencari tahu ke ustaz-ustaz dan membaca terkait hal ini.

 Shalat jamak
Dalam satu hadis Rasulullah saw dari Abdullah bin Abbas ra dia berkata: “Rasulullah saw biasa menjamak antara Dzuhur dan Ashar jika sedang dalam perjalanan. Beliau juga menjamak antara Maghrib dan Isya.” (HR. Bukhari). Dari hadis ini, akhirnya dapat disimpulkan shalat apa saja yang boleh dijamak.

Menjamak shalat adalah mengerjakan shalat wajib dalam satu waktu. Shalat yang dapat dijamak adalah Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Menjamak terbagi dari dua, yakni jamak taqdim dan jamak takhir. Jamak taqdim dikerjakan shalat Dzuhur dan shalat Ashar di waktu Dzuhur ataupun shalat Maghrib dan shalat Isya dikerjakan di waktu Maghrib.

Sedangkan jamak takhir Shalat dzuhur dan shalat Ashar yang dikerjakan pada waktu Ashar atau juga shalat Maghrib dan Isya yang dikerjakan pada waktu Isya. Untuk shalat Subuh, tetap dikerjakan pada waktunya, yakni pada waktu Subuh. Hadis Rasulullah saw. “Diriwayatkan dari Ibnu’Abbas ra, ia berkata: Bahwa Nabi saw shalat di Madinah tujuh dan delapan rakaat; Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.” (Muttafaq `Alaih).

Selain menjama, terkadang karena terburu-buru waktu kita untuk shalat hanya sedikit karena perjalanan yang kita tempuh masih sangat jauh. Untuk itu, Allah juga memperbolehkan hambaNya untuk meng-qashar shalat (meringkas shalat). Misalkan saja shalat Ashar, 4 rakaat, diqashar menjadi 2 rakaat. Begitu juga untuk shalat Dzuhur dan Isya. Sedangkan Maghrib, tetap 3 rakaat. Tidak bisa diringkas menjadi 1 atau 2 rakaat.

Seorang musafir tidak harus meng-qashar shalatnya ataupun juga menjamak shalatnya. Karena boleh saja ia meng-qashar shalatnya tanpa harus menjamaknya. Jika selama perjalanan banyak berhenti, tidak masalah untuk tidak menjamak. Semua tergantung kondisi. Jika perjalanan jauh dan tidak banyak berhenti, kita dapat shalat dengan menjamak dan meng-qashar. Asalkan tidak meninggalkannya saja.

Mempersiapkan diri

Perjalanan yang cukup jauh harus dipersiapkan terlebih dulu. Misalkan saja perjalanan dari Banda Aceh ke Aceh Singkil atau bisa juga dari Banda Aceh ke Aceh Tamiang. Perjalanan yang jauh itu kerap membuat kita itdak bisa menunaikan shalat seperti biasanya, maka diperbolehkan menjama dan meng-qashar.

Selanjutnya, sebelum bepergian hendaknya mengetahui bagaimana melaksanakan shalat dengan menjamak dan meng-qashar. Bisa dengan bertanya pada ustaz, orang tua, dan yang ahli agama. Kemudian, jika kita takut pakaian kita kotor selama perjalanan, siapkan pakaian dan letakkan dalam tas tenteng kita.

Hal tersebut tidaklah sulit. Selanjutnya, bagi anak-anak, hendaknya orang tua dan guru-guru mengajarkan bagaimana cara menjamak dan mangqashar. Perlu diketahui, kita harus bertanya pada guru ataupun ustadz yang jelas agama dan baik ibadahnya, dengan begitu kita tahu bagaimana tuntunan dari Rasulullah saw. agar kita tidak salah arti dan tidak mengerjakan yang tidak ada dalam tuntunan.

Selanjutnya, jika hendak bepergian dengan angkutan umum, pastikan supirnya mau berhenti ketika waktu shalat sudah masuk. Penulis pernah mendengar bahwa di Aceh kita ini tiap angkutan umum harus berhenti kala waktu shalat sudah masuk. Jika tidak, mereka akan dikenakan hukuman.

Terakhir, kita perlu tahu bahwa kita punya kewajiban untuk mengingatkan supir ketika waktu shalat tiba, apalagi saat Subuh yang waktunya itu terbatas. Ingatkan supir jika ia lupa. Jadi harus bangun terlebih dahulu sebelum mengingatkannya. Jika kita tidak bangun, dan supir pun lupa, bagaimana mungkin kita dapat shalat Subuh, bukan?

 Bukan halangan
Perjalanan yang jauh bukan menjadi halangan bagi kita seorang muslim untuk menjalankan kewajiban kita kepada sang pencipta. Kita tentu ingin cepat sampai ke tujuan. Namun, hal ini bukan berarti shalat kita tinggalkan karena Allah tidak akan memberatkan hambaNya.

Hal ini bukan hanya tugas para ulama, ustaz, guru, orang tua, tapi tugas kita bersama. Sebelum mengingatkan orang-orang terdekat kita, hendaknya kita juga tahu bagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah saw itu bukan hanya tugas para ulama, tapi tugas kita bersama.

Selamat melaksanakan puasa Ramadhan, selamat pulang kampung, selamat beribadah kepada Allah, selamat menjadi musafir di jalan Allah swt. “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185)

* Amalia Masturah, Mahasiswa Ilmu Keperawatan (S1) Unsyiah. Aktif di FLP Aceh, IPM Aceh, dan BEM FK Unsyiah. Email: ayli_nasheza@yahoo.co.id

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here