Novel Islami Dibilang Novel Porno?

Novel Islami Dibilang Novel Porno?
INTAN SAVITRI Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) 2009-2013

Media massa sedang me rayakan sebuah ‘pes ta’ atas temuan buku-buku
remaja yang berada di rakrak perpustakaan se kolah dasar (SD) melalui
proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) 2010. Label buku porno melalui judul
beritanya dialamat kan pada sejumlah judul buku, bertebaran di mana-mana.

‘Pesta’ dimulai dari harian Suara Mer deka, yang menyatakan bahwa buku
Ada Duka di Wibeng karya Jazimah AlMuhyi dan Tidak Hilang Sebuah Nama
karya Galang Lufityanto serta Tambelo karya Redhita dari penerbit Era
Intermedia yang ditemukan di perpustakaan SD di Kebumen, adalah novel
porno.

‘Pesta’ tetap dirayakan hingga terakhir pada Selasa (12/6), Republika Ja
bar menulis judul berita “Novel ‘Porno’ di SD Bertambah”, serta Pikiran
Rakyat menulis “Lagi, Ditemukan Novel tak Senonoh” isi beritanya
memberikan label porno pula pada novel perjuangan seperti Syahid Samurai
karya Afifah Afra, Festival Syahadah karya Izzatul Jannah, dan Sabuk
Kiai karya Dandang A Dahlan, yang kesemuanya dari penerbit Era Intermedia.

Judul-judul berita tendensius itu mem bingkai cara berpikir pembaca
tentang isi buku, pertanyaannya sudahkah media yang menulis ini melihat
persoal an ini dengan lebih adil? Sudahkah mem baca bukunya dan
mengonfirmasi pada penulis serta penerbitnya? Sudah kah mengonfirmasi
pada pakar tentang definisi teknis pornografi? Sudahkah melihat dari
sisi bagaimana buku-buku itu bisa masuk ke perpustakaan SD? Bagaimanapun
buku itu masuk ke perpustakaan SD melalui anggaran DAK yang notabene
melalui proses tidak sederhana serta melibatkan institusi pemerintah
bernama Pusat Kurikulum Per bukuan di bawah Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan yang memberikan Surat Keputusan (SK) bahwa buku-buku ini
layak dibaca untuk ma syarakat.

Baiklah, saya akan mencoba menulis kan nya untuk Anda, mudah-mudahan ini
menjadi sebuah akhir manis untuk sebuah `pesta’.

Pornografi Dalam UU Anti Pornografi No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi
Bab I, Ketentuan Umum disebutkan bahwa pornografi adalah gambar, sketsa,
ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi,
kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui
berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum yang
memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma
kesusilaan dalam masyarakat.

Apakah arti kecabulan, eksploitasi seksual yang melanggar norma
kesusilaan dalam masyarakat? Cabul dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah keji dan kotor; tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan).

Mari kita lihat. Novel Ada Duka di Wibeng karya Jazimah Al-Muhyi
bercerita tentang remaja ABG yang tidak lepas dari persoalan cinta.
Cerita mengalir dari fenomena-fenomena pergaulan di kalangan anak
remaja. Di antaranya adalah fenomena pacaran dan pada bab-bab akhir
disimpulkan bahwa pacaran tidak dianjurkan dalam Islam.

Media kemudian menulis bahwa ada kalimat “asal mau sama mau gak masalah
kok” atau “pakai kondom agar tidak hamil” kemudian memberi judul berita
dengan subjek novel porno. Jika demikian, mari kita lihat kalimat
seterusnya yang merupakan komentar tokoh utama yang berperan protagonis
dalam bab ini. “Seks, kalau berkaitan dengan diskusi tentang kesehatan
reproduksi sih bagus, malah mendalamkan ilmu biologi.”

Seks yang diobrolin hanya berorientasi pada `how to make a baby’.
Kalimat ini diucapkan oleh Akta, tokoh utama dalam novel ini. Lalu
kalimat lain dalam novel ini yang berbeda secara diametral dengan
kalimat yang dituduh bermakna lucah atau cabul atau porno, yaitu
kalimat, “Semua aturan Allah untuk kebaikan manusia. Allah tidak
mempunyai kepentingan apa-apa. Bagi-Nya, taat atau ingkarnya makhluk
tidak mengurangi sedikit pun kebesaran dan kemuliaan-Nya.” (Halaman 28).

Apakah logis label porno diberikan pada sebuah novel yang menuliskan
kalimat-kalimat ini? Membaca secara keseluruhan novel ini, dan tidak
sepotong-sepotong, maka akan membawa kita sampai pada kesimpulan bahwa
hubungan antarlawan jenis pada masamasa remaja perlu kehati-hatian agar
tidak ter jebak pada pergaulan bebas.

Lalu dalam novel Tidak Hilang Sebuah Nama karya Galang Lufityanto,
persoalan yang ditulis di media adalah pada halaman 56. Saya tak
menemukan kalimat-kalimat yang dituduhkan, bahwa isinya bermuatan
pornografi karena berisi tentang necrophilia dan paedo philia. Dialog
tentang necrophilia dan paedophilia ada di halaman 58.

Saya katakan dialog, karena di halaman tersebut tidak ada kalimat yang
menuliskan tentang bagaimana melaku kan persetubuhan dengan mayat, yang
sering disebut sebagai necrophilia. Terlebih lagi, dalam dialog antara
Nielsen dan Olive dalam buku Tidak Hilang Sebuah Nama, disebutkan bahwa
Olive me rasa jijik dengan perilaku necrophilia yang sedang
didefinisikan oleh Nielsen.

“Olive terpekik. Ia buru-buru menutup mulutnya, beristighfar berulang
kali, apakah ini mungkin terjadi?” Lalu di sam but dengan reaksinya yang
lain, “Tapi ini menjijikkan!” Apakah jika kita membahas tentang definisi
necrophilia (seperti yang seka rang sedang saya lakukan juga dalam
tulisan ini) lantas isi buku itu disebut porno? Bukankah kalimat-kalimat
ini menunjukkan bahwa sang penulis memiliki posisi yang jelas tentang
penyimpangan seksual bernama necrophilia? Ia tidak mendukung perilaku
menyimpang ini. Jika muncul argumentasi bahwa novel ini tidak cocok
untuk tingkat sekolah dasar (SD), apakah lantas novel ini dengan mudah
dikategorikan sebagai novel porno? Jika demikian, apakah pantas sebuah
kesimpulan tergesa, tergopoh-gopoh, dan asal tuduh ini terus-menerus
dile kat kan? Mungkin kita perlu melihatnya secara utuh dan menempatkan
persoalan ini pada tempatnya. Jika tidak ingin ter jebak pada fitnah dan
pembunuhan karakter. Mari berbenah menuju dunia literasi yang lebih baik.

http://republika.pressmart.com/PUBLICATIONS/RP/RP/2012/06/15/ArticleHtmls/Novel-Islami-Dibilang-Novel-Porno-15062012004024.shtml?Mode=1

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here