Ramadhan, Bulan Aktif dan Produktif

Oleh: Muhammad Yasin Jumadi, Lc

Tahun 1974, presiden Tunisia liberal bernama Habib Borguiba menyeru seluruh rakyat Tunisia untuk tidak berpuasa dengan alasan, “Puasa Ramadhan hanya melemahkan umat Islam dan mengurangi produktivitas kerja.”

Sikap lancang Bourguiba ini diperkuat oleh realita sebagian umat Islam di bulan Ramadhan. Ada sekolah yang libur total. Jam kerja PNS berkurang; datang terlambat dan pulang cepat. Ada yang “pelale” puasa dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ada juga yang banyak tidur-tiduran dengan alasan tidur itu adalah ibadah di bulan Ramadhan.

Hadis An-Naumu Ibadah

Padahal, hadis an-naumu iabadah (tidur adalah ibadah) di bulan Ramadhan riwayatnya antara lemah dan palsu. Hal ini sesuai dengan fatwa salah seorang ulama Mesir bernama Syaikh Athiyah Saqar. Beliau mengatakan, bahwa hadis an-naumu ibadah terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali. Dalam takhrij Al-Iraqi, hadis ini diriwayatkan dari dua jalur. Pertama, riwayat Ibnul Mughirah Al-Qawwas, dari Abdullah Ibnu Umar, dengan sanad yang lemah. Mungkin ini Abdullah Ibnu Amr, karena Ibnul Mughirah tidak meriwayatkan hadis kecuali darinya.

Kemudian, jalur kedua adalah dari Abu Manshur Ad-Dailamiy dalam musnadnya, dari Abdullah Ibnu Abi Aufa, di mana dalam silsilah sanadnya terdapat Sulaiman An-Naqa’i, yang merupakan salah seorang yang berdusta dalam meriwayatkan hadis (ahadu kazzabîn). Dari jalur ini, maka hadis  an-namu ibadah adalah maudhu’.

Ini bukan berarti tidur di bulan Ramadhan bukan ibadah. Tapi tidur itu insyaAllah menjadi ibadah selama tidur sesuai dengan sunnah Nabi, baik di bulan Ramadhan maupun di selain bulan Ramadhan. Tidur saat puasa juga menjadi ibadah pasif, karena secara tidak langsung menghalangi orang yang tidur dari berbuat hal yang membatalkan puasa.

Penjelasan riwayat hadis an-namu ibadah ini juga bukan berarti tidak boleh tidur di bulan Ramadhan. Karena tidur di siang hari atau qailûlah, itu memang merupakan kebiasaan orang shaleh, untuk membantu kekuatan dalam melakukan tarawih atau tahajud di malam hari. Hanya saja, penjelasan riwayat hadis an-naumu ibadah ini adalah agar tidak ada yang menjadikan hadis ini sebagai alasan tidur-tiduran berlebihan di bulan Ramadhan.

Ramadhan di Mata Rasul dan Sahabat

Rasul dan sahabat memaknai Ramadhan sebagai bulan penuh aktivitas dan produktivitas. Hal ini tampak dari sejarah. Pada 2 Hijriyah, yang terjadi di bulan Ramadhan adalah perang Badar Al-Kubra. Dalam perang ini, umat Islam hanya berjumlah 300 orang, sementara pasukan kafir Quraisy berjumlah 1.200 orang. Tapi dengan izin Allah, alhamdulillah kaum Muslimin menang. Dalam Al-Quran, Allah menyifatkan umat Islam sebelum perang Badar dengan sifat lemah (azillah). Akan tetapi, setelah menang, maka umat Islam menjadi kuat. Peristiwa ini mengisyaratkan pada kita, bahwa Ramadhan adalah bulan perpindahan umat Islam dari posisi lemah menuju posisi kuat dengan aktif dan produktif, yang umat Islam saat itu merealisasikan sikap ini dengan perang.

Tahun berikutnya, 3 hijriyah, pada bulan Syawalnya terjadi perang Uhud. Jika perang ini terjadi pada bulan Syawal, maka tentu persiapan perang ini dilakukan Rasul dan sahabat di bulan Ramadhan.

Kemudian, 5 Hijriyah, pada bulan Syawalnya terjadi perang Khandaq. Saat itu umat Islam dalam posisi lemah, sehingga menggunakan taktik menggali khandaq (parit) untuk menahan laju pasukan kafir Quraisy. Jika perang khandak terjadi pada bulan Syawal, maka tentu penggalian khandak ini dilakukan Rasul dan sahabat di bulan Ramadhan. Dan menggali khandaq untuk perang ini tentu harus dalam, lebar, dan panjang mengelilingi wilayah umat Islam, dan ini dilakukan di bulan Ramadhan.

Selanjutnya tahun 6 Hijriyah, pada bulan Ramadhan, Rasul menjadikan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai panglima pasukan Sariyah untuk membebaskan wilayah Wadil Qura. Tahun berikutnya, 7 Hijriyah, pada Bulan Ramadhan, Rasulullah Saw. menjadikan Ghalib Al-Laitsi sebagai panglima Sariyah untuk membebaskan Bani Awal dan Bani Tsa’labah.

Setahun kemudian, 8 Hijriyah, pada bulan Ramadhan Rasul menjadikan penduduk Madinah sebagai pasukan perang untuk melakukan Fathul Makkah. Pasukan umat Islam berangkat dari Madinah pada tanggal 10 Ramadhan, dan sampai di Makkah tanggal 21 Ramadhan. 11 hari perjalanan Rasul dan Sahabat tidak berbuka puasa. Tentu ini melelahkan, karena tidak hanya berjalan, akan tetapi yang namanya pasukan perang tentu membawa perbekalan makanan, peralatan perang, obat-obatan, senjata dan sebagainya. Lelah, tapi mereka tak berbuka. Mereka baru berbuka puasa tanggal 21 Ramadhan, ketika kota Makkah sudah tampak, di waktu Ashar.

Berbagai peristiwa yang terjadi ini menunujukkan bahwa Rasul dan sahabat memaknai Ramadhan sebagai bulan penuh aktivitas dan produktivitas. Apalagi tahun 8 Hijriyah, padahal umat Islam saat itu dalam posisi kuat dan berjumlah besar, sehingga bisa saja Rasul menunda pembebasan kota Makkah hingga bulan Syawal, sementara bulan Ramadhan itu dioptimalkan untuk ibadah mahdhah saja. Tapi tidak, Rasul tetap memilih bulan Ramadhan ini sebagai momentum fathul Makkah, ini mengisyaratkan bahwa Ramadhan memang bulan aktif dan produktif.

Solusi Sepanjang Tahun

Untuk menjadikan Ramadhan sebagai bulan aktif dan produktif perlu adanya kampanye dari seluruh pihak agar masyarakat sering melakukan puasa sunnah di bulan selain Ramadhan, apalagi di bulan Rajab dan Sya’ban. Jika telah terbiasa puasa, insyaAllah lelah dan lemah tidak menghambat aktifitas. Seperti anak-anak pesantren, karena biasa puasa, mereka mampu bermain bola di bulan Ramadhan.

Jika masyarakat terbiasa puasa, insyaAllah tidak perlu lagi adanya pengurangan jam kerja di bulan Ramadhan, siswa dan guru sanggup menjalankan aktivitas belajar dan mengajar dengan optimal, sehingga kita tidak menjadi objek tuduhan pihak yang tak suka pada Islam bahwa puasa Ramadhan mengurangi produktivitas umat Islam. Dan yang lebih penting lagi, aktif dan produktif di bulan Ramadhan adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. yang menjadi tauladan bagi seluruh manusia. Wallâu a’lam.

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here