Menulis dengan Kekuatan Pikiran

mindwriting
mindwriting
mindwriting
mindwriting

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

Menulis kini menjadi semacam kegilaan. Semua orang tanpa pandang usia, jenjang pendidikan dan status sosial kini berbondong-bondong mengayun pena dan menjentikkan jemari di tuts-tuts keyboard. Nyaris seluruh Nusantara keranjingan menulis. Mulai dari yang sekedar ikut-ikutan numpang beken, curhat galau abege labil sampai yang menjadikannya sebagai sarana dakwah atau yang serius mengepulkan asap dapur dari menulis. Booming social media menggenapi kemudahan orang untuk berbagai tulisannya. Media massa dan penerbit pun memperluas ruang muat. Walhasil bumi jadi writaholic. Remaja usia sekolah menengah pun ingin menjadi JK Rowling atau Andrea Hirata.

Sayangnya, gejolak hasrat untuk menulis itu tak selalu diiringi dengan kemampuan menuang gagasan. Banyak sekali ide-ide yang tumpah berserakan tak terarah. Bukannya jadi sarana penyampai pesan yang menawan, malahan jadi kelihatan seperti pamer ilmu yang belepotan. Para newbie rama-ramai mencari jalan pintas. Googling, copast sana-sini lalu cling! Eureka! Jadilah sebuah tulisan. EYD tercampakkan, malahan bahasa Alay yang mengemuka. Alasannya, “y4nG p3ntIn9 t5tAp c5mUn9udh eeaa..”.

Parahnya, dunia akademis pun dilanda kegalauan yang tak jauh berbeda. Ketidakmampuan menganyam tulisan membuat sebagian calon sarjana, calon magister bahkan calon doktor tega melakukan plagiasi naskah orang lain. Kemudian dengan enteng mengklaim sebagai karyanya. Pesan saya: janganlah kebuntuan otak membuat kita menghalalkan apa yang terlarang. Ini sebuah pelacuran intelektual, Bung!

Menyikapi hal tersebut, konsep Mind Writing, yang ditawarkan Herien Priyono dalam buku setebal 180 halaman terbitan Leutika Yogyakarta ini menjadi sangat relevan. Ia seakan menjadi jawaban praktis. Di sini Herien mengadopsi pola subsconcious mind untuk memudahkan menulis. Ini semacam perjalanan intelektual ke alam bawah sadar manusia. Pembaca diperkenalkan dengan konsep interlego. Selain itu, yang istimewa adalah teknik produktif menulis dengan metode curah acak 5W+2H plus anjuran untuk tidak memedulikan omongan otak kritis. Langkah-langkah yang detail membuat para penulis pemula semakin dimudahkan. Studi kasus dan contoh-contoh yang disampaikan dengan gaya bahasa komunikatif menambah keunggulan metode ini.

Namun, beberapa editing yang kurang rapi di beberapa halaman dan lay-out tulisan yang kadang terlalu rapat juga bisa membuat kita perlu sedikit lebih cermat dan teliti untuk membacanya. Ini satu catatan. Tetapi saya yakin, bagi seorang pemula, Mind Writing adalah jawaban bagi kegelisahannya untuk berkarya produktif asal dengan syarat: memenuhi rukun-rukunnya.

Peresensi adalah pecinta buku, bergiat di Leutika Reading Society Banda Aceh

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here