Penantian Mei Siang

You may also like...

1 Response

  1. Kiki says:

    Resensinya terlalu pendek/singkat. Timbangan baik-buruknya tidak dalam.

    “Biasanya kita membaca buku tentang London tapi pengarangnya orientalis.”

    Ini orientalis atau orang Barat?
    Jangan keliru menganalogikan orang Barat = orientalis. (Baca ulang atau search di google orientalism edward said. Dia sudah mengkaji ulang istilah orientalis).

    Misi islamisasi di buku ini sangat kental sehingga bila non muslim membacanya mereka mungkin akan terharu dan masuk islam.
    Bisa diperdalam. Misal ditambah, “Terutama setelah membaca cerita bla bla bla, khususnya pada saat dia mendapatkan hidayah atau yang lainnya”. Ini masih di permukaan.

    Baru kali ini saya melihat orang Takengon menulis buku, seandainya ada karya beliau yang berlatar Takengon mungkin akan lebih banyak orang membaca. Karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita punya, seandainya di dalam buku ini di sisipkan tentang Aceh, mungkin akan lebih sexy dari pada budaya luar yang sangat banyak ditemukan dalam buku ini.

    Cek ulang buku ini terbitnya tahun berapa. Saat itu memang lagi booming isu islamisasi internasional, konflik Palestina, Chechnya, dsb. Isu lokal memang belum tergarap banyak tahun2 itu, kecuali terbitan antologi FLP Aceh.

    Saya malah lebih senang seandainya penulis menuliskan bahwa Himmah, yang orang Takengon, mampu menuliskan hal yang jauh dari daerahnya, padahal Himmah belum pernah ke daerah2 yang ditulisnya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: