Tagged: ada duka di wibeng

Novel Islami Dibilang Novel Porno? 0

Novel Islami Dibilang Novel Porno?

Jika demikian, apakah pantas sebuah
kesimpulan tergesa, tergopoh-gopoh, dan asal tuduh ini terus-menerus
dile kat kan? Mungkin kita perlu melihatnya secara utuh dan menempatkan
persoalan ini pada tempatnya. Jika tidak ingin ter jebak pada fitnah dan
pembunuhan karakter. Mari berbenah menuju dunia literasi yang lebih baik.

Salah Distribusi, Penulis yang Kena Getah? 0

Salah Distribusi, Penulis yang Kena Getah?

Tanpa konfirmasi dan membaca isi buku tersebut, mendadak bertebaran status-status di FB, Twitter, dan juga artikel-artikel di blog-blog yang menuding bahwa “Ada Duka di Wibeng” adalah buku porno. Ketika saya men-search “Ada Duka Di Wibeng Buku Porno di Google” dalam waktu 0,35 detik, ada 3,260 entry.

Helvy Tiana Rosa: Tidak Benar Buku FLP Mengandung Unsur Pornografi 0

Helvy Tiana Rosa: Tidak Benar Buku FLP Mengandung Unsur Pornografi

Saya kenal secara pribadi nama-nama penulis di atas sebagai pengurus Forum Lingkar Pena di masa saya menjadi Ketua Umum dan sudah membaca semua buku yang diberitakan. Saya bersaksi bahwa tidak mungkin dan tidak benar tulisan tersebut mengandung pornografi. Sungguh aneh, buku yang salah peruntukkannya (yang bahkan bukan salah penulis dan penerbit, melainkan tim seleksi buku pengayaan) diberi stigma seperti itu. Nah buku-buku yang porno betulan malah didiamkan

Komentar Afifah Afra di Twitter tentang Buku yang Dituduh Porno 0

Komentar Afifah Afra di Twitter tentang Buku yang Dituduh Porno

Beberapa pekan terakhir sejumlah buku menjadi pembicaraan karena dituduh porno. Salah satunya adalah karya Jazimah Al-Muhyi. Buku tersebut berjudul Ada Duka di Wibeng. Menurut beberapa media, buku tersebut mengandung unsur porno. Tak pelak, banyak pembaca setia buku-buku Jazimah Al-Muhyi keheranan dan protes. Ada beberapa alasannya. Satu, buku itu tentang perkembangan moral pada remaja sekarang. Dan, pada bab itu bukan bermaksud untuk mengumbar cara/trik seks seperti yang diungkap media. Tulisan tersebut ditulis tentang Akta yang tidak setuju dengan adanya penggalakan slogan ‘seks before married’ dengan ‘do it savely’