Tagged: cerita pendek

Di Langit Kairo 3

Di Langit Kairo

Aku takjub. Gerbang di depanku seolah terbuka dengan sendirinya menyambut kedatanganku. Aku akan menjadi mahasiswi Fakultas Ushuluddin, jurusan hadist dan ilmu-ilmu hadist. Bang Farhan akan kembali ke Aceh dalam waktu dekat, tentu setelah mengurusi segala keperluanku di sini. Namanya telah dilengkapi gelar Lc: Teuku Farhan, Lc. Sejatinya, bukan gelar yang penting, tapi ilmu dan amal.

MENGEJAR FUAD 1

MENGEJAR FUAD

“Aku pernah melihatmu, namun aku tidak bisa”. Fuad berkata tanpa menoleh sama sekali.
“Kenapa?” suaraku melemah. Air mataku mulai jatuh.
“Karena aku bukan sayyed”, suara Fuad terdengar tegas, tidak ada sedikit pun nada penyesalan di sana. Langkahnya kembali berayun, meninggalkan jejak-jejak pahit dan sakit.

kopi 0

MAGNET CINTA DARI ACEH

Sesampai di mesjid aku kaget tak terkira. Berharap shaf memenuhi mesjidnya. Tapi ternyata hanya satu, dua, tiga. TIGA ORANG SAJA! Itupun diisi oleh aki-akinya.

Pesan Dhiya 0

Pena Dhiya

Suara Dhiya menggelegar seantero rumah. Suaranya melengking kuat seperti guntur yang mengagetkan telinga yang mendengar.

rindu 0

Teruslah Merindu

Aku menyeret sebongkah karung. Kuseret dengan langkah yang tiada nyawa. Gontai bergerak menjejali lantai bumi dengan tapak-tapak tanpa warna.

meninggal dunia 0

Nurani Para Pemimpin Negeriku

Aku dikejutkan oleh dering ponsel. Aku tak begitu tahu apa yang dikatakan orang seberang sana namun yang kutahu, aku langsung berlari seperti orang yang dikejar hantu. Sesaat kemudian aku baru tersadar bahwa aku berada di rumah sakit. Mataku nanar melihat orang yang kucintai telah terbujur kaku

impian 0

Impian Clara

Semua berlangsung hampir 13 jam dengan jeda beberapa menit sembarang. Hingga jam kecil yang berdiri manis di meja rias itu pun merasa perlu memercikkan sedikit api semangat pada Clara. Setiap irama teratur jarum detik mulai memasuki ruang hampa dalam kepala.

source: images.nationalgeographic.com 0

Setelah 10 Tahun

Wahai ruh-ruh yang malang! Ketahuilah bahwa saat ini semua dari kalian telah dilupakan. Tidak ada lagi masyarakat Bandar yang akan mengingati kalian, berduka untuk kalian, ataupun menangis untuk kalian. Ingatan tentang kalian telah menjadi abu.

Ade Oktiviyari 0

Nasihat Untuk Nyak Mah

Nyak Mah mengunyah sirihnya berlahan-lahan. Barang dagangannya itu kini harus dihabiskannya sendiri. Telah seharian ia berteriak-teriak bersama puluhan pedagang lain di perkarangan luar Mesjid Raya, menawarkan dagangannya, tapi belum ada yang membeli. Nyak Mah menatap beberapa orang pengemis yang duduk di pintu depan mesjid.