Tagged: cerpen

pin- eksodus 1

Eksodus

Oleh: Aqsha Al Akbar Senja mencapai titik akhirnya. Menjadikan sebongkah cahaya bulan yang kini meminang bumi. Malam itu, kami sekeluarga telah berada di dalam bus yang segera membawa kami ke Medan. Aku tidak tahu...

Kabut Seulawah 0

Kabut Seulawah

Agam menutup telinga. Ia tak harus mendengar apa-apa. Ia selalu percaya bahwa Allah menciptakan mereka berpasangan untuk saling mencintai

Kubuang Cinta Sampai ke Jerman 1

Kubuang Cinta Sampai ke Jerman

Alif-Jerman, 2012 Gugup. Gemetar dan cemas mulai menghampiri ku. Hari ini aku akan menikahi Mia, gadis cantik yang selama ini aku cintai. Setelah perjuangan 10 tahun akhinya aku bisa menikahinya. Masalah cinta jangan di...

Lukisan Tak Berdebu 0

Lukisan Tak Berdebu

Aku berlari kearah piano. Betapa terkejutnya diriku saat kudapati ada bekas jari di touch piano. Aku melihat kekiri dan ke kanan, mencari siapa yang membunyikan piano barusan. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kalung yang tergantung di salah satu sisi dinding kamar. Aku sangat mengenal kalung tersebut. Ya itu kalung Ulfa. Dan aku pun juga memilikinya. Ibu sengaja membuat kalung yang sama untuk kami berdua. Tapi kenapa kalung itu ada disana?

Dunia Baru 0

Dunia Baru

Sekilas aku melihat seberkas cahaya dari lorong ini… aku mencoba berlari dan mencari sumber cahaya. Aku tercengang ketika melihat sebuah taman yang besar nan indah. Bukan. Bukan taman. Tapi dunia yang begitu menakjubkan. Suara...

Bukan Nida Tapi Lia 0

Bukan Nida Tapi Lia

Oleh: Isni Wardaton “Abang sudah putuskan..” “Tidak Bang! Lia tidak mau menjadi cermin bayangan Nida untuk Bang Kiki!” Teriakku dan pergi meninggalkan Abangku. **** Senja di Alue Naga, riak air menjilat-jilat tanggul. Awan menggumpal...

kopi 0

MAGNET CINTA DARI ACEH

Sesampai di mesjid aku kaget tak terkira. Berharap shaf memenuhi mesjidnya. Tapi ternyata hanya satu, dua, tiga. TIGA ORANG SAJA! Itupun diisi oleh aki-akinya.

impian 0

Impian Clara

Semua berlangsung hampir 13 jam dengan jeda beberapa menit sembarang. Hingga jam kecil yang berdiri manis di meja rias itu pun merasa perlu memercikkan sedikit api semangat pada Clara. Setiap irama teratur jarum detik mulai memasuki ruang hampa dalam kepala.

source: images.nationalgeographic.com 0

Setelah 10 Tahun

Wahai ruh-ruh yang malang! Ketahuilah bahwa saat ini semua dari kalian telah dilupakan. Tidak ada lagi masyarakat Bandar yang akan mengingati kalian, berduka untuk kalian, ataupun menangis untuk kalian. Ingatan tentang kalian telah menjadi abu.