Tagged: puisi

Balada Tanah Rencong 0

Balada Tanah Rencong

Tanah ini harum oleh aroma jeumpa dan seulanga
Tapi juga tercemar oleh ganja dan juga kamboja yang gugur di atas pusara

Ketika Langit Berbicara 1

Ketika Langit Berbicara

Ketika langit berbicara/Dalam balutan mendung
Kemudian bercengkerama dengan tetesan hujan
Mengabarkanku bahwa terkadang kita memang harus membiarkan awan masalah
terlerai menjadi tetesan airmata/Agar gumpalan hitam tertumpahkan/Hingga awan menjadi kembali cerah

Duka Sejuta Rupa 0

Duka Sejuta Rupa

Serentetan sesuara sumbang muntah dari moncong senapan
Kelabu halimun durhaka merongga menusuk relung harapan
Menyirat semua riak fragma terhunus reruncing di balik dipan:
Jeritan selinangan oase air mata dari butir-butir mata bertatapan

Kembang Api Beraroma Darah 3

Kembang Api Beraroma Darah

Kemudian melupakan fajar
meninggalkan panggilan
terlelap dalam nyanyian minggu yang nyaring dalam mimpimu
sementara jasadmu, jiwamu, kamu terkurung dalam tawa-tawa mereka.

Izinkan 2

Izinkan

Di pelupuk, jalan berkabut
Garuda menerbangkanmu
Biarlah camar bersamaku

Dan Aku Lupa 0

Dan Aku Lupa

Barusan aku sampai
Dari perjalananku
Teduduk dan kaku di sudut kamarku
Termenung
Merasakan denyut nadiku
Merasakan aliran nafasku
Merasakan dingin panas hawa-hawa yang selalu menemaniku

Bulan Putih 1

Bulan Putih

Bulan di langit, putih
Cembung bak mata dara Persia
Sebatang pohon meuraxa dalam syair tari meuseukat terukir di sana

Gadis Cilik Bergaun Merah Muda 1

Gadis Cilik Bergaun Merah Muda

Senja tadi kulihat seorang gadis cilik.
Masih setia bersama gaun, agenda dan pena merah mudanya.
Wajahnya sedikit tertawa, tapi hampa.
Ia masih berharap mimpinya.