FLP Sigli Adakan Bedah Cerpen di Sekretariat Baru

flpsigli

Sigli-Setelah resmi dibuka kembali tanggal 1 Mei 2014 silam, FLP Sigli mulai menunjukkan geliatnya dengan melakukan kegiatan kelas menulis cerpen, Jum’at (06/06/14) di Rumah Cahaya baru FLP Sigli. Dalam kegiatan rutin mingguan ini, FLP Sigli mengundang dua cerpenis terbaik kota Sigli untuk membedah cerpen para anggota FLP Sigli yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Para cerpenis ini adalah Firdaus Yusuf dan Musmarwan Abdullah.

Firdaus Yusuf dalam memaparannya menjelaskan perbedaan fiksi dan non-fiksi.

“Misalnya sebuah rumah terbakar itu fakta (non-fiksi). Tapi fiksi bisa menggali lagi khayalan-khayalan yang tidak bisa dibuat di karya nonfiksi, kalau belum ditulis, itu masih fakta tapi kalau sudah masuk teks, itu sudah bisa ditafsirkan macam-macam.” Demikian beliau menjelaskan.

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa fiksi tak selamanya tentang khayalan. Beliau mencontohkan tentang literatur yang ditulis Colombus memaparkan bahwa bangsa Indonesia sangat ramah dan eksotis, makanya bangsa barat tertarik untuk datang dan menjajah Indonesia. Jika seandainya Colombus menulis bangsa Indonesia ganas dan memakan manusia lain, maka tak ada yang mau mengambil rempah-rempah di Indonesia. Tak ketinggalan, beliau juga menjelaskan apa beda ‘author’ dan ‘writer’, ‘roman’ dan ‘novel’ serta beda ‘cerpen’ dan ‘berita’.

“Kelas fiksi itu lebih diatas sedikit dari berita, kalau berita tentang pencurian berita hanya bisa menjelaskan apa yang dicuri, bagaimana ditangkap polisi dan berapa tahun penjara hukumannya. Tapi fiksi bisa mendetilkan bagaimana sang pencuri masuk rumah, lewat mana, bagaimana perawakannya sampai bagaimana dialog batin pencuri dan flashback kehidupannya sebelum memilih jadi pencuri. Makanya sastra itu lebih hebat  dan lebih seru dari berita.” Demikian penjelasan penulis yang karyanya kerap terbit di Serambi Indonesia ini menutup sesi diskusinya.

Selanjutnya giliran Musmarwan menyampaikan materinya. Namun beliau mempersilakan kepada Edy Miswar, penulis kawakan Sigli yang juga merupakan tamu dari FLP Sigli. Penulis yang berasal dari Lamlo ini menjelaskan bagaimana pentingnya penggunaan awalan “di” dan “ke” dalam tulisan kepada para pemula.

“Paragraf pertama dan kedua dalam karya harus asik dibaca. Juga penting dalam menulis kita  membuat plot yang meledak-ledak biar para pembaca copot jantungnya saat membaca karya kita.” Jelas Musmarwan.

Penulis yang juga guru bahasa Indonesia ini memberikan tips agar tulisan menarik. Salah satunya, memilih ide yang unik. Tulislah hal-hal yang tidak ditulis orang.

Acara ini berlangsung dari pukul tiga siang sampai setengah enam sore. Para peserta FLP Sigli sangat menikmati acara bedah cerpen ini dan berharap acara ini bisa rutin diadakan.(rip)

 

FLP Aceh

Author: FLP Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here